Strategi Investasi: Dollar Cost Averaging vs Lump Sum

Hi Moduers,

Kamu sudah dibekali dengan banyak pengetahuan terkait dengan investasi melalui artikel-artikel yang di publikasi di website Moduit. Dari mencari tahu profil risiko sebelum berinvestasi, mengenali instrumen investasi hingga pentingnya berinvestasi sejak dini. Sekarang adalah saatnya untuk praktik berinvestasi langsung melalui genggaman tangan kamu! Ya, kamu dapat berinvestasi dengan mudah dan nyaman hanya di genggaman tangan melalui aplikasi Moduit. Bagi yang belum mengunduh aplikasinya, yuk langsung ketik ‘Moduit’ di Play Store atau App Store yang tersedia di smartphone kamu.

 

Jadi, penting untuk kamu memilih strategi berinvestasi sebelum memulai. Di artikel kali ini, kita akan mendiskusikan dua strategi berinvestasi yang cukup sering disebutkan dalam berinvestasi Reksa Dana, Dollar Cost Averaging (DCA) dan Lump Sum. Apakah Moduers sudah pernah mendengar kedua strategi ini? Simak terus artikelnya ya.

 

 

Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum

Strategi DCA merupakan salah satu strategi berinvestasi dengan cara menyisihkan dana untuk diinvestasikan secara berkala. Nominal investasi boleh sama ataupun berbeda di setiap periode investasi, namun pada umumnya dana nya diinvestasikan di produk yang sama. Periode untuk strategi DCA juga dapat tergantung masing-masing individual, ada yang setiap minggu ataupun setiap bulan. Berbeda dengan strategi DCA, lump sum merupakan strategi berinvestasi dengan cara mengumpulkan dana terlebih dahulu lalu dana yang sudah tersebut akan diinvestasikan sekaligus di satu waktu dalam suatu produk investasi.

 

Risiko

Penting bagi kamu untuk mengerti risiko sebelum berinvestasi. Selain risiko produk, strategi yang kamu pilih juga memberikan risiko yang berbeda. Investor pemula dianjurkan untuk menerapkan strategi DCA dikarenakan strategi ini dapat membantu meminimalkan risiko berinvestasi. Bagaimana bisa?

 

Hal ini dikarenakan dalam strategi DCA, kamu berinvestasi di periode yang berbeda-beda yang artinya dalam kondisi pasar yang berbeda-beda juga. Seperti yang kamu ketahui, kondisi pasar modal cukup bervariasi sehingga cukup sulit untuk menebak arah pasar. Dengan berinvestasi secara berkala di periode yang berbeda-beda, kamu telah mendiversifikasikan risiko investasi kamu. Lain hal nya dengan berinvestasi dengan cara lump sum dimana kamu menginvestasikan semua danamu dalam satu periode saja.

 

Contoh Skenario

Agar dapat lebih memahami kapan adalah waktu yang tepat untuk mengaplikasikan strategi DCA maupun lump sum, ada baiknya kita mengambil contoh kondisi pasar dalam dua kondisi berbeda: trend naik dan trend turun.

 

Tahun 2008 – trend turun (bearish)

Di tahun 2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -51% selama setahun. Mari kita bandingkan hasil dari kedua strategi investasi. Apabila kamu menggunakan strategi lump sum dalam kondisi ini dan menginvestasikan total Rp 120 juta sekaligus di awal periode investasi selama satu tahun, nilai investasi kamu akan mengalami penurunan sebesar -51% dan menjadi sekitar Rp 59 juta. Namun, apabila kamu berinvestasi dengan strategi DCA dan menginvestasikan uangmu setiap bulan sebesar Rp 10 juta, maka nilai investasi kamu di akhir periode mengalami penurunan sebesar -34% atau Rp 79 juta. Dalam kondisi ini, strategi DCA dapat mengurangi risiko menurunnya nilai investasi kamu sebesar kurang lebih 17%.

 

Tahun 2014 – trend naik (bullish)

Namun, apakah hasil dari skenario dimana pasar mengalami penurunan juga sama apabila pasar mengalami trend naik? Mari kita uji coba dengan mengambil contoh tahun 2014 dimana pasar mengalami kenaikan sebesar 22%. Apabila kamu menggunakan strategi lump sum dan menginvestasikan total Rp 120 juta di awal periode investasi selama setahun, nilai investasi kamu akan mengalami kenaikan sebesar 22% dan menjadi sekitar Rp 146 juta. Namun, apabila kamu berinvestasi dengan strategi DCA dimana kamu menginvestasikan danamu setiap bulan sebesar Rp 10 juta, maka nilai investasi kamu di akhir periode mengalami kenaikan sebesar 8% menjadi sekitar Rp 129 juta.

 

Dengan kedua contoh skenario di atas, dapat dilihat bahwa kedua strategi memiliki keuntungannya masing-masing dalam kondisi pasar tertentu. Jadi, Moduers dapat memilih strategi berinvestasi yang paling sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu investasi Moduers sendiri. Yang paling penting adalah, terlepas dari strategi manapun yang Moduers pilih, Moduers harus tetap berinvestasi.

 

Namun, menebak arah pasar merupakan hal yang tidak mudah dan dibutuhkan keahlian untuk dapat melakukan hal tersebut. Maka dari itu, bagi investor pemula disarankan untuk menggunakan strategi DCA untuk dapat mengurangi risiko investasi dan mendapatkan keuntungan dari kondisi pasar di setiap periode. Ditambah lagi, apabila kamu mengumpulkan dananya terlebih dahulu untuk diinvestasikan sekaligus, ada tantangan yang lebih besar: keinginan belanja! Jadi yuk, lebih baik mulai sisihkan danamu dan langsung diinvestasikan secara berkala dengan strategi DCA.

 

 

#SalamModuit

Share: