Moduit Market Flash

Kekhawatiran akan resesi meningkat dikarenakan fenomena inversi yield obligasi. Kecemasan investor dilandasi data historis yang menunjukkan bahwa inversi yield obligasi tersebut diikuti oleh resesi, termasuk the Great Recession yang terjadi pada tahun 2007 lalu.

Sumber: Bloomberg

Pada hari Rabu pagi waktu AS, yield US Treasury bertenor 10 tahun menurun sebanyak 1.9 basis poin di bawah yield obligasi bertenor 2 tahun, yang dilihat sebagai penanda akan adanya resesi ekonomi AS dalam periode 18 bulan mendatang. Ekspektasi akan terjadinya resesi tersebut, ditambah dengan memburuknya perkembangan kesepakatan dagang antara AS & Tiongkok selama beberapa minggu terakhir, diperbesar dengan lemahnya data ekonomi Jerman & China.

Terjadinya inversi tersebut memengaruhi kinerja bursa Asia dan IHSG.

Opening Price1 Day %
JCI6.192,46-0,71
NIKKEI20.324,25-1,21
HANG SENG24.945,740,28
KOSPI1.946,180,65
S&P/ASX 2006.595,90-2,28
CSI 3003.618,01-0,58
FTSE/ST3.095,85-1,21

Inversi yield obligasi menandakan resesi yang akan datang. Mitos, atau fakta?

Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang lebih berisiko ketimbang tenor pendek.
Meskipun inversi tidak melulu diikuti dengan resesi, sejarah menunjukkan bahwa inversi yield obligasi tenor 2 dan 10 tahun merupakan sinyal pertanda datangnya resesi di AS selama beberapa dekade terakhir. Kali terakhir inversi pada yield obligasi terjadi adalah pada akhir tahun 2005. Dua tahun setelahnya, AS mengalami resesi yang dipicu oleh krisis subprime mortgage.

Data yield obligasi bisa dianalogikan sebagai ekspektasi kinerja pasar dan ekonomi di masa depan. Namun, perlu diingat bahwa fenomena inversi bukan merupakan satu-satunya sinyal penanda datangnya resesi.

 

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh investor ditengah fenomena tersebut?

Ingat bahwa kepanikan tidak pernah berbuah baik. Masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan selain inversi tersebut sebelum menarik kesimpulan akan terjadinya resesi, diantaranya:

  • Data tingkat pengangguran AS berada di titik terendah secara historis
  • Indeks S&P 500 telah mengalami kenaikan sebesar 13,31% YTD
  • Keputusan the Fed yang akan datang mengenai kebijakan tingkat suku bunga
  • Faktor makroekonomi dalam negeri

Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk mengubah alokasi portofoliomu. Namun, ada baiknya memeriksa kembali kesesuaian alokasi portofoliomu untuk memenuhi tujuan finansial serta menghadapi kondisi ekonomi yang akan datang.

Prinsip dasar dari pengelolaan investasi adalah: sesuaikan alokasi investasimu dengan tujuan finansialmu. Jika kamu memiliki rencana pengeluaran di waktu dekat, alokasikan sebagian portofoliomu di produk investasi jangka pendek seperti reksa dana pasar uang. Jika pengeluaranmu baru akan dilakukan jauh di masa depan, kamu dapat mengalokasikan portofoliomu di produk investasi jangka panjang seperti reksa dana saham dan secukupnya di pasar uang sebagai pengaman jika terjadi penurunan pasar.

Share: