Pentingnya Peran Psikologi Dalam Berinvestasi

Hai, Moduers!

Selama ini, kamu sudah sering baca buku tentang investasi? Sering ikut webinar tentang reksa dana? Bahkan kamu juga beli produk investasi rekomendasi influencer? Tapi portofolio investasi kamu masih belum berkembang juga? Kira-kira kenapa ya?

Yuk, coba cari tahu dulu di artikel ini.

Peran Besar Psikologi dalam Berinvestasi

Moduers, ketika berinvestasi, kita tidak hanya membicarakan tentang strategi, tetapi juga perlu mempelajari psikologi dalam berinvestasi. Alasannya, menurut Dr. Van K. Tharp, seorang psikolog profesional dan trader coach, ada 3 faktor yang berperan dalam menentukan kesuksesan berinvestasi dengan bobot kepentingan sebagai berikut, penguasaan emosi (psychology) 60%, pengaturan uang (money management) 30%, dan strategi trading sebesar 10%. Yang artinya, psikologi manusia memainkan peran yang sangat besar dalam kesuksesan berinvestasi.

Kesuksesan Berinvestasi

 

Otak Emosional Manusia dan Persepsi yang Diciptakan

Pada dasarnya, dalam otak manusia terdapat bagian yang bernama limbic system atau otak emosional yang seringkali membentuk persepsi-persepsi berikut:

1. Mempercayai suatu hal karena hal itu juga dipercayai oleh banyak orang.

2. Mengambil keputusan dengan data yang minim dan bergantung pada rekomendasi teman atau keluarga.

3. Menunda mengambil keputusan dalam berinvestasi karena menganggap bahwa informasi tambahan sekecil apapun dapat membuat keputusan berinvestasi menjadi lebih baik (bias informasi).

4. Menahan keuntungan dan tidak ingin menerima kerugian sehingga membiarkan kerugian semakin besar.

5. Menghindari kerugian dan mencari kentungan.

Dengan atau tanpa kamu sadari, persepsi-persepsi di atas merupakan buah dari akar rasa takut (akan kerugian) dan keserakahan dalam mendapatkan keuntungan. 

Misalnya karena ingin cepat kaya (serakah), kamu mempercayakan uangmu kepada sebuah institusi keuangan yang juga dipercayai oleh banyak orang dapat menghasilkan keuntungan investasi dalam waktu singkat dan tanpa risiko. Selain itu, kamu juga tidak mencari informasi lebih lanjut tentang institusi keuangan tersebut karena hal itu juga direkomendasikan oleh teman atau keluargamu. Sehingga tanpa kamu sadari, kamu telah mempercayakan uangmu kepada institusi ilegal yang menipu. Alih-alih mendapatkan keuntungan, kamu malah menjadi rugi karena keserakahan dan ketidaktahuanmu.

Kerugian dalam berinvestasi juga dapat terjadi ketika kamu merasa takut (yang berlebihan) akan kerugian. Kerugian itu bisa berupa kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan karena takut mulai berinvestasi atau kerugian karena tidak berani menjual aset yang nilainya telah merugi sehingga nilai kerugiannya semakin besar.

Misalnya, kamu menginvestasikan dana pernikahanmu untuk sepuluh tahun ke depan pada saham. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu, kamu menyadari bahwa ternyata saham pilihanmu tidak memiliki kinerja yang baik sehingga investasimu terus merugi. Mengetahui fakta itu, alih-alih kamu segera menjual kembali dan memindahkan dana pernikahanmu ke saham lain atau ke instrumen investasi yang lain, kamu lebih memilih untuk membiarkan dana pernikahanmu di saham tersebut dengan harapan nilai investasinya bisa naik, yang mana kemungkinannya kecil terjadi.

Tips Psikologi dalam Berinvestasi

Persepsi atau bias-bias psikologi yang ditimbulkan oleh otak emosional manusia merupakan hal yang normal, sehingga kamu tidak perlu terlalu takut menghadapinya. Untuk mengambil keputusan investasi yang rasional kamu perlu menyadari bahwa persepsi atau bias psikologi itu ada dan bisa dikendalikan. Caranya?

1. Pahami bahwa berinvestasi bukanlah cara untuk menjadi kaya secara instan, sehingga tidak perlu menjadi serakah.

2. Kenali juga bahwa investasi tidak seberbahaya itu jika kamu mengenali instrumen investasi dan risikonya.

Risk comes from not knowing what you’re doing. – Warren Buffet.

3. Belajar dan selalu pertanyakan informasi atau rekomendasi yang kamu terima dari mana pun.

4. Saat ingin mengambil keputusan, pastikan kamu tidak sedang diliputi oleh emosi baik itu rasa senang, sedih, marah, dan lain-lain. Selalu ambil keputusan berdasarkan fakta dan data menggunakan logika.

Kira-kira kamu pernah mengalami bias psikologi dalam berinvestasi nggak, Moduers? 

Salam Moduit!

Share: