Weekly Perspective – Principal Asset Management

Things You Can’t Ignore This Week

Global

Tit for Tat Reaction: Getting Hotter!
Minggu lalu, China memutuskan untuk menerapkan tarif sebesar 510% terhadap USD$75 miliar impor barang konsumen dari USA secara bertahap pada tanggal 1 September 2019 dan 15 Desember 2019. China juga menerapkan 25% tarif terhadap impor kendaran dari USA. Sebagai retaliasi, USA memutuskan untuk menaikan tarif USD$250 miliar impor dari China menadi 30% dari 25% dan juga menaikan tarif USD$300 miliar yang sebelumnya 10% menjadi 15%.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell memastikan untuk menjaga ekspansi ekonomi USA tetap berjalan dan mengakui bahwa perang dagang menjadi salah satu faktor penyebab perlambatang pertumbuhan global. Powell juga menyatakan bahwa kebijakan moneter tidak bisa menjadi alat untuk perdagangan internasional. Pasar menilai pernyataan Fed ini mengindikasikan ke depan Fed tidak akan terlalu agresif untuk menurunkan suku bunga.

Domestic

Bank Indonesia Kejutkan Pasar Dengan Pangkas Suku Bunga menjadi 5,5%, diluar ekspektasi ekonom yang memprediksi unchanged. BI juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4,75% dan lending facility 6,25%. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan agar dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter yang ekspansif dan akomodatif.
Sektor perbankan catatkan total pertumbuhan pinjaman sebesar +9,9% YoY (+3.3% YTD) dimana sektor infrastruktur menjadi salah satu penopang, tumbuh sebsar +12,3% YoY. Namun, total deposito tumbuh hanya +7,4% YoY (+3% YTD). Kualitas aset masih cukup baik dengan rasio NPL turun 11bps MoM menjadi 2,5% dan ratio likuiditas (LDR) juga turun 12bps MoM menjadi 94,3%.

 

The Next Big News Are…

Rebalancing China masuk dalam perhitungan MSCI akan kita lihat minggu ini. Apakah Fund Manager telah melakukan penyesuaian jauh-jauh hari sebelumnya atau menunggu di hari H? Peristiwa ini akan menyebabkan berkurangnya porsi negara-negara lain secara proporsional hingga porsi akhir China akan mencapai 2,46% pada MSCI Emerging Market. Kita memperkirakan akan terjadi volatilitas hingga menjelang efektivitas indeks tesebut pada tanggal 27 Agustus.
Sector Hunting! Menyusul rencana akan dipindahkannya ibu kota ke daerah Kalimantan Timur, banyak pihak mulai berspekulasi mengenai sektor atau perusahaan yang akan diuntungkan oleh aktivitas yang diperkirakan bisa menelan anggaran hingga Rp500 triliun ini. Sektor konstruksi, properti,dan semen tampaknya menjadi favorit perbincangan.

 

Implication To Our Strategy

• Menjelang akhir bulan Agustus, menunggu rebalancing MSCI, posisi defensive portfolio masih dipertahankan. Pasar saham masih diperkirakan akan sideways dengan aktivitas minimal. Aset alokasi masih dipertahankan berimbang pada kas, saham, dan obligasi yang kecenderungan beberapa saat terakhir cukup berat pada obligasi.
• Menyusul dipangkasnya suku bunga oleh BI minggu lalu, mengkonfirmasi pilihan saham portfolio yang lebih memilih sektor-sektor yang sensitif terhadap penurunan suku bunga. Namun demikian hampir semua saham perbankan, beberapa saham sektor konsumsi, sektor properti, malah mengalami penurunan seiring penurunan indeks minggu lalu. Namun kami masih memiliki outlook positif terhadap sektor-sektor tersebut dalam jangka waktu pendek-menengah di depan.

 

Trading Corner

Equity Market

Waiting on further catalyst. IHSG tutup di level 6.256 turun -0,49% WoW minggu lalu dimana market menunggu catalyst dari arahan kebijakan moneter the Fed. Kepemilikan asing turun sebesar Rp1,5tr (USD109mn). Sektor yang mengalami kenaikan signifikan termasuk Aneka Industri +0,53%, Industri Dasar +0,40% dan Infra +0,78% sedangkan yang mengalami penurunan yaitu Pertambangan -1,34%, Agrikultur -1,18% dan Keuangan -1,14%.

Bonds Market

UST yield tutup di 1,54%. SUN 10 tahun mengalami penurunan yield sebesar 18bps ke 7,24% sepanjang minggu lalu. Sementara itu, Yield Indo USD 9 tahun naik 5bps ke level 3,04%, sedangkan yield US Treasury10 tahun turun sebesar 2bps ke 1,54%.
Further Foreign Ownership Hike. Asing mencatatkan inflow sebesar Rp3,2bio pada obligasi pemerintah minggu lalu, hal ini membawa kepemilikan asing naik ke level 38,5%. BINDO naik 0,78% week on week.

 

Disusun oleh: PT. Principal Asset Management

Share: