back

KEMBALI

Market Crash

Modoers

20 Desember 2022

Artikel Market Crash - Main Image.png

Sejak awal Desember, saham-saham Indonesia mengalami penurunan dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mencatatkan penurunan hampir 4% sehingga kinerja year-to-date menjadi 2,74% (15/12/22). IHSG saat ini berada di 6771 (15/12/22). Sebagai perbandingan, hanya 3 bulan sebelumnya yaitu di bulan September, IHSG mencapai level di atas 7300. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan koreksi pasar yang cukup signifikan ini?

Salah satu hal yang memicu penurunan di pasar saham adalah kinerja negatif yang dialami GOTO saat ini. Sebagai latar belakang, GOTO atau PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. merupakan perusahaan teknologi terbesar yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia). GOTO pertama kali tercatat di BEI pada saat IPO 11 April 2022 yang lalu, dan baru saja mengakhiri periode lock-up pada 30 November 2022. Menjelang berakhirnya periode lock-up, saham GOTO mengalami tekanan harga. Namun, peneliti pasar termasuk Deutsche Bank masih menganggap saham GOTO undervalued. Meski demikian, terlepas dari analisis positif seputar saham ini, ketika saham tersebut dapat diperdagangkan pada akhir periode lock-up, nilainya anjlok secara signifikan dan sekarang diperdagangkan pada titik terendah sepanjang masa. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari 118 triliun, GOTO menduduki peringkat kelima saham terbesar di IHSG dengan bobot 4,23%. Nilai saham GOTO anjlok lebih dari 70% dari nilai IPO-nya dan mengingat bobotnya yang besar pada indeks, jatuhnya harga saham ini sayangnya telah meruntuhkan seluruh kinerja IHSG.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa dua perusahaan publik besar lainnya dengan bobot signifikan di IHSG juga tunduk pada kinerja negatif GOTO. ASII atau PT Astra International TBK dan TLKM atau PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yang merupakan saham blue chip berkapitalisasi besar, juga memiliki eksposur terhadap GOTO dalam bentuk investasi. Eksposur ini tercermin dari kinerja negatif yang dialami kedua saham tersebut. Sekali lagi, karena kedua perusahaan ini memiliki bobot yang signifikan di IHSG, kinerja negatif mereka menekan seluruh indeks.

Beralih dari teknologi, kini kita melihat sektor keuangan yang juga mengalami beberapa koreksi di bulan ini. Namun, sifat koreksi ini berbeda dengan yang telah kita bahas di atas. Dimana masalah kinerja negatif di atas sebagian besar bersifat sektoral, koreksi sektor keuangan lebih disebabkan dari aksi jual untuk mengambil untung, terutama dari investor asing. Koreksi harga saham-saham perbankan besar bukan karena faktor fundamental yang goyah atau sentimen negatif. Sebaliknya, karena saham-saham ini berkinerja baik, investor turut merealisasikan profitnya.

Seperti yang dapat dilihat di bawah ini, sektor keuangan mencatat net sell sebesar 7 triliun rupiah selama bulan Desember. Namun, ketika kita melihat secara YTD (Year To Date), kita akan menemukan bahwa sektor keuangan mencatat pembelian bersih yang solid sebesar 24 triliun. Hal ini membuktikan bahwa investor sangat percaya pada sektor ini.

Jadi, apa artinya ini bagi investor? Bagaimana menerjemahkan ulasan di atas menjadi strategi investasi? Penting untuk dicatat, bahwa koreksi pasar tidak selalu merupakan hal yang buruk. Sebelum bereaksi dengan panik menjual, penting untuk terlebih dahulu mempertimbangkan alasan di balik mengapa koreksi pasar terjadi. Hanya setelah mengetahui penyebab masalahnya bisa seorang investor dapat membangun strategi yang cerdas.

Seperti yang sudah kita bahas, penurunan kinerja saham ini disebabkan oleh dua hal: exposure negatif di sektor teknologi dan aksi profit taking di sektor keuangan. Kedua masalah ini lebih menjadi penyebab utama kekhawatiran dibandingkan kondisi ekonomi makro atau ketakutan akan resesi. Dengan demikian, investor dapat memanfaatkan harga yang lebih rendah di sektor keuangan untuk membeli apa yang biasanya dijual dengan harga premium. Kita tahu bahwa bank-bank besar adalah saham yang solid dengan fundamental yang bagus untuk investasi jangka panjang. Investor yang ingin menerapkan strategi ini dapat mempertimbangkan beberapa reksa dana dengan fokus pada saham kapitalisasi besar. Beberapa pilihan reksa dana tersebut adalah BNP Paribas Sri Kehati, Allianz Sri Kehati Index Fund, dan Batavia Dana Saham. Produk-produk tersebut tersedia di platform Moduit.

Investasi Sekarang