Mr Market Penuh Ketidakpastian, Aku Harus Apa?

Hai, Moduers!

Apakah sebagai seorang investor kamu tidak hanya menghadapi ketidakpastian status dari gebetan, tetapi juga ketidakpastian dari pasar modal? Hari ini mau investasi mumpung harga saham lagi naik, eh tidak berapa lama kemudian setelah saham itu dibeli harganya malah turun. Pagi ini harga sahamnya naik, nanti siang sudah turun lagi. Besok harga sahamnya turun, besoknya lagi malah naik. Duh, aku harus apa?

Yaudah yuk, kita belajar cara menghadapi ketidakpastian Mr. Market alias pasar modal dari artikel ini.

Pasar modal layaknya pasar biasa, merupakan tempat transaksi jual beli. Bedanya, di dalam pasar modal, yang diperjualbelikan adalah sekuritas (surat berharga seperti saham dan obligasi) yang dijual oleh perusahaan yang memerlukan modal dan dibeli oleh investor, pihak yang memiliki dana atau modal. Penjualan sekuritas (yang mana dalam artikel ini adalah saham) pertama kali dijual oleh perusahaan kepada masyarakat saat IPO (Initial Public Offering). Pada saat IPO, harga saham akan ditentukan oleh perusahaan sekuritas yang dihubungi oleh perusahaan (underwriter). Setelah proses IPO terjadi, harga saham selanjutnya akan sangat bergantung kepada permintaan dan penawaran saham di pasar modal, sehingga dalam pasar modal ada siklus seperti ini. 

Wall Street Cheat Sheet

Apabila permintaan terhadap saham sebuah perusahaan naik sedangkan jumlah penawaran saham tetap atau bahkan menurun, maka harga sahamnya juga akan mengalami kenaikan. Begitupun sebaliknya.

Pada grafik Psychology of A Market Cycle di atas, dapat terlihat bahwa titik harga terendah sebuah saham adalah ketika awalnya investor tidak mempercayai harga saham tersebut akan mengalami kenaikan (disbelief). Namun, kemudian investor mulai memiliki harapan (hope), optimisme (optimism), kepercayaan (belief), dan bahkan mulai mengajak investor lainnya untuk membeli saham tersebut (thrill) ketika harga saham itu semakin tinggi. Hingga, harga saham mencapai puncak tertingginya ketika orang-orang begitu yakin bahwa harga sahamnya akan menjadi semakin tinggi (euphoria). Padahal, selanjutnya harga saham akan terus menurun hingga mencapai titik depression karena ada banyak investor dan institusi lainnya yang menjual saham-saham mereka saat harganya masih di atas titik depression. 

Jika diperhatikan, grafik Psychology of a Market Cycle tersebut sangat dipengaruhi oleh penguasaan emosi dan sikap investor. Di mana saat harga saham berada di titik paling tinggi, para investor justru berbondong-bondong untuk membeli saham tersebut, dan sebaliknya, tidak ada yang berani membeli saham itu ketika harganya masih berada pada titik terendah. Hal ini dikarenakan pada saat harga saham berada di titik terendah (disbelief), sebagian besar investor merasa takut (fear) untuk berinvestasi, sedangkan pada saat harga saham mencapai titik tertinggi, mereka akan menjadi serakah dan tidak lagi memedulikan risiko yang ada.

Hal ini sangat selaras dengan 2 poin berikut yang mempengaruhi permintaan dan penawaran saham dalam siklus pasar, yaitu:

1. Fundamental perusahaan yang berkaitan dengan perubahan keuntungan perusahaan dan siklus kredit atau utang.

2. Penguasaan emosi dan sikap (psikologi) investor terhadap risiko di pasar modal.

 

Bahkan, penguasaan emosi dan sikap investor memegang peran terbesar dalam kesuksesan berinvestasi. 

 

Jadi, bagaimana kita tahu bahwa harga saham masih terlalu rendah atau sudah terlalu tinggi di pasar modal?

1. Cari tahu, apakah valuasi pasar melebihi apa yang telah terjadi di masa lalu.

Jika tidak ada perbedaan antara valuasi pasar di masa lalu dan di masa kini, maka kemungkinan harga saham berada pada tingkatan yang sesuai.

2. Perhatikan bagaimana sikap mayoritas investor di pasar modal. Apakah mereka terlalu pesimis atau justru terlalu optimis dan penuh euphoria? (Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.-Warren Buffet).

Ketika kamu yakin bahwa siklus pasar modal berada pada titik yang rendah, kamu bisa mempertimbangkan untuk membentuk portofolio yang lebih agresif dengan:

1. Menginvestasikan lebih banyak modal.

2. Berinvestasi pada saham lini kedua (second liner).

3. Berinvestasi pada saham yang diuntungkan oleh momentum atau kondisi makroekonomi yang baik. 

Sebaliknya, jika siklus pasar sedang berada titik yang tinggi, ada baiknya kamu membentuk portofolio yang defensif dengan cara:

1. Memegang lebih banyak uang kas.

2. Berinvestasi pada instrumen yang lebih rendah risiko.

3. Berinvestasi pada saham berfundamental kuat dan tidak siklikal.

Tips dan cara di atas dapat kamu terapkan saat kamu mengelola portofolio investasimu sendiri. Tetapi, untuk kamu yang masih merasa perlu bantuan untuk mengelola portofoliomu, kamu bisa mulai berinvestasi pada reksa dana saham atau reksa dana indeks saham sambil belajar.

 

Salam Moduit.

 

Share: