Weekly Perspective – Principal Asset Management

Did You Know?

Apparel retailer FOREVER 21 is filling for Chapter 11 Bankruptcy Protection

Forever 21 mengajukan status bangkrut di federal court hari Minggu lalu. Retailer busana ternama tersebut disinyalir memiliki kewajiban antara $1-10 miliar. Pengajuan Chapter 11 ini memperbolehkan perusahaan untuk tetap beroperasi sambil berupaya membayar utang. Saat ini, Forever 21 telah mendapatkan pendanaan $275 juta dari JP Morgan, Chase & Co, serta $75 juta dari TPG Sixth Street Partners. Forever 21 didirikan pada tahun 1984 di LA, berkembang menjadi retailer busana terkemuka dengan lebih dari 800 outlet terbesar di seluruh dunia. Kompetitornya termasuk Zara, H&M, dan Amazon.com.

 

Things You Can’t Ignore This Week

Global

  • Trade Play Card: China Investment LImit. Pasar kembali terguncang oleh perkembangan trade tension dimana pemerintahan Trump akan membatasi aliran dana investasi AS ke Tiongkok. Terdapat wacana juga bahwa mereka akan melakukan delisting perusahaan Tiongkok di bursa efek AS. Top 5 perusahaan dari negeri tirai bambu yang mencatatkan sahamnya di AS adalah: Alibaba ($460 miliar), JD.com ($44 miliar), Pinduoduo ($38 miliar), Baidu ($36 miliar), dan NetEase ($34 miliar).
  • China Factoring Outlook Improving? Aktivitas manufaktur Tiongkok mengalami peningkatan, ditunukkan oleh indeks PMI bulan September di level 49,8 (vs 49,5 di bulan Agustus). Kenaikan ini didorong oleh peningkatan di pesanan baru (new orders) dan belanja infrastruktur. Meskipun demikian, indeks di bawah level 50 mengindikasikan kontraksi.

Domestic

  • Pertumbuhan loan growth bulan Agustus mencapai 8,6% YoY. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), loan sektor perbankan tumbuh 8,6% YoY di bulan Agustus, yakni deselerasi dibandingkan pertumbuhan 9,6% YoY di bulan Juli. Hal tersebut masih ditopang oleh pertumbuhan segmen investment loan yakni sebesar 12,8% YoY. Namun, untuk pertumbuhan deposit masih di bawah sekitar 7,6% YoY.
  • Kementrian Perdagangan menetapkan pajak ekspor CPO dan biji kakao sebesar 0%/ton dan 5%/ton. Gapki menyatakan bahwa pajak yang tidak berubah akan terus menantang bisnis hilir domestik karena importir lebih suka mengimpor minyak mentah Indonesia (daripada produk dengan margin tinggi lainnya). Namun pajak diperkirakan akan diterapkan pada Januari 2020, dengan asumsi program B30 sudah dimulai.

 

The Next Big News are

  • Inflasi dan Consumer Confidence Index Membaik? Minggu ini kita akan menunggu keluarnya angka inflasi untuk bulan September dan juga angka Consumer Confidence Index yang akan diumumkan minggu ini. Angka-angka tersebut akan mengawali kuartal keempat tahun ini yang diharapkan menjadi kuartal andalan setelah kuartal ketiga yang tampaknya masih lesu.
  • Aktivitas Demonstrasi Meningkat Menjelang Pelantikan Presiden? Aktivitas demonstrasi yang telah dimulai dari minggu akhir bulan September, tampaknya akan semakin marak menjelang pelantikan Presiden tanggal 20 Oktober. Kondisi politik yang memanas ini dikhawatirkan juga akan mempengaruhi sentimen perdagangan pasar modal.

 

Implication To Our Strategy

  • When Rate Cut Meet the Expectation… Ekspektasi pasar modal terhadap diturunkannya suku bunga The Fed dan BI, terealisasi minggu lalu. Bursa saham yang telah memasuki kondisi tersebut dalam prediksinya pun, bereaksi netral. Diperkirakan minggu ini pasar akan bergerak volatile karena kurangnya katalis positif.
  • Portofolio saham tidak banyak bisa bermanuver dari kondisi yang penuh ketidakpastian, ditambah lagi dengan sektor konsumsi yang terpuruk akibat saham Gudang Garam dan HM Sampoerna yang mengalami penurunan tajam akibat kenaikan cukai rokok. Aktivitas lebih banyak dilakukan pada alokasi aset, dimana pendapatan tetap dan pasar uang lebih menawarkan stabilitas dibandingkan saham saat ini.

 

Trading Corner

Equity Market

  • IHSG tutup di Level 6.197, turun -0,55% WoW epanjang perdagangan minggu lalu. Kepemilikan asing turun sebesar Rp 1,9 triliun (USD 134 juta). Sektor yang mengalami kenaikan hanya terjadi pada Aneka Industri (+0,59%) dan Infrastruktur (+0,22%), sedangkan pelemahan terbesar dialami oleh Pertambangan (-3,19%), Industri Dasar (-3,18%) dan Agrikultur (-1,29%).

Bonds Market

  • Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Ditutup di 7,31%. SUN 10 tahun mengalami kenaikan yield sebesar 7bps sepanjang minggu lalu. Sementara itu, yield Indo USD 9 tahun naik 6 bps ke level 3,03% bertolak dengan penurunan yield US Treasury 4 bps ke level 1,68%.
  • Foreign Investor: Keep Buying. Kita masih melihat investor asing melanjutkan aski beli bersih sebesar Rp 2.0 triliun pada obligasi pemerintah Indonesia minggu lalu. Hal ini membawa kepemilikan asing di level 38,6%. BINDO Index terkoreksi tipis +0,19% week on week.

 

 

Sumber: PT. Principal Asset Management

Share: