Weekly Perspective – Principal Asset Management

Did You Know?

Overnight Repo Rate US Sempat Capai 8,25%!

Overnight Repo Rate di US sempat meloncat ke level tertinggi sepanjang 2019 di 8,25% minggu lalu. Banyak spekulasi penyebab lonjakannya, namun belum ada yang konkret. Kenaikan Repo Rate merupakan indikasi ketatnya likuiditas pasar keuangan oernight. Repo (Repurchase Agreement) merupakan suatu perjanjian antara 2 pihak (salah satunya Bank Sentral) untuk memberi pinjaman dengan kolateral beberapa instrumen hutang seperti obligasi negara. Hal ini membuat the Fed intervensi dengan Open Market Operation sebesar USD 75 bn (Rp 1.050 trn) untuk memastikan kecukupan likuiditas dan menjaga FFR di kisaran 2-2,25%.

 

Things You Can’t Ignore This Week

Global

  • Playing Hard to Get? Kementrian Perdagangan China menyatakan hasil pertemuan antara AS-China minggu lalu sangat konstruktif, dengan kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan diskusi. Namun, perwakilan China membatalkan kunjungan ke beberapa daerah agrikultur di AS yang mengurangi harapan bahwa China akan kembali membeli barang pertanian AS yang sudah dihentikan semenjak April.
  • Lower FFR 25 bps, What’s Next? Sesuai ekspektasi pasar, the Fed menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi kisaran 1,75-2,00%. Forecastdot-plot” menunjukkan tidak adanya forecast untuk penurunan suku bunga di 2019-2020, dibanding 25 bps penurunan suku bunga dari ekspektasi pasar. Dengan berbagai banyak faktor seperti implied yield curve, penurunan ekonomi global dan tuntutan dari Donald Trump, akan menarik untuk melihat langkah the Fed selanjutnya.

Domestik

  • Bank Sentral Relaksasi Kebijakan Moneter. Bank Indonesia untuk ketiga kalinya di tahun ini memangkas suku bunga acuan 7-DRR ke level 5,25%. Sementara itu, deposit facility dan lending facility juga diturunkan masing-masing menjadi 4,5% dan 6%. Kebijakan ini konsisten dengan inflasi kita yang masih rendah, tingkat imbal hasil aset Indonesia yang masih menarik, serta langkah pre-emptive BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. BI juga merelaksasi aturan LTV untuk properti dan kendaraan bermotor.
  • Target 1.000 KM tercapai! Kementrian PUPR mengemukakan bahwa target pembangunan jalan tol baru sepanjang 1.000 km akan tercapai. Pembangunan ini merupakan bagian dari rencana strategis 2015-2019. Sejak 2015, terdapat 20 ruas tol baru yang dioperasikan, termasuk ruas tol terkenal seperti: Semarang-Solo (73 km); Ngawi-Kertosono (90,1 km); dan Bakauheni-Terbanggi Besar (140,9 km).

 

The Next Big News Are…

  • Politik Memanas Menjelang Pengumuman Kabinet Baru. Menjelang pelantikan Presiden dan pengumuman kabinet baru, situasi politik cukup memanas terutama karena reaksi keras datang dari masyarakat terhadap beberapa RUU yang dipandang kontroversial. RUU yang menjadi sorotan yaitu RKUHP dan Revisi UU KPK. Selain itu, kebakaran hutan yang masih berlangsung di beberapa tempat kembali menjadi bahan sorotan negatif. Beberapa kelompok masyarakat menginisiasi protes di beberapa tempat dan termasuk juga pada media sosial.
  • Susunan Kabinet Baru akan Menjadi Perhatian Besar. Susunan kabinet menteri yang baru akan diumumkan setelah pelantikan Presiden pada 20 Oktober 2019. Sebelum tanggal itu, semestinya bursa nama-nama menteri akan mulai beredar. Investor sangat menunggu nama-nama yang sedianya membawa angin segar pada investasi di Indonesia. Banyaknya agenda yang harus diselesaikan dalam rangka mempermudah iklim bisnis Indonesia seperti hukum tenaga kerja, insentif pajak, serta perampingan birokrasi, menjadi agenda utamanya.

 

Implication to Our Strategy

  • When Rate Cut Meet the Expectation.. Ekspektasi pasar modal terhadap diturunkannya suku bunga the Fed dan BI terealisasi minggu lalu. Bursa saham yang telah memasukkan kondisi tersebut dalam prediksinya pun, bereaksi netral. Diperkirakan minggu ini pasar akan bergerak volatile karena kurangnya katalis positif.
  • Portfolio saham tidak banyak bisa bermanuver dari kondisi yang penuh ketidakpastian, ditambah lagi dengan sektor konsumsi yang terpuruk akibat saham Gudang Garam dan HM Sampoerna yang mengalami penurunan tajam akibat kenaikan cukai rokok. Aktivitas lebih banyak dilakukan pada alokasi asset dimana pendapatan tetap dan pasar uang lebih menawarkan stabilitas dibandingkan saham saat ini.

 

Trading Corner

Equity Market

  • IHSG Tutup di Level 6.231, turun -1.6% WoW minggu lalu, dimana adanya aksi penjualan di saham rokok seperti HMSP (-16,7%) dan GGRM (-20%) juga adanya FTSE rebalancing. Kepemilikan asing turun sebesar Rp 3 triliun (USD 207 juta). Sektor yang mengalami kenaikan signifikan termasuk infra (+2,63%); Agrikultur (+0,56%); dan Konstruksi (+0,35%), sedangkan sektor yang mengalami penurunan adalah Konsumer (-5,99%); Industri Dasar (-2,03%) dan Aneka ragam (-2,50%).

Bonds Market

  • Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Ditutup di 7,25%. SUN 10 tahun mengalami kenaikan yield sebesar 5 bps sepanjang minggu lalu. Sementara itu, Yield Indo USD 9 tahun naik 4bps ke level 2,97% bertolak dengan penurunan yield US Treasury 17bps ke level 1,72%.
  • Foreign Investor: Keep Buying. Kita masih melihat investor asing melanjutkan aksi beli bersih sebesar Rp 1,6 triliun pada obligasi pemerintah Indonesia minggu lalu. Hal ini membawa kepemilikan asing di level 38,7%. BINDO Index menguat tipis +0,08% week on week.

 

Sumber: PT Principal Asset Management

Share: