Market Outlook bersama John Rachmat, Pinnacle Investment

Menyambut Kuartal II Tahun 2020 dan Persiapan di Tengah Volatilitas Pasar

 

Hi Moduers,

Time flies. Ya, waktu berlalu begitu cepat dan tanpa terasa kita sudah hampir memasuki kuartal II tahun 2020. Banyak hal telah terjadi di awal tahun ini. Pasar modal kita sempat mendapatkan angin segar pasca ditandatanganinya kesepakatan dagang fase 1 antara Amerika Serikat (AS) dan China di bulan Januari lalu. Namun pasar kembali tertekan belakangan ini dikarenakan merebaknya Virus Corona (COVID-19) yang korbannya telah mencapai lebih dari 2.400 orang (per 24 Februari 2020) ditambah lagi dengan perlambatan ekonomi global.

Telah ada banyak hal yang terjadi di tahun 2020, terutama apabila kita berfokus ke perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia: ekonomi Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai siklus pertumbuhan puncak, perlambatan ekonomi di China yang diprediksikan tumbuh dibawah 6% dan ditambah lagi dengan merebaknya Virus COVID-19 yang diprediksikan dapat berdampak pada penurunan ekonomi China kurang lebih sebesar 1%.

Untuk hal ini, Moduit telah berkolaborasi bersama salah satu partner Manajer Investasi, Pinnacle Investment, untuk berdiskusi mengenai paparan pasar modal untuk mempersiapkan kuartal II tahun 2020 ini. Yuk, simak pembahasannya bersama Pak John Rachmat selaku Strategist dari Pinnacle Investment! 😊

 

Bagaimana pandangan Pak John mengenai korelasi pasar saham dunia saat ini?

Apabila kita sedikit melihat kinerja historis dari pasar saham AS, Asia Pasifik dan juga Indonesia, tahun 2017 merupakan tahun terakhir dengan kinerja pasar saham yang sangat positif dimana bursa AS dan Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 19%-20%. Pada tahun 2018, hampir semua pasar global membukukan kinerja negative: S&P500 (USD) -6,24%, DAX (EUR) -18,26% namun Indonesia masih membukukan kinerja yang lebih baik dengan hanya turun sebesar -2,54%. Lain hal dengan tahun 2019, indeks global memiliki kinerja yang sangat kuat: S&P500 (USD) +28,88%, DAX (EUR) +25,48% namun indeks di Asia tidak membukukan kinerja yang sama baiknya seperti global. Hal ini menunjukkan putusnya korelasi antara bursa saham dunia dimana kinerja bursa saham AS sudah tidak merefleksikan kinerja bursa saham Asia termasuk Indonesia.

 

Bagaimana pandangan Pinnacle Investment untuk pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia?

Pinnacle merupakan perusahaan Manajer Investasi yang berbasis Quantitative Investment, yang merupakan data driven dimana Pinnacle berusaha untuk melihat secara agregat. Dari segi laba korporasi, apabila kita melihat saham-saham pada LQ45 dimana saham-saham ini lebih likuid, kami melihat kenaikan earnings per share per kuartal secara agregat berdasarkan komposisinya. Trend pertumbuhan untuk top-liner sudah mencapai puncak di tahun 2018 dan mengalami down-trend setelah itu. Di kuartal III tahun 2019, top-liner growth hanya 7-8%. Di samping itu, earnings per share telah mencapai puncak di awal 2017 dan mulai melambat hingga pada 2018 sempat mencetak angka negative. Namun pada kuartal I dan II tahun 2019, earnings per share sempat positif meskipun kembali negatif di kuartal III.

 

Apakah korelasi antara pasar saham Indonesia dan pertumbuhan laba perusahaan?

Apabila kita mereferensikan di tahun 2013 dan 2015, earnings per share (EPS) growth mencetak angka negatif. Di tahun 2013 pada saat EPS growth negatif, IHSG mengalami periode terburuk dimana maximum drawdown, yang merupakan angka penurunan dengan membandingkan angka tertinggi dan terendah IHSG sepanjang periode, adalah hampir 24% sebelum kembali rebound yang cukup tinggi. Sama halnya di tahun 2015, EPS growth kembali mencatatkan angka negatif dan maximum drawdown IHSG adalah hampir 26% sebelum pasar kembali rebound.

 

Namun, lain hal nya pada tahun 2018 dan 2019. Di tahun 2018 dan 2019, LQ45 sempat mencatatkan pertumbuhan negatif, namun IHSG hanya turun hampir 10%. Ini disebabkan oleh partisipasi asing yang sudah minim. Terdapat 2 komponen dari investor asing yaitu investor asing yang pasif dan aktif. Di AS, produk pasif seperti ETF dan Index Fund menjadi lebih diminati pasar. Artinya adalah investor asing yang pasif akan berinvestasi sesuai dengan komposisi indeks. Pada saat China dimasukkan ke dalam MSCI Asia Pacific Ex-Japan, porsi Indonesia di indeks menjadi lebih kecil. Sama halnya saat IPO Aramco dimana Middle East dimasukkan ke Emerging Market, porsi Indonesia kembali mengecil di indeks. Di samping itu, terdapat pula investor aktif yang mengalokasikan portofolio dengan melihat fundamental makroekonomi. Dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang cukup lemah, investor asing yang aktif tersebut tidak berinvestasi di Indonesia dengan porsi banyak (overweight).

 

Di samping itu, investor lokal berinvestasi di pasar saham Indonesia dan menopang pasar saham sehingga indeks tidak turun terlalu banyak. Hal ini menyebabkan pasar saham Indonesia tertahan dan tidak turun terlalu banyak sehingga tidak mencapai level yang cukup menarik (attractive) bagi investor asing. Apabila pasar dibiarkan, pasar akan mencapai suatu level yang dianggap menarik oleh investor dan di level itulah investor akan mulai berinvestasi terlepas dari fundamentalnya. Hal ini dapat membantu pasar untuk rebound lebih kencang.

 

Apakah yang dapat mendukung pasar saham Indonesia?

Salah satu hal yang penting untuk mendukung pertumbuhan pasar saham Indonesia adalah kondisi makroekonomi Indonesia yang baik. Angka pertumbuhan Indonesia mengalami penurunan dimana rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir menunjukkan pertumbuhan di 4,97%. Dalam kondisi yang sama, perusahaan di Indonesia juga kurang dapat diharapkan untuk mencetak laba yang terlalu tinggi.

 

Apabila tidak ada perubahan, kinerja pasar saham di tahun 2020 akan mirip dengan yang terjadi di tahun 2018-2019. Ini dikarenakan tidak ada perubahan significant di makroekonomi Indonesia namun valuasi nya belum mencapai level yang menarik karena ditopang oleh investor lokal. Pandangan saya untuk level IHSG akan berada di sekitar 5700/5800 – 6300/6400.

 

Apakah katalis untuk pasar saham Indonesia?

Terdapat 2 opsi yang dapat mendukung pasar saham Indonesia yaitu valuasi yang menarik (attractive) atau fundamental Indonesia yang lebih kuat.

 

Menurut pandangan saya, hal yang paling penting untuk memperkuat fundamental Indonesia dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah investment spending atau direct investment ke Indonesia seperti mendirikan pabrik atau perusahaan di Indonesia. Pada saat AS mengenakan tarif ke China, hal ini dianggap merupakan hal positif pada Indonesia dikarenakan perusahaan AS, Eropa maupun Jepang akan mencari alternatif negara lain diluar China untuk ekspansi. Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi investor asing maupun lokal untuk berinvestasi di Indonesia meliputi:

  1. Perburuhan dan ketenagakerjaan karena gaji di Indonesia masih terlalu mahal. Kenaikan UMR telah mencapai 5x lipat dibandingkan dengan kenaikan produktivitas. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi kurang kompetitif. Kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga merupakan salah satu pertimbangan bagi investor dikarenakan biaya PHK Indonesia 2x lebih mahal dibandingkan dengan Vietnam.
  2. Peraturan Daerah (perda) dimana dibutuhkan penyederhanaan proses untuk pembukaan perusahaan di Indonesia.

 

Maka dari itu, tereksekusinya Omnibus Law yang mencakup perburuhan, perpajakan dan perda penting untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendukung pasar saham di Indonesia. Apabila sukses tereksekusi, hal ini akan memberikan angin segar pada pasar saham di Indonesia untuk naik ditopang dengan pertumbuhan ekonomi yang dapat bangkit kembali.

 

Bagaimana pandangan Pak John untuk pasar obligasi di Indonesia?

Untuk pasar obligasi, saya memiliki pandangan yang cukup positif (bullish). Apabila dibandingkan dengan pasar saham yang hanya tumbuh sekitar 1,7% di tahun 2019, pasar obligasi tumbuh double digit. Hal ini disebabkan oleh kondisi makro dimana trend suku bunga dunia semakin rendah yang menyebabkan turunnya imbal hasil (yield) dari obligasi. Ditambah lagi dengan adanya quantitative easing dari Bank Sentral dunia seperti The Fed (AS), ECB (Eropa) dan BoJ (Jepang) yang menyebabkan meningkatnya uang beredar di ekonomi yang digunakan untuk berinvestasi di pasar obligasi. Pasar obligasi Indonesia diuntungkan oleh yield yang masih tergolong tinggi, apabila dibandingkan dengan obligasi di Eropa yang memberikan yield negatif.

 

Salah satu risiko dalam berinvestasi di pasar obligasi Indonesia terutama bagi investor asing adalah currency risk atau risiko mata uang karena investor asing berinvestasi dalam mata uang Rupiah. Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi mata uang, yaitu pasar barang jasa (impor dan ekspor) dan aliran modal (capital flow).  Dalam beberapa tahun belakangan ini, Indonesia sangat bergantung pada komoditas seperti batu bara, kelapa sawit dan nikel. Namun ekspor Indonesia telah turun dan mencapai level yang lemah dalam beberapa tahun ini.

 

Minyak merupakan factor yang paling utama untuk indonesia. Indonesia merupakan negara net importir minyak, dimana apabila harga minyak meningkat, ini akan berdampak kepada melebarnya defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan berujung pada pelemahan mata uang Rupiah. Namun, Rupiah mendapatkan dampak positif dari COVID-19, dimana virus yang dapat menyebabkan pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia dan juga pelemahan perdagangan dunia ini diprediksikan akan berdampak pada penurunan permintaan minyak, seperti untuk transportasi dan airlines. Sesuai dengan hukum ekonomi, apabila permintaan turun harga minyak juga akan turun dan CAD Indonesia akan membaik. Hal ini akan membantu menjadi katalis untuk penguatan Rupiah sehingga menjadi hal yang positif untuk pasar obligasi Indonesia.

 

Apakah terdapat risiko untuk pasar obligasi di Indonesia?

Ya, terdapat risiko untuk pasar obligasi di Indonesia yang juga merupakan bagian dari dampak COVID-19. Dampak dari COVID-19 terhadap ekonomi Indonesia menurut pandangan saya bisa mencapai lebih dari 0,1% dengan dampak lebih besar ke ekonomi China tentunya. Perlu diingat bahwa China memiliki debt-to-GDP ratio yang tinggi sekitar 300% (dibandingkan Indonesia yang 60%). Banyak kota di China yang mengalami locked down sehingga banyak pabrik dan perusahaan ditutup atau hanya beroperasi 50% dikarenakan untuk menghindari penyebaran COVID-19 yang lebih luas dan akan menghambat pendapatan perusahaan.

 

Apabila virus COVID-19 masih berlanjut hingga bulan Mei dimana sesuai dengan banyak survey dari tim medis, virus COVID-19 diprediksikan tidak dapat bertahan pada cuaca panas, ini akan membawa dampak negatif pada pasar obligasi di China. Perlu diketahui bahwa terdapat banyak investor global yang berinvestasi di pasar obligasi China dalam kategori Emerging Market atau Asia Pasifik ex Japan. Di tahun 2019 telah ada banyak obligasi China yang mengalami gagal bayar. Hal ini bahkan terjadi sebelum merebaknya virus COVID-19. Virus COVID-19 yang diprediksikan akan memperlambat ekonomi China di bawah 6% akan meningkatkan risiko gagal bayar obligasi China. Maka dari itu, apabila pasar obligasi China crash, maka ini akan berdampak pada pasar obligasi Indonesia. Hal ini dikarenakan investor global akan kehilangan kepercayaan dan keluar dari pasar obligasi Emerging Market atau Asia Pacific ex Japan. Hal ini akan meningkatkan risiko pasar obligasi Indonesia.

 

Menurut pandangan saya apabila pasar obligasi Indonesia terkoreksi, efeknya tidak akan terlalu banyak. Risiko terdapat pada mata uang Rupiah dikarenakan kepemilikan asing yang sebesar 38% di pasar obligasi Indonesia sehingga dapat menyebabkan pelemahan Rupiah. Namun, koreksi di pasar obligasi akan menjadi peluang atau opportunity to enter bagi investor dan menjadi peluang untuk pasar obligasi di Indonesia untuk kembali tumbuh double digit di tahun 2020 ini.

 

Rekomendasi dari Pinnacle Investment untuk Moduers?

Kami memiliki bullish view untuk pasar obligasi sehingga produk Pinnacle Indo Bond Fund masih direkomendasikan, namun pandangan untuk pasar obligasi di Indonesia masih ada bergantung pada perkembangan dari Virus COVID-19 dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, terutama China. Bagi Moduers yang memiliki toleransi risiko yang cukup tinggi (agresif), Moduers dapat berinvestasi di Pinnacle Strategic Equity Fund. Menurut pandangan kami, level IHSG 5700/5800 sudah merupakan level yang cukup menarik (attractive point of entry) dengan potensi kenaikan hingga 6300/6400. Namun dari sisi pasar saham sendiri, dibutuhkan penguatan ekonomi dari kebijakan Omnibus Law agar pasar saham memiliki potensi kenaikan yang lebih tinggi lagi. Last but not least, bagi Moduers yang lebih konservatif, produk Reksa Dana pasar uang Pinnacle, Pinnacle Money Market Fund dan Pinnacle Sharia Money Market Fund masih menjadi produk pilihan untuk berinvestasi.

 

Bersama Moduit, Pelaporan Reksa Dana pada SPT Pribadi menjadi Lebih Mudah!

Hi Moduers,

Apakah Moduers sudah melaporkan SPT tahunan? Jangan sampai kelewatan ya karena pelaporan SPT tahunan harus dilakukan paling telat pada 31 Maret setiap tahunnya. Bagi Moduers yang sudah mulai berinvestasi, sebelumnya selamat! Kamu sudah selangkah lebih dekat menuju financial freedom. Bagi yang belum, jangan berkecil hati karena tidak ada kata terlambat untuk memulai berinvestasi.

Lalu pertanyaannya adalah, apakah Moduers sudah mengetahui cara melaporkan Reksa Dana pada SPT pribadi apabila Moduers memiliki investasi Reksa Dana? Sebelumnya, Moduit ingin mengingatkan lagi kepada Moduers bahwa Reksa Dana bukan merupakan objek Pajak. Artinya, penghasilan atau keuntungan yang didapatkan dari transaksi penjualan Reksa Dana sudah net dan tidak dipotong pajak lagi. Keren bukan?

 

Nah, untuk membantu memudahkan proses pelaporan SPT tahunan Moduers, Moduit sudah mempersiapkan laporan yang terkait Reksa Dana Moduers di Moduit. Laporan ini dapat dengan mudah diunduh melalui banner yang terdapat di atas layar pada saat Moduers masuk ke website atau aplikasi Moduit.

Laporan ini memiliki 2 bagian:

  1. Laporan Penghasilan

Bagian ini merangkum nilai keuntungan (imbal hasil) aktual yang diperoleh dari transaksi jual beli Reksa Dana Moduers di Moduit selama tahun pajak yang bersangkutan. Data ini dapat dicantumkan pada bagian Penghasilan yang Dikecualikan dari Objek Pajak.

Contoh:

Dari contoh di atas, Mona perlu mencantumkan Rp 374.870,- di bagian Penghasilan bebas objek pajak.

 

  1. Laporan Harta

Bagian ini merangkum nilai perolehan Reksa Dana selama tahun pajak yang bersangkutan dan merupakan nilai modal yang digunakan pada awal transaksi pembelian Reksa Dana. Data ini perlu dicantumkan pada bagian Harta dengan menggunakan kode 036 untuk pelaporan harta yang berbentuk Reksa Dana.

 

Contoh:

Dari contoh di atas, Mona perlu mencantumkan Rp 313.912.852,- di bagian Harta dengan kode 036.

 

Masih bingung cara pelaporan Reksa Dana pada SPT pribadi? Jangan khawatir! Moduit akan membantu kamu, klik disini ya.

 

Salam Moduit.

Share:

Penasaran dengan Proses Seleksi Reksa Dana di Moduit? Yuk Cari Tahu!

Hi Moduers,

Pada kesempatan kali ini kita mau membahas tentang proses seleksi Reksa Dana di Moduit.

Sebelum ke pembahasan, apakah Moduers pernah mendengar dari orang tua kalau penting untuk mempertimbangkan berbagai macam faktor sebelum memilih pasangan? Moduit pun sangat berhati-hati dalam memilih Manajer Investasi rekanan dan produk Reksa Dana yang dipasarkan. Seleksi tersebut dilakukan dengan melihat berbagai faktor dan penilaian yang dilakukan dengan melakukan analisis Model PRIME.

 

Model PRIME diciptakan oleh tim Produk Moduit berdasarkan pengalaman di bidang pengelolaan produk investasi pasar modal selama lebih dari 15 tahun dan terdiri dari 5 aspek berikut ini:

  • Performance Persistance

Moduit menekankan pentingnya persistensi dari kinerja suatu Reksa Dana dibandingkan dengan tolak ukur (benchmark) Reksa Dana tersebut. Analisa kinerja suatu Reksa Dana tidak hanya melihat kinerja dalam satu periode tertentu, namun beberapa periode yang berbeda. Analisa ini berguna untuk melihat konsistensi dan persistensi kinerja Reksa Dana dalam berbagai kondisi pasar.

  • Risk Ratio

Selain menganalisa persistensi dari kinerja Reksa Dana, faktor penting lainnya yang harus dianalisa tentunya adalah faktor risiko. Analisa risiko dilakukan dengan melakukan perbandingan rasio seperti Sharpe ratio, Jensen ratio dan Treynor ratio. Adapun kegunaan dari rasio ini berbeda-beda. Sharpe ratio digunakan untuk mengukur seberapa efisien suatu Reksa Dana mencapai imbal hasil berdasarkan tingkat risiko yang dimilikinya dengan membandingkan risk and return. Seperti Sharpe ratio, Treynor ratio juga dihitung dengan membandingkan tingkat risiko dan imbal hasil dari suatu Reksa Dana dan Jensen ratio membandingkan imbal hasil Reksa Dana dengan aset bebas risiko (risk free asset).

  • Invested asset under management

Total Dana Kelolaan suatu produk Reksa Dana juga menjadi faktor penting karena dapat mempengaruhi likuiditas dalam hal melakukan pengelolaan portofolio. Namun, bukan berarti hanya total dana kelolaan yang besar saja yang baik, pertumbuhan dari dana kelolaan serta diversifikasi dari pemegang portofolio Reksa Dana juga perlu dianalisa agar kinerja Reksa Dana tidak terganggu apabila terjadi penarikan dana dari pemegang portofolio terbesar di Reksa Dana tersebut.

  • Management Team

Manajer Investasi yang baik tentunya yang memiliki lisensi serta tim dengan rekam jejak (track record) dan pengalaman yang baik dalam hal manajemen dan pengelolaan Reksa Dana. Selain itu, Manajer Investasi yang baik juga perlu mempunyai orientasi yang mengutamakan kepentingan Nasabah dan moral dalam mengelola dana investasi yang diinvestasikan oleh Nasabah.

  • Expense Ratio

Beban operasi (expense ratio) merupakan biaya yang harus ditanggung Reksa Dana seperti biaya adminstrasi, broker, bank kustodian, agen penjual, konsultan, dll dalam pengelolaannya. Biaya ini terhitung di dalam perhitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana. Semakin kecil beban operasi mencerminkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi dalam pengelolaan Reksa Dana tersebut.

 

Proses seleksi yang ketat terhadap Manajer Investasi dan Produk Reksa Dana yang dilakukan bertujuan untuk memberikan pilihan produk yang terbaik untuk Moduers, supaya Moduers bisa lebih tenang dalam berinvestasi sesuai dengan tujuan keuangan, jangka waktu dan profil risiko masing-masing.

 

Jadi tunggu apa lagi? Ayo berinvestasi di Moduit!

 

Salam Moduit.

 

Share:

Moduit Bagi-Bagi Angpao Total 2 Juta Rupiah!

Hi Moduers!

 

Menyambut tahun 2020, apakah resolusi tahun baru kamu?

 

Nah, bagi Moduers yang mempunyai resolusi untuk memulai berinvestasi di tahun 2020, ini adalah momen yang tepat buat kamu! Yuk, mulai berinvestasi melalui aplikasi Moduit yang pastinya mudah tanpa ribet dan nyaman di genggaman tangan.

 

Selain itu, tahukah kamu bahwa Moduit sedang mengadakan GIVEAWAY PROGRAM selama 1-31 Januari 2020? Yuk ikutan! Caranya mudah dan tanpa ribet juga 😊

 

  1. Share post giveaway yang dapat kamu temukan di link ini ke Instagram story kamu dan tulis “Apa sih Reksa Dana itu” menurut kamu.
  2. Follow dan mention @moduitapp dan @majoris_am di Instagram story kamu.
  3. Tag 3 teman terdekatmu di kolom comment post giveaway di Instagram @moduitapp.
  4. Pemenang akan dipilih berdasarkan kreativitas dan akan diumumkan di Instagram Moduit setelah akhir periode program.
  5. Setiap pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 100.000 unit Reksa Dana Majoris Sukuk Negara Indonesia dan Rp 100.000 voucher pulsa.

 

Jangan sampai melewati kesempatan ini ya Moduers!

 

Share:

Goodbye 2019, Hello 2020!

Selamat Tahun Baru 2020 Moduers.

Tahun 2019 telah terlewati. Dinamika perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, kekhawatiran resesi, dan pemilihan Presiden Indonesia telah menjadi fokus utama sepanjang tahun 2019. Selayaknya menonton sinetron, topik utama ini terus bersambung dengan drama-drama yang memengaruhi psikologi penontonnya.

Perang dagang telah dimulai sejak Maret 2018 dengan pemberlakuan tarif impor AS dan dibalas oleh China. Pada akhirnya, $250 miliar barang dari China dan $110 miliar barang dari AS dikenakan tarif berkisar 10-25%. Pertemuan demi pertemuan telah dilakukan untuk mencari titik temu kesepakatan dan akhirnya kesepakatan awal fase 1 telah tercapai pada Desember 2019 lalu sehingga kenaikan tarif lebih lanjut dapat terhindarkan.

Selain perang dagang, kekuatiran adanya resesi mencuat pada tahun 2019 setelah beberapa negara mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif. Untuk menangani hal ini, salah satu pelonggaran kebijakan ekonomi yang dilakukan adalah penurunan suku bunga. Hal ini telah berhasil meredam penurunan ekonomi lebih dalam. AS telah melakukan 3 kali pemotongan suku bunga acuan Fed rate dari 2,50% ke 1,75%, sedangkan Bank Indonesia telah memotong suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebanyak 4 kali sebesar 100 bps dari 6,00% ke 5,00%.

Dari domestik, adanya pilpres membuat ketidakpastian meningkat seiring cukup panasnya pergerakan dinamika politik. Namun pada akhirnya situasi kembali kondusif dan berakhir happy ending.

Bagaimana kinerja pasar saham Indonesia di 2019?

Indeks saham IHSG pada tahun 2019 dibuka di level 6.197 dan ditutup di level 6.299 dengan pencatatan kenaikan sebesar +1,70% sepanjang tahun. Adapun kinerja indeks saham lainnya pada tahun 2019 LQ45 +3,23%, IDX30 +2,42%, Sri Kehati +5,78%.

Indeks sektoral yang membukukan kenaikan tertinggi adalah keuangan (+15,20%) dan industri dasar (+14,40%), sedangkan indeks sektoral yang membukukan penurunan terbesar adalah konsumer (-20,10%) dan pertambangan (-12,80%).

Salah satu penyebab penurunan pada sektor konsumer adalah kenaikan harga cukai rokok, yang mencapai 35%, dimana hal ini memberikan sentimen negatif untuk sektor konsumer. Saham terkait yaitu H.M. Sampoerna (HMSP) dan Gudang Garam (GGRM) mencatatkan kinerja negatif sebesar -43% dan -36% dan menjadi pemberat kinerja IHSG di tahun 2019 meskipun saham perbankan seperti Bank BCA (BBCA) dan Bank BRI (BBRI) mencatatkan kinerja yang baik dengan kenaikan sebesar +28,6% dan +20% di tahun tersebut.

 

Reksa Dana Saham dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
TRIM Syariah Saham+8,91%
Batavia Dana Saham Syariah+4,06%
RHB Sri-Kehati Index Fund+3,91%

 

Bagaimana kinerja pasar obligasi di 2019?

Pasar obligasi mencatatkan kinerja yang baik tahun lalu apabila dibandingkan dengan pasar saham, dengan kenaikan Indeks Obligasi BINDO sebesar 14,40%. Kinerja positif dari pasar obligasi didukung oleh kenaikan rating investasi Indonesia dari level BBB- ke BBB oleh Lembaga rating Standard & Poor (S&P). Selain itu, pemotongan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak 4 kali di tahun 2019 juga menjadi katalis positif untuk pasar obligasi Indonesia di tahun 2019. Berdasarkan teori, harga obligasi memiliki korelasi negatif terhadap suku bunga acuan. Artinya adalah, harga obligasi cenderung akan naik apabila suku bunga acuan turun dan maka dari itu keuntungan obligasi didapatkan dari kupon dan kenaikan harga.

 

Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Danareksa Melati Pendapatan Utama+16,84%
Manulife Obligasi Negara Indonesia II+13,24%
RHB Fixed Income Fund 2+12,70%

 

Reksa Dana Campuran dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Trimegah Syariah Berimbang+12,43%
Batavia Dana Dinamis+5,96%
Premier Campuran Fleksibel+5,88%

 

Bagaimana kinerja pasar uang di 2019?

Pasar uang cukup stabil. Meskipun suku bunga deposito mengalami penurunan, beberapa reksa dana pasar uang dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan deposito di bank besar.

 

Reksa Dana Pasar Uang dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Pinnacle Money Market Fund+6,74%
BNI-AM Dana Likuid+6,68%
Principal Cash Fund+6,53%

 

Bagaimana dengan tahun 2020?

Tentunya kita memasuki tahun 2020 dengan optimisme baru. Indeks Manufaktur beberapa negara besar seperti AS, China, dan Indonesia telah menunjukkan adanya kenaikan. Meskipun dinamika perkembangan perang dagang terlihat masih akan berlanjut, namun harapan tercapainya kesepakatan secara bertahap akan menjadi kunci yang akan memberikan sentimen positif ke pasar. Selain itu, dukungan kebijakan ekonomi bank sentral negara-negara besar juga akan membantu untuk menopang perlambatan ekonomi global.

Dari domestik, kami melihat upaya pembangunan infrastruktur dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) akan terus diupayakan oleh pemerintah. Di samping itu, Omnibus Law yang fokus kepada kebijakan tenaga kerja dan perpajakan yang rencananya akan ditetapkan tahun 2020 diharapkan akan membawa dampak positif ke pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan B30 untuk diesel juga diperkirakan akan membantu mengurangi impor migas dan menyerap hasil CPO yang mengalami kendala ekspor ke Eropa tahun lalu. Hal ini diharapkan akan membantu mengurangi defisit rekening berjalan (current account deficit) yang selama ini masih menjadi kekhawatiran pemerintah.

Kami melihat bahwa Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 2 kali sebanyak 50 bps di tahun 2020 apabila inflasi dapat dipertahankan dibawah 4,00% dan didukung dengan Rupiah yang stabil atau menguat. Hal ini akan menjadi katalis positif untuk pasar obligasi. Dengan imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun yang saat ini ada di level 7,07%, kami memperkirakan Reksa Dana berbasis obligasi pemerintah/korporasi jangka menengah masih dapat memberikan keuntungan 7,00-9,00% untuk tahun 2020.

Pertumbuhan laba perusahaan juga diperkirakan akan berada di kisaran 8,00-10,00% di tahun 2020, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi di 5,00-5,10%. Maka dari itu, kami memperkirakan target IHSG berada di kisaran 6.800-6.930 untuk tahun 2020. Untuk hal ini, investor dapat membagi portofolio Reksa Dana saham berbasis indeks dan konvensional/syariah.

Lakukan evaluasi portofolio secara berkala sesuai dengan profil risiko masing-masing individu dibantu oleh fitur Moduit Navigator yang selalu siap membantu mewujudkan perencanaan tujuan kamu.

Jadi tunggu apa lagi? Investasi sekarang di Moduit.

Share:

Market Outlook 2020 – Moduit bersama PT Principal Asset Management

Hi Moduers!

Memasuki tahun 2020, saatnya kita bahas mengenai analisa pasar modal tahun 2020. Untuk hal ini, Moduit telah berkolaborasi bersama salah satu partner Manajer Investasi, PT Principal Asset Management untuk memberikan paparan mengenai ekonomi pasar di tahun 2020. Semoga informasi nya dapat membantu Moduers untuk mempersiapkan tahun 2020 dengan lebih baik lagi ya 😊


1. Bagaimana pandangan mengenai pasar Global di tahun 2020 di tengah perlambatan ekonomi di US dan perang dagang antara US dan China?

Pertumbuhan ekonomi US sudah tumbuh cukup tinggi semenjak tahun 2016 didukung oleh banyaknya faktor pendorong fiskal, seperti pemotongan pajak pribadi di 2016, pemotongan PPN dan juga pemotongan pajak dari korporasi di tahun 2018. Selain itu, terdapat juga pemotongan suku bunga moneter di tahun 2019. Namun kedepannya, kami melihat akan ada perlambatan pertumbuhan ekonomi US yang sekarang berada di sekitar 2,5%-3% dikarenakan tidak adanya lagi faktor pendorong seperti di tahun-tahun sebelumnya. Di samping itu, perang dagang yang belum selesai juga akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi US.

2. Apakah kemungkinan akan ada penurunan suku bunga Fed di tahun 2020?

Ya, kami melihat ada potensi penurunan suku bunga apabila kami memperhatikan beberapa pernyataan dari Bank Sentral belakangan ini. Namun konsensus kedepannya suku bunga akan bergantung kepada data-data perekonomian di US juga. Jika perekonomiannya melambat, kami melihat adanya potensi penurunan sekitar 1 sampai 2 kali lagi. Konsensus untuk probabilitas suku bunga Fed di akhir tahun 2020 pada saat ini ada di sekitar 1,25%-1,5%.

3. Bagaimana pandangan menjelang US election yang akan diadakan di November 2020?

Isu politik merupakan hal yang sangat menarik di tahun 2020 terutama dari sisi US. Namun, perlu diingat terkait Indonesia, politik dari US akan memiliki efek yang netral karena pasar saham dan obligasi Indonesia lebih didorong oleh kinerja Indonesia sendiri: suku bunga, inflasi, kestabilan Rupiah dan juga prospek pertumbuhan laba di 2020. Meskipun masih terdapat banyak hal lain yang perlu dicermati, politik dan stabilitas ekonomi di Indonesia sudah sangat baik. Ditambah lagi dengan adanya potensi reform di 2020 dengan kabinet yang baru, kemungkinan besar pasar modal akan lebih bergairah dibandingkan dengan tahun 2019 dan kedepannya pun diharapakan akan lebih stabil.

4. Bagaimana view outlook ekonomi Indonesia di tahun 2020?

Kondisi perekonomian Global masih sangat challenging di tahun 2020 walaupun kondisi politik dan ekonomi yang stabil di Indonesia. Maka dari itu, kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatively flat di sekitar 5%-5,1%. Salah satu kontribusi terbesar yang juga challenging untuk pemerintah Indonesia adalah konsumsi. Namun kami tetap optimis dikarenakan investasi akan meningkat dengan beberapa kebijakan-kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah dan juga pengeluaran pemerintah yang besar.

Sisi perdagangan Indonesia, impor dan ekspor, juga masih challenging namun menuju tahun 2020 kami melihat faktor ini akan membaik dikarenakan kebijakan pemerintah dari sisi impor. Jadi, kita berharap ekonomi Indonesia akan semakin baik di 2020 dan deficit transaksi berjalan (current account deficit) yang kita khawatirkan selama ini akan membaik di 2020. Selain itu, kami melihat susunan kabinet yang baru akan mempermudah dijalankannya kebijakan-kebijakan yang akan mendorong ekonomi di Indonesia sehingga akan menjadi katalis positif untuk pasar saham di Indonesia.

5. Apakah perlambatan ekonomi Global akan berpengaruh pada ekonomi di Indonesia?

Perlambatan ekonomi Global yang juga disebabkan oleh ketidakpastian perang dagang antara US dan China juga berpengaruh kepada ekonomi Indonesia. Indonesia, sebagai bagian dari dunia, akan terkena dampaknya dari sisi perdagangan antar negara, impor dan ekspor, yang sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Namun, kami berharap di tahun 2020, hal ini akan membaik mengingat pasar yang mengekspektasikan perang dagang US dan China ini akan tetap terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Tapi perlu diperhatikan terdapat sisi positif dari hal ini untuk Indonesia, yaitu Indonesia bisa seperti negara lain seperti Vietnam dan Filipina untuk menjadi salah satu supply chain dari pabrik-pabrik yang seharusnya mungkin berada di China atau di US. Faktor ini juga menjadi salah satu katalis positif untuk Indonesia.

6. Bagaimana pandangan untuk pasar obligasi di tahun 2020?

Tahun 2019 merupakan tahun yang baik untuk pasar obligasi dimana indeks BINDO sudah naik sekitar 13,7% (10 Desember 2019). Kami juga masih positif di tahun 2020, melihat bahwa inflasi masih akan terjaga stabil di level 3%. Terdapat risiko kenaikan inflasi yang diakibatkan oleh beberapa hal seperti kenaikan tarif BPJS, kenaikan cukai rokok dan juga kemungkinan kenaikan tarif listrik. Namun, perlu diingat bahwa pemerintah pasti akan melakukan kebijakan secara hati-hari dikarenakan adanya risiko politik dan sosial. Maka dari itu, pandangan kami terhadap pasar obligasi di tahun 2020 masih positif.

7. Bagaimana view untuk pasar saham di tahun 2020?

Untuk pasar saham di Indonesia, target mengekspektasikan adanya kenaikan sebesar 8% dengan target IHSG tahun 2020 di sekitar 6800. Salah satu positif katalis untuk tahun 2020 adalah Omnibus Law yang mencakup tiga hal yaitu 1) memperluas lapangan kerja yang diharapkan akan menurunkan tingkat pengangguran dan mendorong ekonomi. Kami juga melihat Pak Jokowi sudah sangat fokus kepada pendidikan dan kesehatan yang diyakini akan menjadi penopang untuk Omnibus Law tersebut, 2) dari sisi UMKM dimana sepanjang tahun 2019 ada isu bahwa lending rate akan diturunkan untuk memperluas kredit untuk sektor-sektor UMKM. Apabila hal ini terealisasi, diharapkan sektor UMKM dapat menjadi pendorong untuk ekonomi tahun 2020 dan 3)reformasi pajak yang diharapkan akan menarik foreign direct investment (FDI) ke Indonesia dengan adanya penurunan pajak. Ini juga sebabnya kita mengasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 akan lebih didorong oleh investasi.

Jadi harapannya adalah Omnibus Law ini bukan hanya akan mendorong ekonomi dari sisi UMKM dan lapangan kerja, tapi juga menarik FDI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

8. Bagaimana strategi untuk Reksa Dana pendapatan tetap di tahun 2020?

Pasar obligasi untuk tahun 2020 masih positif dengan real yield di sekitar 4%, dihitung berdasarkan selisih dari yield obligasi di sekitar 7% dan inflasi sekitar 3%. Tahun 2020 diprediksikan inflasi akan berada di kisaran 3% atau sedikit di bawah 3%. Terdapat beberapa risiko seperti inflasi, geopolitik di US dan kemungkinan kekurangan dari penerimaan pajak di tahun 2020. Namun, kami masih positif sampai di semester pertama tahun 2020 dan mempertahankan durasi di 1x benchmark yaitu di sekitar 6 tahun, cukup panjang di semester pertama tahun 2020. Tapi setelah itu kemungkinan kami akan mencoba menurunkan durasi menjadi lebih defensive untuk mengantisipasi adanya ketiga risiko tersebut.

Dari US Treasury atau obligasi dalam denominasi US Dollar, kami melihat pergerakannya akan lebih fluktuatif di tahun 2020. Ini dikarenakan adanya pemilu di US yang merupakan alasan utama. Kedua yaitu tensi perang dagang US dan China yang kemungkinan menjadi pengaruh pada kestabilan politik di tahun 2020. Jadi, kami akan lebih defensive untuk obligasi US Dollar.

9. Bagaimana strategi untuk equity fund di tahun 2020?

Dengan kondisi pasar saham dan obligasi yang positif di tahun 2020, kami mempertahankan porsi yang seimbang untuk portofolio kami. Untuk kelas aset, kami membagi 50% porsi untuk saham dan 50% porsi untuk obligasi didukung dengan adanya ruang untuk penurunan tingkat suku bunga ditambah dengan EPS growth di sekitar 8%-10% di tahun 2020 dengan target IHSG di kisaran 6800. Maka dari itu, mempertahankan porsi 50% saham dan 50% obligasi akan dapat membantu dalam pengelolaan risiko portofolio. Dari sisi sektoral, untuk pasar saham kami memilih sektor perbankan, plantation, infrastruktur dan healthcare untuk portofolio kami.

10. Apakah produk rekomendasi dari PT Principal Asset Management untuk Moduers?

Memilih produk Reksa Dana harus disesuaikan dengan tujuan investasi masing-masing individu. Untuk tujuan investasi jangka pendek, Principal Asset Management merekomendasikan produk Principal Cash Fund. Namun, untuk tujuan investasi dengan jangka yang lebih panjang, produk yang kami rekomendasikan adalah Principal Total Return Equity dan Principal Index IDX30.

 

Narasumber:

  1. Lambok Tobing – Equity Portfolio Manager, PT Principal Asset Management
  2. Cindy Anggraini – Equity Portfolio Manager, PT Principal Asset Management
  3. Alvin Baramuli – Equity Analyst, PT Principal Asset Management
  4. Marlina Tri Maharani – Fixed Income Analyst, PT Principal Asset Management
  5. Trizar Rizqiawan – Fixed Income Portfolio Manager, PT Principal Asset Management
  6. Hendra Pramudya – Business Alliance, PT Principal Asset Management

 

PT Principal Asset Management (Principal) merupakan perusahaan manajer investasi yang berbasis di Amerika Serikat dibawah naungan Principal Financial Group, yang bergabung dalah FORTUNE 500 dan layanan keuangan global yang terdaftar di Nasdaq, dengan CIMB Group Holdings Berhad, salah satu grup perbankan dunia yang terkemuka di Asia Tenggara. Dengan pengalaman lebih dari 140 tahun, Principal Group saat ini memiliki USD 692.2 Miliar dana kelolaan di dunia (per 30 Juni 2019).

The Power of Compounding #ILoveYou10K

Hi Moduers!

Sebelum kita mulai diskusi artikel ini, mungkin Moduers dapat mengambil waktu sejenak untuk memikirkan apakah manfaat dari uang nominal Rp 10.000,- untuk kehidupan sehari-hari Moduers? Secangkir kopi? Uang parkir dua jam? Satu kali biaya masuk tol?

Ya, semua yang dipikirkan Moduers sebagai manfaat dari uang Rp 10.000,- itu semuanya benar, namun apakah Moduers tahu bahwa investasi juga bisa dimulai dari Rp 10.000,-? Apakah Moduers pernah berpikir tentang sesuatu lebih yang dapat dihasilkan dari uang Rp 10.000,- tersebut?

 Contohnya, apabila Moduers berinvestasi sekali sebesar Rp 10.000,- dengan asumsi imbal hasil 10% selama 5 hingga 10 tahun. Maka pada akhir 5 hingga 10 tahun tersebut, uang Rp 10.000,- Moduers akan bertumbuh menjadi sekitar Rp 16 ribu hingga Rp 26 ribu. Ya, mungkin ini terasa kecil, tapi berapa yang akan akan kamu dapatkan apabila kamu berinvestasi secara rutin setiap hari selama periode yang sama?

 

The Power of 10.000

Pernahkah kamu berpikir tentang The Power of 10.000 dimana kamu bisa mendapatkan hasil lebih hanya dengan menyisihkan Rp 10.000,- untuk berinvestasi secara rutin?

Nah, coba bayangkan apabila Moduers menyisihkan uang sebesar Rp 10.000,- untuk berinvestasi secara rutin setiap hari pada produk reksadana pilihan untuk jangka waktu yang sama, 5 hingga 10 tahun. Dengan asumsi imbal hasil 10%* per tahun, total investasi kamu akan menjadi Rp 23,7 juta hingga 62,7 juta di akhir tahun ke 5 dan 10! Apabila Moduers berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih lama seperti 20 hingga 30 tahun, total investasi yang bisa Moduers dapatkan bisa mencapai Rp 230 juta dan Rp 690 juta di akhir tahun ke 20 dan 30. Keren kan!

 

Nah, untuk mengetahui produk apa saja yang menawarkan minimum pembelian mulai dari Rp 10.000,- Moduers dapat log-in ke aplikasi Moduit lalu ke bagian ‘Produk’ dan pilih ‘Filter Produk’. Moduers lalu bisa dengan mudah memilih produk untuk mulai berinvestasi.

 

Lebih baik investasi di satu produk yang sama atau berbagai macam produk yang berbeda?

Bagi Moduers yang bingung sebaiknya berinvestasi di satu atau berbagai macam produk, pernahkah kamu mendengar kutipan dari Warren Buffet, “Do not put all your eggs in one basket”?

Ya! Dari kutipan ini, dapat disimpulkan bahwa lebih baik berinvestasi di beragam produk dibandingkan hanya di satu produk saja. Kenapa? Simple, alasannya adalah untuk mendiversifikasi risiko karena kinerja dari setiap produk reksa dana berbeda-beda dengan tingkat risiko yang berbeda juga. Jadi, dengan berinvestasi di beragam produk, risiko kamu juga dapat lebih terdiversifikasi!

 

Boleh nggak berinvestasi lebih dari Rp 10.000,- sehari?

Jawabannya: sangat boleh! Kamu dapat berinvestasi dengan jumlah dimulai dari Rp 10.000,- hingga berapa pun yang kamu inginkan. Sebetulnya, besaran dana yang disarankan untuk disisihkan untuk tabungan atau investasi adalah minimal sebesar 10% dari penghasilan. Namun, apabila kamu belum bisa untuk menyisihkan dengan jumlah itu, jangan khawatir! Kamu bisa memulai dulu dengan nominal minimum yaitu Rp 10.000,- dan menambah jumlah investasi nya secara bertahap.

 

Jadi yuk, ambil smartphone kamu, download dan install aplikasi Moduit dan jangan tunda lagi untuk mulai berinvestasi!

 

#ILoveYou10K

 

*Imbal hasil 10% hanya sebagai contoh. Imbal hasil investasi akan bergantung kepada produk reksa dana yang Moduers pilih untuk berinvestasi.  

Share:

Tips Memilih Produk Reksa Dana

Hi Moduers,

Seperti yang telah disinggung pada artikel Persiapan Menyambut Cerahnya Bulan Desember Setelah ‘November Rain’, ayo kita bahas tips berikut yang dapat kamu gunakan untuk membantu kamu memilih produk Reksa Dana sebelum berinvestasi!

 

Faktor apa saja yang perlu diperhatikan sebelum memilih suatu produk Reksa Dana?

  1. Profil Risiko Individual

Tingkat risiko produk investasi – termasuk Reksa Dana – bisa bervariasi, tergantung dari jenisnya. Kamu tentunya tidak mau memilih produk yang risikonya jauh lebih tinggi dari tingkat toleransimu. Nah, maka dari itu, penting untuk mengenal profil risikomu supaya kamu tidak salah memilih produk. Setelah kamu download aplikasi Moduit, kamu perlu mengisi daftar pertanyaan untuk menentukan profil risiko kamu. Produk yang sesuai untuk masing-masing individu akan berbeda berdasarkan profil risikonya. Contohnya, apabila kamu adalah seseorang dengan profil risiko konservatif, maka jenis produk Reksa Dana yang paling sesuai untuk kamu adalah Reksa Dana pasar uang, dimana Reksa Dana ini memiliki tingkat risiko yang cenderung paling rendah dibandingkan dengan Reksa Dana jenis lainnya. Penjelasan lebih detil mengenai jenis-jenis Reksa Dana akan kita bahas di artikel berikutnya ya!

  1. Jangka Waktu Investasi

Selain dari profil risiko, faktor lain yang menjadi pertimbangan lainnya dalam memilih suatu produk Reksa Dana adalah jangka waktu investasi. Contohnya, apabila kamu berinvestasi untuk jangka panjang, 30 tahun, kamu mungkin bisa memilih produk Reksa Dana dengan tingkat risiko lebih tinggi untuk memanfaatkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi (high risk = high return). Kenapa? Karena, kamu memiliki waktu yang cukup untuk bisa melewati pergerakan nilai investasi & mengubah strategi sebelum akhirnya kamu sampai di target waktu investasimu. Berbeda dengan situasi dimana kamu ingin berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih pendek, 1 tahun. Untuk situasi ini, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk memilih produk Reksa Dana dengan tingkat risiko yang cenderung lebih rendah supaya tujuan investasimu bisa tercapai dengan lebih pasti.

  1. Kinerja Reksa Dana, seperti kinerja historis dan indikator risiko seperti Sharpe Ratio, standar deviasi dan beta
  • Kinerja historis

Kamu bisa menilai suatu Reksa Dana berdasarkan konsistensi kinerja historis Reksa Dana tersebut terhadap tolok ukurnya. Namun perlu dicatat bahwa kinerja historis tidak mencerminkan kinerja masa depan ya.

  • Sharpe Ratio

Rasio ini merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur seberapa efisien suatu Reksa Dana mencapai imbal hasil berdasarkan tingkat risiko yang dimilikinya. Indikator ini dihitung dengan membandingkan risk dan return dari produk Reksa Dana tersebut. Kinerja Reksa Dana, khususnya Reksa Dana Saham, semakin bagus apabila angka Sharpe Ratio semakin tinggi.

  • Standar Deviasi

Indikator untuk mengukur seberapa jauh perbedaan imbal hasil suatu produk dibandingkan dengan rata-rata imbal hasil historisnya. Semakin tinggi standar deviasi, semakin tinggi potensi risiko.

  • Beta

Indikator risiko untuk mengukur volatilitas suatu produk Reksa Dana dibandingkan dengan pasar atau tolok ukur. Beta = 1 berarti pergerakan Reksa Dana selaras dengan pergerakan pasar. Beta yang lebih kecil daripada 1 berarti pergerakan Reksa Dana lebih stabil dibandingkan pasar dan Beta lebih besar daripada 1 berarti Reksa Dana lebih bergejolak daripada pasar.

 

Selain dari 3 faktor yang telah disebutkan di atas, penting untuk mengetahui konsistensi kinerja dari Manajer Investasi yang mengelola produk Reksa Dana tersebut. Dari seluruh faktor tersebut, mungkin informasi ini yang paling sulit untuk didapatkan atau tidak tersedia secara umum. Namun, jangan khawatir, Moduit sudah melakukan uji kelayakan yang ketat sebelum menambahkan spesifik produk ke dalam aplikasi. Beberapa contoh faktor yang termasuk dalam proses uji kelayakan produk Reksa Dana oleh Moduit adalah konsistensi kinerja dan dana kelolaan dari Reksa Dana secara berkala dan juga risiko dari setiap Reksa Dana tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan produk yang tersedia untuk Moduers adalah produk yang terpercaya. Moduit juga sudah terdaftar, diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan telah mendapatkan lisensi Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Penasihat Investasi.

 

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk investasi! 😊

 

#ILoveYou10K

Share:

Persiapan Menyambut Cerahnya Bulan Desember Setelah ‘November Rain’

Hi Moduers,

Bulan November sudah mau berakhir, apakah kamu sudah memulai berinvestasi? Buat kamu yang belum, yuk mulai berinvestasi apalagi ada promo yang masih tersedia hanya di bulan November ini!

Apakah Moduers sering mendengar pepatah ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’? Nah sekarang kita mau memberitahukan fakta menarik untuk Moduers sebagai persiapan menyambut bulan Desember yang kemungkinan cerah setelah ‘November Rain’.

Fakta menarik apa sih yang ada di bulan Desember?

Dari tahun 2001-2018, IHSG mencatatkan kinerja positif sebanyak 18 kali. Ya! Itu artinya IHSG selalu mencatatkan kinerja positif di bulan Desember selama 18 tahun terakhir, dengan rata-rata kenaikan sebesar 4,42%. Kenaikan tertinggi terjadi di tahun 2003 sebesar 12,12% dan terendah di tahun 2013 sebesar 0,41%. Fenomena ini juga banyak dikenal dengan sebutan window dressing.

Apa itu window dressing dan apakah kaitannya dengan pasar modal?

Fenomena window dressing akrab dikenal sebagai momen dimana pasar bergerak cenderung lebih positif pada akhir tahun, yakni di bulan Desember. Window dressing cenderung lebih berkaitan dengan reksa dana saham dikarenakan porsi saham yang lebih tinggi (minimum 80%) pada jenis reksa dana ini. Adapun penyebab window dressing pada instrumen investasi reksa dana adalah Manajer Investasi yang berusaha meningkatkan kinerja reksa dana nya dengan melakukan portfolio rebalancing menjelang publikasi laporan keuangan akhir tahun.

Namun, upaya meningkatkan kinerja reksa dana tidak hanya dilakukan oleh Manajer Investasi pada akhir tahun saja. Manajer Investasi secara aktif mengelola portfolio reksa dana mereka. Maka dari itu, penting untuk melakukan penilaian terhadap strategi investasi sebelum berinvestasi di suatu produk reksa dana. Tersedia beragam dokumen seperti Prospektus dan Fund Fact Sheet, serta indikator seperti sharpe ratio dan standard deviation yang dapat membantu Moduers dalam proses memilih reksa dana. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut di artikel selanjutnya ya!

Jadi kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?

Jawabannya adalah setiap saat!

Walaupun fenomena window dressing ini terjadi di akhir tahun, namun berinvestasi tetap dapat dilakukan kapan saja. Kenapa? Karena dalam berinvestasi kita juga perlu memperhitungkan tujuan keuangan dan periode berinvestasi. Di samping itu, jenis instrumen investasi tertentu juga cocok untuk periode tertentu. Ini yang menyebabkan pentingnya untuk melakukan peninjauan portfolio secara berkala untuk memastikan kemaksimalan kinerja portofolio Moduers. Kita akan bahas lebih detil mengenai hal ini di artikel berikutnya ya! Stay tuned!

 

Jadi, yuk mulai berinvestasi secara rutin. Seperti yang telah dibahas di artikel Financial Freedom – Penting atau Nggak?, apabila kamu berinvestasi Rp 10.000,- secara rutin setiap hari selama 30 tahun dengan asumsi return 10% per tahun, total investasi kamu di akhir periode investasi bisa mencapai sekitar Rp 690 jutaan.

 

Apakah Moduers sudah melakukan persiapan yang cukup untuk menyambut cerahnya bulan Desember?  😊

 

#ILoveYou10K

Share:

'November Rain' di Pasar Modal – Apa artinya?

Hi Moduers,

Kalian pasti aware kan kalo bulan November itu sudah mulai memasuki musim hujan?

Tapi apakah Moduers pernah mendengar term ‘November Rain’ di pasar modal? Bukan ‘November Rain’ lagunya Guns N’ Roses ya walaupun kedengarannya sama.

Note: Buat yang penasaran atau mau mendengarkan lagu ‘November Rain’ by Guns N’ Roses, bisa cek di akhir artikel ini ya 😊

Kenapa sih term ‘November Rain’ juga digunakan di pasar modal?

Moduers tahu nggak selama 10 tahun terakhir yakni tahun 2009-2018, IHSG menunjukkan kinerja positif hanya sebanyak 3 kali di bulan November. Yes! Artinya 7 kali lainnya, IHSG menunjukkan kinerja negatif di bulan November – berbeda dengan bulan Desember dimana selama periode yang sama (2009-2018), IHSG menunjukkan kinerja positif sebanyak 10 kali!

Jadi ini nih penyebab nya kenapa term ‘November Rain’ juga digunakan di pasar modal.

Jadi kira-kira apa yang sebaiknya Moduers lakukan?

Sama seperti persiapan musim hujan – Moduers harus sedia payung sebelum hujan! Artinya?

Moduers bisa memanfaatkan moment ‘November Rain’ ini untuk take the opportunity untuk mulai berinvestasi di reksa dana. Takut ribet? Jangan khawatir! Sahabat Moduers bisa banget investasi tanpa ribet menggunakan aplikasi Moduit dengan nyaman di genggaman tangan. Bingung cara memulainya? Yuk, cek cara berinvestasi dengan Moduit disini.

Dan lebih seru nya lagi, Moduit lagi ada promo spesial di bulan November yaitu cashback berbentuk unit penyertaan reksa dana senilai Rp 100.000,-. Moduers bisa temukan detail promo nya disini ya.

Seru kan! Jadi tunggu apa lagi? Jangan sampai kelewatan kesempatan ini! 😊

 

P.S: Ini yaa buat yang penasaran atau mau mendengarkan lagu ‘November Rain’ by Guns N’ Roses

Share:

Satrio Tower, 6th Floor
Jl. Prof. Dr. Satrio Blok C4 No. 5
Jakarta Selatan 12950, Indonesia

Petunjuk Arah

Jam Operasional
Hari bursa pukul 08.30 – 17.00 WIB

  • Tel.+6221 5020 2900
  • Fax.+6221 5020 2922
Chat Dengan Kami
Follow
Available at:
Tersedia di: