Market Outlook bersama John Rachmat, Pinnacle Investment

Menyambut Kuartal II Tahun 2020 dan Persiapan di Tengah Volatilitas Pasar

 

Hi Moduers,

Time flies dan nggak terasa kita sudah hampir memasuki kuartal II tahun 2020. Jadi bagaimana perkembangan resolusi investasi kamu?

Banyak hal yang telah terjadi sepanjang awal tahun ini, seperti perkembangan positif dari kesepakatan perang dagang fase 1 antara Amerika Serikat (AS) dan China yang ditandatangani di bulan Januari lalu dan juga sentimen negatif dikarenakan perlambatan pertumbuhan ekonomi global ditambah lagi dengan merebaknya Virus Corona (COVID-19) yang korbannya telah mencapai lebih dari 2.200 orang (per 21 Februari 2020).

 

Apakah Moduers ingin tahu lebih lanjut mengenai pasar terutama untuk persiapan kuartal II yang lebih baik lagi?

Ikuti terus ya, karena khusus untuk Moduers kita sudah berkolaborasi bersama salah satu partner Manajer Investasi Moduit, Pinnacle Investment, untuk berdiskusi mengenai paparan pasar modal terutama untuk persiapan kuartal II. Dan di kesempatan spesial kali ini, kita telah berdiskusi dengan Pak John Rachmat yang merupakan Strategist dari Pinnacle Investment. Beliau telah memiliki pengalaman selama lebih dari 30 tahun di industri keuangan dengan berbagai jabatan seperti Head of Investment and Research di Mandiri Investment Management Singapore dan Head of Equity Research di Mandiri Sekuritas. Wow! Ini merupakan momen yang langka untuk bisa berdiskusi dengan Beliau karena jadwalnya yang cukup padat! Yuk, simak pembahasannya! 😊

 

Sejauh ini, kita selalu merasa pergerakan pasar saham AS dapat menjadi acuan untuk memprediksikan pergerakan pasar saham Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Menurut pandangan Pak John, bagaimana korelasi antara pasar saham dunia saat ini?

Menurut pandangan saya, korelasi antara pasar saham AS dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia sudah putus yang berarti kinerja bursa saham AS sudah tidak merefleksikan kinerja bursa saham Asia termasuk Indonesia.

 

Apabila kita sedikit melihat kinerja historis dari pasar saham AS, Asia Pasifik dan juga Indonesia, tahun 2017 merupakan tahun terakhir dengan kinerja pasar saham yang sangat positif dimana bursa AS dan Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 19%-20%. Pada tahun 2018, hampir semua pasar global membukukan kinerja negative: S&P500 (USD) -6,24%, DAX (EUR) -18,26% namun Indonesia masih membukukan kinerja yang lebih baik dengan hanya turun sebesar -2,54%. Lain hal dengan tahun 2019, indeks global memiliki kinerja yang sangat kuat: S&P500 (USD) +28,88%, DAX (EUR) +25,48% namun indeks di Asia tidak membukukan kinerja yang sama baiknya seperti global.

 

Melihat penurunan angka pertumbuhan Indonesia yang terakhir rilis di bawah 5%, bagaimana pandangan Pak John untuk pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia?

Pinnacle merupakan perusahaan Manajer Investasi yang berbasis Quantitative Investment, yang merupakan data driven dimana Pinnacle berusaha untuk melihat secara agregat. Dari segi laba korporasi, apabila kita melihat saham-saham pada LQ45 dimana saham-saham ini lebih likuid, kami melihat kenaikan earnings per share per kuartal secara agregat berdasarkan komposisinya. Trend pertumbuhan untuk top-liner sudah mencapai puncak di tahun 2018 dan mengalami down-trend setelah itu. Di kuartal III tahun 2019, top-liner growth hanya 7-8%. Di samping itu, earnings per share telah mencapai puncak di awal 2017 dan mulai melambat hingga pada 2018 sempat mencetak angka negative. Namun pada kuartal I dan II tahun 2019, earnings per share sempat positif meskipun kembali negatif di kuartal III.

 

Sejauh ini, kita selalu merasa pergerakan pasar saham dan pertumbuhan laba perusahaan memiliki korelasi yang positif. Bagaimana pandangan Pak John mengenai korelasi antara pasar saham Indonesia dan pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia?

Apabila kita mereferensikan di tahun 2013 dan 2015, earnings per share (EPS) growth mencetak angka negatif. Di tahun 2013 pada saat EPS growth negatif, IHSG mengalami periode terburuk dimana maximum drawdown, yang merupakan angka penurunan dengan membandingkan angka tertinggi dan terendah IHSG sepanjang periode, adalah hampir 24% sebelum kembali rebound yang cukup tinggi. Sama halnya di tahun 2015, EPS growth kembali mencatatkan angka negatif dan maximum drawdown IHSG adalah hampir 26% sebelum pasar kembali rebound.  Namun, lain hal nya pada tahun 2018 dan 2019. Di tahun 2018 dan 2019, LQ45 sempat mencatatkan pertumbuhan negatif, namun IHSG hanya turun hampir 10%. Ini disebabkan oleh partisipasi asing yang sudah minim.

 

Terdapat 2 komponen dari investor asing yaitu investor asing yang pasif dan aktif. Di AS, produk pasif seperti ETF dan Index Fund menjadi lebih diminati pasar. Artinya adalah investor asing yang pasif akan berinvestasi sesuai dengan komposisi indeks. Pada saat China dimasukkan ke dalam MSCI Asia Pacific Ex-Japan, porsi Indonesia di indeks menjadi lebih kecil. Sama halnya saat IPO Aramco dimana Middle East dimasukkan ke Emerging Market, porsi Indonesia kembali mengecil di indeks. Di samping itu, terdapat pula investor aktif yang mengalokasikan portofolio dengan melihat fundamental makroekonomi. Dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang cukup lemah, investor asing yang aktif tersebut tidak berinvestasi di Indonesia dengan porsi banyak (overweight).

 

Di samping itu, investor lokal berinvestasi di pasar saham Indonesia dan menopang pasar saham sehingga indeks tidak turun terlalu banyak. Hal ini menyebabkan pasar saham Indonesia tertahan dan tidak turun terlalu banyak sehingga tidak mencapai level yang cukup menarik (attractive) bagi investor asing. Apabila pasar dibiarkan, pasar akan mencapai suatu level yang dianggap menarik oleh investor dan di level itulah investor akan mulai berinvestasi terlepas dari fundamentalnya. Hal ini dapat membantu pasar untuk rebound lebih kencang.

 

Faktor apakah yang dapat mendukung pasar saham Indonesia?

Salah satu hal yang penting untuk mendukung pertumbuhan pasar saham Indonesia adalah kondisi makroekonomi Indonesia yang baik. Angka pertumbuhan Indonesia mengalami penurunan dimana rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir menunjukkan pertumbuhan di 4,97%. Dalam kondisi yang sama, perusahaan di Indonesia juga kurang dapat diharapkan untuk mencetak laba yang terlalu tinggi.

 

Apabila tidak ada perubahan, kinerja pasar saham di tahun 2020 akan mirip dengan yang terjadi di tahun 2018-2019. Ini dikarenakan tidak ada perubahan significant di makroekonomi Indonesia namun valuasi nya belum mencapai level yang menarik karena ditopang oleh investor lokal. Pandangan saya untuk level IHSG akan berada di sekitar 5700/5800 – 6300/6400.

 

Apakah faktor (katalis) yang dapat meningkatkan kinerja pasar saham Indonesia lebih lanjut?

Terdapat 2 opsi yang dapat mendukung pasar saham Indonesia yaitu valuasi yang menarik (attractive) atau fundamental Indonesia yang lebih kuat.

 

Menurut pandangan saya, hal yang paling penting untuk memperkuat fundamental Indonesia dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah investment spending atau direct investment ke Indonesia seperti mendirikan pabrik atau perusahaan di Indonesia. Pada saat AS mengenakan tarif ke China, hal ini dianggap merupakan hal positif pada Indonesia dikarenakan perusahaan AS, Eropa maupun Jepang akan mencari alternatif negara lain diluar China untuk ekspansi. Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi investor asing maupun lokal untuk berinvestasi di Indonesia meliputi:

  1. Perburuhan dan ketenagakerjaan karena gaji di Indonesia masih terlalu mahal. Kenaikan UMR telah mencapai 5x lipat dibandingkan dengan kenaikan produktivitas. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi kurang kompetitif. Kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga merupakan salah satu pertimbangan bagi investor dikarenakan biaya PHK Indonesia 2x lebih mahal dibandingkan dengan Vietnam.
  2. Peraturan Daerah (perda) dimana dibutuhkan penyederhanaan proses untuk pembukaan perusahaan di Indonesia.

 

Maka dari itu, tereksekusinya Omnibus Law yang mencakup perburuhan, perpajakan dan perda penting untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendukung pasar saham di Indonesia. Apabila sukses tereksekusi, hal ini akan memberikan angin segar pada pasar saham di Indonesia untuk naik ditopang dengan pertumbuhan ekonomi yang dapat bangkit kembali.

 

Dibandingkan dengan pasar saham, sejauh ini pasar obligasi memiliki kinerja yang lebih baik. Bagaimana pandangan Pak John untuk pasar obligasi di Indonesia?

Untuk pasar obligasi, saya memiliki pandangan yang cukup positif (bullish). Apabila dibandingkan dengan pasar saham yang hanya tumbuh sekitar 1,7% di tahun 2019, pasar obligasi tumbuh double digit. Hal ini disebabkan oleh kondisi makro dimana trend suku bunga dunia semakin rendah yang menyebabkan turunnya imbal hasil (yield) dari obligasi. Ditambah lagi dengan adanya quantitative easing dari Bank Sentral dunia seperti The Fed (AS), ECB (Eropa) dan BoJ (Jepang) yang menyebabkan meningkatnya uang beredar di ekonomi yang digunakan untuk berinvestasi di pasar obligasi. Pasar obligasi Indonesia diuntungkan oleh yield yang masih tergolong tinggi, apabila dibandingkan dengan obligasi di Eropa yang memberikan yield negatif.

 

Salah satu risiko dalam berinvestasi di pasar obligasi Indonesia terutama bagi investor asing adalah currency risk atau risiko mata uang karena investor asing berinvestasi dalam mata uang Rupiah. Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi mata uang, yaitu pasar barang jasa (impor dan ekspor) dan aliran modal (capital flow).  Dalam beberapa tahun belakangan ini, Indonesia sangat bergantung pada komoditas seperti batu bara, kelapa sawit dan nikel. Namun ekspor Indonesia telah turun dan mencapai level yang lemah dalam beberapa tahun ini.

 

Minyak merupakan faktor yang paling utama untuk indonesia. Indonesia merupakan negara net importir minyak, dimana apabila harga minyak meningkat, ini akan berdampak kepada melebarnya defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan berujung pada pelemahan mata uang Rupiah. Namun, Rupiah mendapatkan dampak positif dari COVID-19, dimana virus yang dapat menyebabkan pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia dan juga pelemahan perdagangan dunia ini diprediksikan akan berdampak pada penurunan permintaan minyak, seperti untuk transportasi dan airlines. Sesuai dengan hukum ekonomi, apabila permintaan turun harga minyak juga akan turun dan CAD Indonesia akan membaik. Hal ini akan membantu menjadi katalis untuk penguatan Rupiah sehingga menjadi hal yang positif untuk pasar obligasi Indonesia.

 

Risiko apa yang perlu diperhatikan terkait pasar obligasi di Indonesia?

Dampak dari COVID-19 terhadap ekonomi Indonesia dapat menjadi risiko untuk pasar obligasi Indonesia dimana menurut pandangan saya virus tersebut dapat berdampak ke penurunan pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 0,1% dengan dampak lebih besar ke ekonomi China tentunya. Perlu diingat bahwa China memiliki debt-to-GDP ratio yang tinggi sekitar 300% (dibandingkan Indonesia yang 60%). Banyak kota di China yang mengalami locked down sehingga banyak pabrik dan perusahaan ditutup atau hanya beroperasi 50% dikarenakan untuk menghindari penyebaran COVID-19 yang lebih luas dan akan menghambat pendapatan perusahaan.

 

Apabila virus COVID-19 masih berlanjut hingga bulan Mei dimana sesuai dengan banyak survey dari tim medis, virus COVID-19 diprediksikan tidak dapat bertahan pada cuaca panas, ini akan membawa dampak negatif pada pasar obligasi di China. Perlu diketahui bahwa terdapat banyak investor global yang berinvestasi di pasar obligasi China dalam kategori Emerging Market atau Asia Pasifik ex Japan. Di tahun 2019 telah ada banyak obligasi China yang mengalami gagal bayar. Hal ini bahkan terjadi sebelum merebaknya virus COVID-19. Virus COVID-19 yang diprediksikan akan memperlambat ekonomi China di bawah 6% akan meningkatkan risiko gagal bayar obligasi China. Maka dari itu, apabila pasar obligasi China crash, maka ini akan berdampak pada pasar obligasi Indonesia. Hal ini dikarenakan investor global akan kehilangan kepercayaan dan keluar dari pasar obligasi Emerging Market atau Asia Pacific ex Japan. Hal ini akan meningkatkan risiko pasar obligasi Indonesia.

 

Menurut pandangan saya apabila pasar obligasi Indonesia terkoreksi, efeknya tidak akan terlalu banyak. Risiko terdapat pada mata uang Rupiah dikarenakan kepemilikan asing yang sebesar 38% di pasar obligasi Indonesia sehingga dapat menyebabkan pelemahan Rupiah. Namun, koreksi di pasar obligasi akan menjadi peluang atau opportunity to enter bagi investor dan menjadi peluang untuk pasar obligasi di Indonesia untuk kembali tumbuh double digit di tahun 2020 ini.

 

Rekomendasi dari Pak John untuk strategi investasi bagi Moduers?

Kami memiliki bullish view untuk pasar obligasi sehingga produk Pinnacle Indo Bond Fund masih direkomendasikan, namun pandangan untuk pasar obligasi di Indonesia masih ada bergantung pada perkembangan dari Virus COVID-19 dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, terutama China. Bagi Moduers yang memiliki toleransi risiko yang cukup tinggi (agresif), Moduers dapat berinvestasi di Pinnacle Strategic Equity Fund. Menurut pandangan kami, level IHSG 5700/5800 sudah merupakan level yang cukup menarik (attractive point of entry) dengan potensi kenaikan hingga 6300/6400. Namun dari sisi pasar saham sendiri, dibutuhkan penguatan ekonomi dari kebijakan Omnibus Law agar pasar saham memiliki potensi kenaikan yang lebih tinggi lagi. Last but not least, bagi Moduers yang lebih konservatif, produk Reksa Dana pasar uang Pinnacle, Pinnacle Money Market Fund dan Pinnacle Sharia Money Market Fund masih menjadi produk pilihan untuk berinvestasi.

 

Jadi begitu hasil diskusi bersama Pak John Rachmat dari Pinnacle Investment. Menarik kan!

Nantikan pembahasan mengenai pasar di artikel selanjutnya ya.

 

#SalamModuit

 

Share: