Cerita Moduers – Mengenal Pasar Saham

Sejak empat tahun yang lalu saya sudah mulai tertarik dengan yang namanya pasar saham. Sebenarnya tahu kata saham pertama kali sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Namun sayangnya yang aku dengar antara lain seperti ini saham itu judi, saham itu bisa bikin bangkrut, saham itu berbahaya, kalau investasi saham harus siap untuk rugi. Biasanya yang berinvestasi saham itu harus terjaga sepanjang malam dan harus selalu di depan layar komputer. Sayangnya itu sama sekali tidak benar ternyata. Tergantung bagaimana cara pandang, dari sudut perspektif mana kita melihat dan juga tergantung dari cara kita untuk berinvestasi. Bila kita berinvestasi secara asal-asalan, ya kita harus siap untuk rugi. Bila kita berinvestasi di pasar modal asing ya kemungkinan kita harus mengecek market di malam hari karena perbedaan waktu. Jadi ternyata tidak semua yang aku dengar itu betul.

 

Katanya harus ada modal paling tidak ratusan juta untuk berinvestasi. Sayang itu juga lagi-lagi tidak betul, ternyata dengan modal minim mulai dari 10 juta atau bahkan kurang saat ini kita sudah bisa berinvestasi di pasar modal. Nah sejak empat tahun lalu aku mengenal beberapa teman yang menjadi investor. Aku mulai tertarik dengan yang namanya pasar modal. Sayangnya aku belum menemukan mentor dan belum menemukan panduan yang tepat untuk belajar. Mungkin aku yang kurang usaha.

 

Di tahun 2018 aku makin penasaran dengan yang namanya pasar modal karena aku melihat teman-temanku yang berinvestasi itu hasilnya cukup baik selain itu mereka juga punya waktu lebih. Awalnya aku tidak paham apa yang mereka bicarakan bahkan kode-kode saham (BB*I, BB*A, dll), seperti kode morse di telingaku. Akhirnya aku mulai bertanya ke kanan dan ke kiri. Menanyakan bagaimana cara berinvestasi di pasar modal. Ya sayangnya sih 9 dari 10 menjawab “Hey jangan, itu judi, itu merugikan, itu berbahaya, uangmu bisa hilang”. Semua jawaban mengecewakan. Ya sebenarnya tidak heran karena mereka sempat mengalami kerugian di pasar saham. Tapi setelah kutelusuri, penyebabnya karena mereka asal mencoba berinvestasi tidak belajar sebelumnya.

 

Akhirnya aku mencoba bertanya kepada yang lain, siapa tahu mungkin aku salah bertanya. Meskipun aku bertanya kepada yang sudah pernah berinvestasi mereka cuma berkata “Buat apa kamu berinvestasi di pasar saham, hati-hati lho nanti uangmu hilang”, padahal mereka berinvestasi. Aku jadi semakin tidak mengerti. Aku datang kepada mereka yang cukup sukses berinvestasi dan bertanya bagaimana caranya mengerti pasar saham ini tapi aku tidak mendapat jawaban, mereka tidak memberikan pencerahan padaku sedikitpun.

 

Karena merasa sudah mentok akhirnya aku mencari cara lain yaitu dengan belajar sendiri. Aku sempat mengikuti sesi seminar salah satu konglomerat saham dan mulai membaca buku yang disarankan beliau. Dari sesi itu aku cukup mendapat pencerahan rasanya seperti ada titik terang di tengah kegelapan. Aku mulai membaca satu buku yang disarankannya. Kemudian aku juga mengikuti seminar kedua di tahun 2019 dan mulai membaca buku lainnya. Sebenarnya langkahku ini ditertawakan oleh banyak orang. Namun, ya sudahlah, setiap orang punya pandangan dan persepsi, serta caranya sendiri-sendiri. Setidaknya dibanding 2 tahun lalu, aku jauh lebih mengerti tentang saham.

 

Aku mulai membuka akun saham di awal tahun 2020. Yah sebenarnya masih terlalu dini untuk berbagi, karena akupun masih pemula. Namun karena aku percaya pada seseorang yang mendorongku untuk berbagi, aku mulai menulis artikel-artikel ini. Back to the topic. Aku mulai memberanikan diri untuk membeli saham pertamaku, salah satu saham yang baru saja IPO di tahun 2020. Saat itu aku bahkan tidak tahu caranya membeli dan menjual saham. Apa itu bid dan offer aku tidak mengerti. Sehingga asal klik saja. Alhasil setelah pembelian berhasil, dan saham yang aku pilih naik banyak, aku tidak berhasil menjualnya alias terjadi cut profit (profit berkurang dari yang seharusnya dicapai). Dari yang harusnya untung 50% menjadi hanya untung 25%. Cukup baik sih untuk pemula seperti aku, tapi jelas kurang memuaskan. Kalau kata temanku ini namanya just beginner luck, tapi bagiku bukan, karena ada pertimbangan tersendiri kenapa aku memilih saham tersebut dan yakin sahamnya akan naik (meskipun, bisa saja aku ternyata keliru).

 

Setelah mendulang untung di saham pertama. Aku mulai melirik saham lainnya. Meskipun aku sudah belajar, ternyata yang aku pelajari masih minim sekali. Aku memang sudah bisa memilah mana perusahaan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan. Namun, ternyata list-nya masih cukup panjang, hampir 200 perusahaan, dimana kita tidak mungkin berinvestasi di 200 perusahaan sekaligus. Setelah kusaring tetap saja jumlahnya masih di angka 100 lebih, masih terlalu banyak. Merasa menemukan jalan buntu, aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri.

 

Sampai pada suatu titik, dimana akhirnya aku bisa memilah 200 perusahaan dengan “sangat cepat” (dibandingkan sebelumnya). Berarti kali ini aku tinggal membeli sahamnya saja. Tapi pada kenyataannya… meskipun aku pernah mengalami namanya rapot merah karena kredit macet di P2P, tetap saja warna merah pada saham membuatku sedikit kuatir dan tidak tenang. Aneh sekali pikirku, padahal awalnya aku cukup pede kalau aku siap menghadapi hal tersebut. Salah seorang mentor mengatakan bahwa itu hal yang wajar mengingat aku baru belajar. Yah seperti orang yang baru belajar menyetir mobil, mungkin awalnya tidak bisa, mungkin satu dua kali menyerempet, mungkin sedikit berdebar-debar, hal itu wajar karena aku belum terbiasa. Ada quote mengatakan “Practice makes perfect”. Yes, that’s right!

 

Pengalaman mendulang cuan di saham pertama, bukan berarti menandakan akan selalu cuan. Karena adanya Covid, portofolioku sempat hampir semua merah. Awalnya aku santai saja melihat portofolio kebakaran, bahkan sempat averaging down di salah satu saham, hingga akhirnya malah untung. Namun, berjalan dengan waktu aku banyak mendengar kata-kata, hati-hati jangan menangkap pisau jatuh, belum lagi keresahan dimana-mana, dan lagi bayang-bayang dari kasus The Great Depression 1929 menghantui, dimana saat itu nilai USD 1.000 yang diinvestasikan menjadi 170 USD, yah anggap saja tiap kita investasti 1 juta hasil nya 170 ribu, bukannya untung malah buntung…

 

Aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri, sayangnya ternyata aku kurang teliti, dimana aku bertanya pada orang yang “kurang tepat”, sehingga menghasilkan jawaban yang juga “kurang tepat”, hasil akhirnya juga “kurang tepat”. Yang awalnya pede, mulai ragu-ragu dengan keputusan diri sendiri karena terlalu banyak mendengarkan orang lain, sehingga aku tidak “take action”. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Philip A. Fisher melalui salah satu bukunya, bahwa “Menunda pembelian yang menarik karena ketakutan akan apa yang terjadi pada bursa saham, adalah kerugian besar”.

 

Apa yang kita pikirkan belum tentu benar terjadi, jadi berpikir positif sangatlah penting. Sayangnya aku mengalami kerugian yang cukup besar karena hal ini, yang aku tidak mau sebut jumlahnya untuk saat ini. Dan ini sempat membuat aku down serta menjauh dari bursa saham selama beberapa minggu lamanya, dan malah menyebabkan potential loss ku makin besar. Dari pengalaman ini aku mendapat pelajaran berharga untuk lebih percaya pada diri sendiri. Saat ini aku sedang mengumpulkan kepercayaan diriku untuk kembali berinvestasi dan I’ll be back very soon.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share: