Cerita Moduers – Pinjaman P2P dan Crowdfunding

Dunia investasi ternyata begitu luas. Sayang sekali kalau kita hanya mengenal kata menabung dan deposito. Dari investasi reksa dana aku mulai bertanya-tanya dan terus bertanya apa ada investasi lainnya yang bisa aku lakukan. Akhirnya aku menemukan investasi berbentuk asuransi yang sistemnya mirip dengan deposito tapi dengan bunga yang lumayan tinggi. Kekurangan investasi ini modalnya cukup besar di awal, tidak bisa kita mulai dengan hanya 10 juta, 1 juta, 100 ribu, apalagi cuma dengan 10 ribu seperti reksa dana. Masa penahanan dananya juga bervariasi dan ada yang cukup panjang hingga 1 tahun. Tapi akhirnya, setelah kupelajari, aku membulatkan tekad untuk mencoba. Kali ini aku cukup cepat mengambil keputusan, dan sudah lebih mantap, tidak bingung lagi seperti pertama kali aku berinvestasi.

 

Selama 1 tahun berinvestasi di sini hasilnya cukup bagus tapi aku tidak berhenti disitu, aku bertanya-tanya lagi barangkali ada juga jenis investasi lain yang bagus. Nah setelah mencari-cari aku menemukan yang namanya equity crowdfunding, sistem investasi dengan cara patungan bisnis, cukup menarik. Bayangkan kita bisa punya Indomaret atau mungkin kita bisa punya restoran, bisa juga punya tambak, bisa juga punya salon hanya dengan modal beberapa juta saja, wah keren banget pokoknya.

 

Aku mulai mempelajari bisnis tersebut untuk melihat apakah ini bisnis yang benar, bukan money game, apakah diawasi oleh OJK, bisnis apa yang kira-kira menguntungkan. Kalau di equity crowdfunding ini aku mesti lebih pintar memilih dan membaca laporan keuangan sederhana dan melihat proyeksi ke depan. Kekurangan investasi ini adalah karena bisnisnya belum jalan, ya selain keuntungan, kita bisa saja menderita kerugian bila ternyata bisnisnya gagal. Karena sudah cukup siap rugi, aku mulai mempelajari investasi tersebut.

 

Ada dua sektor yang cukup menarik buatku yaitu tambak dan ritel seperti minimarket. Sayangnya untuk minimarket sudah tutup dan kemungkinan tidak ada lagi untuk jangka waktu yang masih belum bisa ditentukan. Sedangkan bisnis tambak tampaknya selalu sold out dan aku selalu tidak kebagian, akhirnya aku mulai melirik bisnis lain yaitu Food and Beverages (F&B) dan wellness. Setelah mempelajari beberapa proposal akhirnya aku memutuskan untuk join crowdfunding ini, di bidang F&B. Ternyata ini belum rejekiku. Setelah aku transfer semua dana dan melengkapi data-data, tidak lama kemudian uangku dikembalikan karena ternyata aku sedikit terlambat transfernya dan sudah ada orang lain yang berinvestasi. Ya sudahlah, mungkin memang belum rezekinya. Tapi saat ini aku bersyukur, kalau saja aku diterima, mungkin aku dalam posisi merugi, karena di era Covid sektor F&B benar-benar terpukul. Ya ternyata dibalik suatu hambatan ada tetap ada hal yang bisa kita syukuri. Memang investasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan belajar juga ternyata.

 

Gagal di equity crowdfunding, tidak membuatku patah semangat. Sambil tetap menjalankan investasiku yang lama, aku mulai mencari hal-hal baru. Tidak lama kemudian aku menemukan P2P lending (peer-to-peer lending), konsep baru yang belum aku dengar sebelumnya.

 

P2P (peer-to-peer) Lending adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Kapok dengan pengalaman money game, secara otomatis sebelum mulai berinvestasi aku mengecek perijinan P2P, tidak tanggung-tanggung aku menelpon OJK. Mungkin terasa berlebihan, tapi lebih baik daripada terjerumus money game lagi. Izin oke, lampu hijau menyala, aku mulai mempelajari P2P tersebut.

 

Memang ternyata dari data OJK, ada lebih dari 100 perusahaan fintech di Indonesia yang sudah mengurus perizinan, dan pada saat itu hanya 11 yang izinnya sudah finalisasi. P2P yang aku lirik adalah salah satu yang cukup lama di bidang fintech. Di sini aku mengenal istilah baru yaitu NPL (Non-Performing Loan) atau angka gagal bayar, dan TKB90 yaitu ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara Fintech P2P Lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari sejak tanggal jatuh tempo.

 

Aku merasa prospek fintech ke depan sangat cerah, karena teknologi akan terus maju. Aku yakin ke depan fintech akan mengelola dana dalam jumlah besar, dan mungkin dalam waktu singkat bisa bersaing dengan bank-bank (meskipun dalam realitanya mereka bersinergi, bersaing disini dalam arti jumlah dana kelolaan). P2P yang aku lirik TKB90 nya saat itu di atas 98%, kadang mencapai 99%, angka yang cukup impresif. Yah ada 1-2% yang terlambat membayar lebih dari 90 hari (bukan berarti pasti gagal bayar ya…). Hitung-hitung, risiko 1-2% itu bisa aku terima, worth to try, akhirnya aku mulai memasukkan dana ke P2P tersebut.

 

Kekurangan P2P ini (yang saya pilih) kita juga harus melihat kemampuan tiap perusahaan dalam mengembalikan pinjaman kita, apakah perusahaan selalu tepat waktu, lalu bagaimana keuangan perusahaan, dan termasuk kategori rating kredit yang mana. Awalnya ya cukup membingungkan ya, ada banyak istilah yg tidak aku mengerti DER, EBIT, EBITDA, dll. Namun, meskipun begitu aku tetap mulai berinvestasi dengan pengetahuan seadanya. Dimulai dengan 1 project, dengan dana yang sangat minim, setelah aku rasa aman, aku lanjut ke project kedua, ketiga, keempat, dan tidak terasa tiba-tiba yang aku ingat, sudah mencapai hampir 80 projects.

 

Waktu itu karena kesibukan, aku tidak terlalu sempat memantau investasiku, yang awalnya baik-baik dan lancar, suatu ketika berubah, tiba-tiba NPL anjlok ke angka 95%. Memang nilainya terlihat kecil 3%. Tapi dari sekian banyak project yang aku biayai, mungkin sekitar 35 project sudah selesai, 45 masih berjalan, dan 13 diantaranya memberikan rapor merah, alias macet. Tiga belas project berarti sekitar hampir 30% mulai menunjukkan keterlambatan pembayaran. Memang betul ada 35 project yang sudah selesai, dan aku mendapat keuntungan, tapi kalau dihitung dengan project yang macet itu, sebenarnya modal investasiku akan tergerus cukup banyak alias merugi, bisa mencapai hampir 25% modal investasiku. Bukannya untung, malah buntung.

 

Karena tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun pasrah, dan hanya bisa berdoa, serta menunggu. Sambil menunggu, aku bukannya berhenti berinvestasi, tapi tetap rajin berinvestasi. Akhirnya dengan kesabaran, ternyata floating loss yang aku alami tidak menjadi real loss, dan aku masih membukukan keuntungan. Memang dunia investasi tidak dapat ditebak, penuh dengan kejutan, dan butuh banyak kesabaran.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share: