Cerita Moduers – Investasi Online vs di Bank

Aku mulai investasi di reksa dana sudah lebih dari 5 tahun yang lalu. Awalnya sih cuma tahu kalau ada beberapa macam reksa dana, yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. Setelah membaca beberapa artikel jadi mengerti kalau reksa dana pasar saham menjanjikan keuntungan paling besar, sedangkan reksa dana pasar uang adalah yang kecil.

 

Kemudian aku mulai dengan memetakan profil risikoku. Dengan berbekal pengetahuan yang minim itu, aku dengan percaya diri berangkat ke bank untuk membuka rekening reksa dana. Ternyata sampai di bank, tiap-tiap reksa dana itu masih ada pilihannya juga, masing-masing bisa antara 10 sampai 30 macam. Alhasil karena keterbatasan pengetahuan, aku asal tunjuk saja akhirnya ke perusahaan mana saja yang kira-kira bisa menghasilkan. Bagiku yang penting sebagian masuk ke saham, sebagian lagi masuk ke pasar uang karena aku mengharapkan hasilnya lebih banyak, tapi sekaligus juga mengharapkan perlindungan di sisi lain.

 

Prosesnya cukup panjang dan memakan banyak waktu saat itu, aku harus pergi ke bank, antri CS, saat di CS isi begitu banyak formulir, dan saat pulang membawa beberapa berkas, memakan waktu berjam-jam. Waktu itu sih masih cukup ribet ya untuk Investasi reksa dana ataupun untuk memilih-milih reksadananya, tidak sepraktis zaman sekarang yang tinggal klik. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di “zaman now”.

 

Pertama kali membuka rekening aku langsung berinvestasi secara lump sum (di depan) dan menabung rutin setelahnya.  Sayangnya hasil investasi reksa danaku meskipun berkembang, tapi masih sangat jauh dari yang aku harapkan karena aku tidak berinvestasi secara rutin. Hanya beberapa bulan awal dan setelah itu lupa. Padahal kalau saja aku tetap rajin berinvestasi saat itu, mungkin hasil yang aku dapat saat ini jauh lebih banyak ya. Yah nasi sudah menjadi bubur, apa daya.

 

Akhirnya aku mencoba lagi berinvestasi, kali ini dengan lebih rutin, lebih konsisten, setiap bulan aku menyisihkan. Kali ini yang aku sisihkan bukan hanya untuk ditabung saja, tapi benar-benar untuk diinvestasikan, thanks God, kali ini karena kemajuan teknologi semua bisa dilakukan dari rumah, dengan hanya hitungan menit, kita sudah resmi sebagai investor. Sangat amat nyaman sekali dibandingkan zaman dulu. Kini sudah beberapa tahun aku berinvestasi dan aku mulai merasakan hasilnya. Kalau dulu hasil investasiku sama sekali tidak tampak menghasilkan atau bisa dibilang seperti tidak ada hasilnya, sekarang 40% monthly income adalah dari hasil berinvestasi. Wow, kalau dipikir-pikir, cukup bagus ya, karena dulunya hasilnya bahkan tidak mencapai 1% dari monthly income. Target jangka pendekku adalah hasil investasiku minimal sama dengan atau lebih besar hasil dari aku bekerja secara aktif. Sedangkan target jangka panjangku, aku bisa hidup dari passive income, dimana aku sudah tidak bekerja lagi karena sebuah keharusan, tapi hanya untuk giving back to the society. I believe in the power of compound interest.

 

(more…)

Share:

Mau Investasi? Ya di Moduit aja!

Hi Moduers,

The journey of a thousand miles begins with a single step. Seperti kutipan oleh Lao Tzu ini, sekarang adalah saatnya untuk kamu mengambil langkah pertamamu untuk mempraktikkan pengetahuan yang sudah kamu pelajari dari artikel-artikel sebelumnya, Moduers! Pastinya kamu sudah lebih memahami banyak hal mengenai investasi, tapi pengalaman kamu belum lengkap apabila kamu belum mencoba berinvestasi sendiri. Yuk, mulai!

 

‘Aku ngga tahu cara mulainya’

Di zaman yang semuanya serba mudah dimana segala proses dibuat menjadi lebih sederhana, ditambah lagi dengan kemajuan dunia teknologi yang sudah menjadi lebih canggih kamu dapat mulai berinvestasi hanya melalui smartphone yang selalu ada di genggaman tangan kamu tentunya melalui aplikasi Moduit. Dari proses pengunduhan aplikasi, registrasi sampai proses transaksi semuanya dapat dilakukan melalui smartphone kamu.

 

Caranya sangat mudah dan sederhana hanya dengan 3 langkah saja:

  1. Ketik ‘Moduit’ di App Store atau Play Store dan unduh aplikasinya

Sama seperti proses untuk mengunduh aplikasi lainnya, kamu pasti sudah fasih dalam hal ini kan? Jadi tunggu apalagi, yuk langsung unduh aplikasi Moduit!

  1. Isi data diri dan kuesioner profil risiko

Jangan lupa untuk foto dengan kartu identitas kamu ya dan juga isi data diri dengan lengkap supaya proses verifikasi akun kamu dapat dilakukan dengan cepat dalam 1 hari kerja! Kamu dapat mengecek nomor Single Investor Identification (SID) kamu di halaman profil setelah proses registrasimu berhasil. Isi juga kuesioner profil risiko yang telah tersedia, pertanyaannya engga banyak dan kamu akan langsung tahu profil risiko kamu! Sudah tahu pentingnya untuk mengetahui profil risiko diri sendiri kan? Kalau lupa, cek artikel ini ya!

  1. Pilih produk dan memulai berinvestasi

Melalui aplikasi Moduit, kamu dapat memilih produk dengan mudah karena tersedia opsi ‘filter produk’. Nah, kamu bisa filter produk berdasarkan kriteria pilihan kamu: jenis reksa dana, Manajer Investasi, pembelian minimal dan lain-lain.

 

Sangat mudah kan, cobain langsung yuk!

 

‘Aku ngga tahu langkah selanjutnya’

Kamu sudah menyelesaikan 3 langkah yang telah disebutkan di atas? Namun, kamu bingung langkah selanjutnya, seperti nominal investasi dan produk yang harus dibeli? Jangan khawatir karena Moduit telah menyediakan fitur yang akan membantu perencanaan keuangan kamu untuk mencapai tujuan finansial kamu.

 

Moduit Navigator

Apakah kata navigator mengingatkan kamu dengan GPS yang biasanya kamu gunakan saat sedang mencari jalan saat menyetir atau menjelajah tempat baru saat berjalan-jalan? Ya, fitur yang tersedia di aplikasi Moduit ini memiliki kegunaan yang sama yaitu membantu kamu mencapai tujuan finansial kamu.

 

Melalui Moduit Navigator, kamu bisa menentukan tujuan finansial kamu seperti membeli rumah, mobil, pendidikan, pergi liburan impian atau pun tujuan lainnya. Kemudian kamu dapat mengisi nominal investasi yang kamu inginkan untuk mencapai nilai pengembalian yang sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan finansial yang telah kamu tentukan. Lebih menariknya lagi, fitur Moduit Navigator ini akan memberikan rekomendasi portofolio yang sesuai untuk kamu berdasarkan profil risiko kamu. Jadi dengan menggunakan fitur ini, kamu akan dengan lebih mudah menentukan alokasi portofolio kamu dan mulai memilih produk sesuai dengan porsi yang telah direkomendasikan.

 

 

‘Aku bingung mau memilih Reksa Dana yang mana karena ada banyak pilihan dari setiap jenisnya’

Jangan bingung, Moduers! Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih Reksa Dana untuk berinvestasi seperti kinerja historis, sharpe ratio, standar deviasi dan juga beta dari produk Reksa Dana itu sendiri yang dapat ditemukan di halaman produk melalui aplikasi Moduit. Kamu dapat mempelajari tips memilih Reksa Dana dari sini. Selain itu, apakah Moduers sudah tahu bahwa Moduit sangat mengedepankan keamanan pengalaman berinvestasi kamu? Untuk hal ini, Moduit telah melakukan proses seleksi yang ketat dan teliti sebelum memasukkan produk Reksa Dana ke dalam aplikasi Moduit. Hal ini bertujuan untuk memberikan pilihan produk terbaik untuk Moduers supaya Moduers dapat lebih tenang dalam berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial masing-masing di aplikasi Moduit.

 

Jadi, jangan tunda lagi untuk praktik ya 😊

 

 

#SalamModuit

Share:

Cerita Moduers – Berperang dengan Instrumen Investasi

 

Investasi itu bukan hal yang bisa diukur dengan angka saja, karena menurutku investasi itu seni. Faktor psikologis sangat berperan disini. Bisa saja kamu jago berhitung, tapi kalau secara psikologis tidak matang, maka emosi yang berperan besar. Saat emosi mengendalikan logika, kerugian akan dimulai.

 

Ada kalimat bagus dalam buku seni berperang – Sun Tzu, The Art of War” Jika Anda tahu musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri, tapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak tahu akan musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran.”

 

Zaman sekarang memang tidak ada perang, tapi dalam berinvestasi itu analoginya hampir sama dengan perang. Musuh disini dapat kita asumsikan sebagai portofolio kita (aset atau instrument investasi apapun yang kita miliki).

 

Saat kita tahu sifat aset yang kita miliki, dan juga sifat kita, dan kita memilih cara serta aset yang sesuai dengan profil risiko kita, maka keuntungan di depan mata. Saat kita tahu profil risiko kita, tapi kita memilih aset yang tidak kita kenal atau tidak sesuai profil risiko kita, maka hasilnya 50:50, bisa untung atau bisa rugi. Tapi paling bahaya kalau kita tidak mengenal instrumen investasi kita dan tidak mengenal profil risiko kita, bersiaplah untuk kehilangan uang.

 

Hal ini juga aku alami di awal-awal, karena tidak mengenal “musuh”, maka aku menderita kerugian yang cukup besar. Perlahan aku mulai mencoba dari awal, bukan dari mencoba mengenali “musuh”, karena jelas itu lebih sulit dibanding mengenali diri sendiri. maka dari itu aku mulai memetakan profil risiko utnuk mengenali diri sendiri. Saat sudah mengenal diri sendiri, aku mulai mempelajari sifat “musuh”. Awalnya juga sama, tingkat untung dan rugi hampir berimbang, alias hampir tidak mendapatkan hasil, namun saat aku mengenal “musuh” lebih dalam lagi, persentase kemenanganku mulai bertambah. Portofolio mulai bertumbuh dan mulai menghasilkan.

 

Tentu ini tidak bisa dijadikan alasan berpuas diri, karena “musuh” tersebut baru saja aku kenali, tentu masih banyak yang harus dipelajari. Semoga saja dengan makin mengenalnya, dan juga mengenal diri sendiri dengan lebih baik, aku bisa menerapkan strategi “perang” yang lebih baik, agar dapat meraih lebih banyak kemenangan. Bagaimana cerita investasimu? Sudahkah kamu mengenal diri sendiri dan instrumen investasimu?

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

Share:

Hari Bursa

Apa itu hari bursa?

Semua transaksi reksa dana, baik pembelian; penjualan kembali; maupun pengalihan, diproses setiap hari bursa. Hari bursa adalah hari diselenggarakannya perdagangan efek di bursa yaitu hari Senin sampai dengan Jumat, kecuali hari tersebut merupakan hari libur nasional atau dinyatakan sebagai hari libur Bursa oleh Bursa Efek Indonesia. Tahun 2020 ini terdapat 240 hari bursa yang berarti terdapat 126 hari libur bursa. Detil selengkapnya dapat dilihat di tabel di bawah ini.

Dampak libur bursa pada transaksi

Pada saat libur bursa, transaksi Anda akan tertunda untuk diproses pada hari bursa selanjutnya. Misalnya Anda memasukkan instruksi penjualan di hari Sabtu, maka pesanan penjualan tersebut akan diproses pada hari bursa berikutnya, yaitu hari Senin.

Sebagai ilustrasi, berikut penyesuaian atas transaksi tersebut:

Waktu Konfirmasi Transaksi
Tanggal NAB/Unit (T)
Pengkinian Unit di Portofolio
27 Oktober 2020
(sebelum pk 13.00 WIB )
27 Oktober 2020
2 November 2020
27 Oktober 2020
(setelah pk 13.00 WIB)
28-30 Oktober 2020
(libur bursa)
2 November 2020
(sebelum pk 13.00 WIB)
2 November 2020
3 November 2020
Jadwal Pembayaran Dana Penjualan Kembali
T+1
T+2
T+3
T+4
T+5
T+6
T+7
2 Nov
3 Nov
4 Nov
5 Nov
6 Nov
9 Nov
10 Nov
3 Nov
4 Nov
5 Nov
6 Nov
9 Nov
10 Nov
11 Nov

Cerita Moduers – Kilometer Pertama

 

 

Teori tidak sama dengan praktik, ungkapan ini sunggulah tepat. Saat kita belajar berenang, sudah tahu teorinya, baca petunjuk berenang pun, mungkin di awal-awal kita masih saja menelan begitu banyak air atau bahkan hampir tenggelam. Saat kita berlari, mungkin awalnya cuma kuat 1 hingga 2 km. Itu wajar, bagian dari proses belajar. Memang berat di awal, tapi mungkin suatu hari nanti kita akan menengok ke belakang dan melihat proses tersebut sebagai kenangan yang “lucu”. Saat ini aku juga dalam posisi belajar, meskipun sudah membaca beberapa buku, tetap saja, ternyata praktik tidak semudah teorinya. Secara teori mengerti, tapi praktiknya masih keliru dan kadang bisa menyimpang. Tahu basic-nya pun masih bisa ragu-ragu, masih bisa tidak percaya diri dalam bertindak, masih berusaha menyesuaikan diri.

 

Dalam waktu yang begitu singkat ini aku belajar banyak kesalahan di pasar saham, dimana dulu aku cuma bisa mendengar saja, tapi ternyata meskipun sudah mendengar, dan berusaha, aku pun tetap melakukan banyak kesalahan dan kegagalan, diantaranya:

 

  1. Ikutan panik, disaat yg lain panik.
  2. Terlalu cepat mengambil keuntungan, bak memetik bunga sebelum mekar.
  3. Terlalu banyak tingkah (buy and sell) menyebabkan keuntungan makin berkurang.
  4. Tidak membuat plan, sehingga saat-saat genting selalu tertinggal dalam bertindak.
  5. Kurang berani cut loss saat salah mengambil keputusan.

Yah itulah daftar kesalahanku, dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan lainnya yang kalau aku sebut bisa beberapa halaman, terlalu banyak.

 

Aku pun turut merasakan senangnya baru beli suatu saham tiba-tiba sudah untung. Tapi juga merasakan saat harga saham berguguran, melihat portofolio tiba-tiba minus dalam hitungan menit, tiap jam makin berkurang saja jumlahnya. Sempat merasakan punya saham, tapi tidak bisa dijual. Mau beli saham, tapi tidak kebagian. Ah, ternyata begini rasanya…

 

Sempat rasanya ingin berhenti, tapi aku beruntung sekali punya mentor yang menyemangati plus selalu memberikan rekomendasi buku-buku (yang lebih mirip bantal, saking tebalnya 😉). Semoga saja buku-buku tebal itu bisa terbaca nantinya. Untungnya meskipun sudah banyak melakukan kesalahan, tidaklah fatal. Semoga saja ke depan bisa mengurangi kesalahan-kesalahan bodoh itu, dan bisa menjadi lebih baik lagi sebagai investor. Memang di pasar modal tidaklah mudah. Jauh kebih mudah dan nyaman berinvestasi di deposito, emas, maupun reksa dana, apalagi bila tidak ada waktu luang. Turut merasakan krisis besar di tahun ini, semoga memberiku banyak pelajaran berharga ke depannya.

 

Yah, ini kilometer pertamaku. Memang perjalanannya masih panjang, aku harap bisa segera menyusul di kilometer berikutnya. Semoga hasil tidak menghianati usaha. 😉

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Lima Hukum tentang Emas

Pernahkah kamu merasa sudah bekerja begitu keras tapi uang yang terkumpul hanya “segitu-segitu” saja? Atau sudah menerima uang tapi tidak ada uang yang tersisa di akhir bulan?

 

Aku rasa hampir semua orang pernah mengalaminya, atau minimal pernah tahu orang yang mengalaminya. Aku rasa aku juga pernah terutama saat belum mandiri dan belum mulai bekerja. Hanya menerima uang, memakai, menjelang akhir bulan kantong kempes. Berusaha seirit mungkin di awal bulan dan tetap tidak ada sisa di akhir bulan.

 

Baru-baru ini aku membaca buku The Richest Man in Babylon, buku yang sangat menginspirasi dan bagus. Di buku ini tertulis prinsip-prinsip sederhana tentang pengelolaan keuangan yang bisa kita terapkan yaitu lima hukum tentang emas (zaman dulu orang menggunakan emas sebagai alat tukar):

 

  1. Dengan senang hati dan dalam jumlah yang semakin besar, emas akan mendatangi siapapun yang mau menyisihkan tidak kurang dari sepersepuluh penghasilannya untuk menciptakan harta benda bagi masa depannya maupun keluarganya.
  • Prinsip ini mengajarkan untuk menyisihkan dahulu sebelum memakai, minimal 10%. Awalnya memang tidak mudah, tapi lama-lama bisa menjadi habit yang menguntungka
  1. Dengan rajin dan riang gembira, emas bekerja bagi pemiliknya yang bijaksana, yang menemukan bagi emas itu pekerjaan yang menguntungkan sehingga ia beranak-pinak seperti kawanan ternak di padang.
  • Berinvestasilah di tempat yang menguntungkan. Uang kita tidak akan berkembang dengan kita diamkan saja di rekening apalagi cuma di dalam dompet 😀
  1. Emas aman dalam lindungan pemiliknya yang bijak, yang menginvestasikannya berdasarkan nasihat orang-orang yang terbukti ahli dalam pengelolaannya.
  • Bila kamu belum mengerti tentang investasi ada baiknya bertanya atau bahkan menyerahkan pada ahlinya bila diperlukan
  1. Emas akan lari dari orang yang menginvestaikannya dalam usaha atau tujuan yang tidak diketahuinya dengan baik, atau tidak dianjurkan oleh orang-orang yang ahli dalam pengelolaannya.
  • Bertanya pada tempat yang tepat dan ketahui lingkaran kompetensi kita. Hanya berinvestasi di instrumen yang kita pahami dengan baik
  1. Emas akan lari dari orang yang memaksanya untuk memberi penghasilan yang mustahil, atau yang mengikuti bujukan mulut manis para penipu maupun pemimpi di siang bolong, atau yang tidak berpengalaman dan muluk-muluk dalam berinvestasi.
  • Hasil yang terlalu besar dan tidak realistis harus dipertanyakan. Aku sudah mengalami kerugian karena money game  yang menjanjikan hasil yang muluk. Ujung-ujungnya malah membawa kerugian. Lebih baik mencari hasil investasi dengan angka yang realistis.

 

Apa yang aku alami dulu, sudah tidak aku alami lagi sejak menjalankan kelima prinsip ini dan juga melakukan money management sederhana. Kamupun bisa memulainya.

 

_ A Journey starts with a single step _

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Mau Jadi Kaya dari Krisis, Sekarang atau Menunggu Krisis Berikutnya? Pilihanmu, Moduers!

Hi Moduers,

Tidak terasa sudah hampir 2 bulan mayoritas dari kita telah menjalankan New Normal, yaitu melakukan aktivitas-aktivitas secara online. Buat cowok-cowok, apakah rambut kamu dibiarkan gondrong atau kamu mencoba Do It Yourself (DIY) namun pitak nih karena salah potong? 😊 Buat cewek-cewek, apakah kamu masih melakukan perawatan wajah walau DIY 😊?

 

Ternyata dalam masa krisis seperti ini banyak hal-hal baru yang bisa kita lakukan ya. Banyak transformasi atau perubahan yang telah kita lakukan, misalnya meeting-meeting yang kita lakukan secara online, melalui platform-platform meeting yang tersedia. Gak cuma kita loh yang berubah, Tukang Sayur juga sekarang bisa berjualan online melalui Whatsapp (WA).

Memang benar dalam menghadapi krisis, tergantung bagaimana kita mau melihat dan menyikapinya. Ibarat kita melihat suatu gelas berisi air setengah penuh: apakah kita mau melihatnya sebagai gelas setengah terisi atau gelas setengah kosong? Dalam Bahasa Cina, kata ‘krisis’ terdiri dari dua karakter yang masing-masing berarti ‘bahaya’ dan ‘peluang’. Karena makna ganda tersebut, kata ‘krisis’ atau yang disebut dengan ‘wei ji’ sering digunakan dalam pembahasan motivasi di dunia Barat.

 

Krisis juga menghasilkan banyak orang kaya baru. Orang-orang ini telah berhasil melihat dan memanfaatkan krisis menjadi suatu peluang. Moduers pasti ingin juga menjadi seperti mereka, kan? Yuk kita lihat, apa saja sih yang mereka lakukan supaya bisa berhasil:

  1. Accept – Membuka hati kita untuk menerima keadaan ini. Mungkin kita tidak bisa lagi melakukan kegiatan dan kebiasaan lama. Namun, sekarang ada kegiatan dan kebiasaan baru yang harus dilakukan.
  2. Adapt – Beradaptasi dengan kegiatan dan kebiasaan baru kita ini. Misalnya, seperti Tukang Sayur yang biasanya berjualan keliling kompleks perumahan, menunggu Ibu-Ibu berkumpul. Sekarang mereka harus beradaptasi dengan cara baru yaitu menggunakan WA: tinggal terima orderan setelah itu dikirim ke masing-masing pelanggan.
  3. Adjust – Coba kita fine tune, apa yang bisa kita tingkatkan lagi dari keadaan ini. Kembali lagi ke contoh dari Tukang Sayur, mereka dapat melakukan penambahan variasi dagangan, misalnya buah-buahan dan daging, tidak hanya sekedar sayuran saja.

 

    • Kalau gitu, peluang apa saja sih yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi kaya?
    • Peluang berbisnis baru atau ekspansi bisnis
    • Peluang untuk berinvestasi, mumpung harga-harga saham lagi diskon gede-gedean

 

Menjadi kaya di masa krisis gak melulu soal uang kok Moduers. Kita juga bisa memperkaya (upgrade) diri dengan meningkatkan keahlian (skill) dan juga meningkatkan pengetahuan kita. Terlebih sekarang ini informasi dapat dengan mudah diakses melalui online, banyak hal yang bisa kita pelajari melalui content-content yang tersedia online.

Kalau Moduers ingin meningkatkan pengetahuan tentang investasi khususnya reksadana, Moduers bisa untuk mengakses link ini :

Nah gimana Moduers, mau melihat kondisi sekarang sebagai peluang dan memanfaatkannya supaya bisa menjadi Kaya di Krisis yang sekarang atau menunggu waktu lain yang mungkin masih kapan-kapan? Tentukan pilihanmu, Moduers!

 

Stay Healthy and Stay Safe

 

 

#SalamModuit

Share:

Cerita Moduers – Mengenal Pasar Saham

Sejak empat tahun yang lalu saya sudah mulai tertarik dengan yang namanya pasar saham. Sebenarnya tahu kata saham pertama kali sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Namun sayangnya yang aku dengar antara lain seperti ini saham itu judi, saham itu bisa bikin bangkrut, saham itu berbahaya, kalau investasi saham harus siap untuk rugi. Biasanya yang berinvestasi saham itu harus terjaga sepanjang malam dan harus selalu di depan layar komputer. Sayangnya itu sama sekali tidak benar ternyata. Tergantung bagaimana cara pandang, dari sudut perspektif mana kita melihat dan juga tergantung dari cara kita untuk berinvestasi. Bila kita berinvestasi secara asal-asalan, ya kita harus siap untuk rugi. Bila kita berinvestasi di pasar modal asing ya kemungkinan kita harus mengecek market di malam hari karena perbedaan waktu. Jadi ternyata tidak semua yang aku dengar itu betul.

 

Katanya harus ada modal paling tidak ratusan juta untuk berinvestasi. Sayang itu juga lagi-lagi tidak betul, ternyata dengan modal minim mulai dari 10 juta atau bahkan kurang saat ini kita sudah bisa berinvestasi di pasar modal. Nah sejak empat tahun lalu aku mengenal beberapa teman yang menjadi investor. Aku mulai tertarik dengan yang namanya pasar modal. Sayangnya aku belum menemukan mentor dan belum menemukan panduan yang tepat untuk belajar. Mungkin aku yang kurang usaha.

 

Di tahun 2018 aku makin penasaran dengan yang namanya pasar modal karena aku melihat teman-temanku yang berinvestasi itu hasilnya cukup baik selain itu mereka juga punya waktu lebih. Awalnya aku tidak paham apa yang mereka bicarakan bahkan kode-kode saham (BB*I, BB*A, dll), seperti kode morse di telingaku. Akhirnya aku mulai bertanya ke kanan dan ke kiri. Menanyakan bagaimana cara berinvestasi di pasar modal. Ya sayangnya sih 9 dari 10 menjawab “Hey jangan, itu judi, itu merugikan, itu berbahaya, uangmu bisa hilang”. Semua jawaban mengecewakan. Ya sebenarnya tidak heran karena mereka sempat mengalami kerugian di pasar saham. Tapi setelah kutelusuri, penyebabnya karena mereka asal mencoba berinvestasi tidak belajar sebelumnya.

 

Akhirnya aku mencoba bertanya kepada yang lain, siapa tahu mungkin aku salah bertanya. Meskipun aku bertanya kepada yang sudah pernah berinvestasi mereka cuma berkata “Buat apa kamu berinvestasi di pasar saham, hati-hati lho nanti uangmu hilang”, padahal mereka berinvestasi. Aku jadi semakin tidak mengerti. Aku datang kepada mereka yang cukup sukses berinvestasi dan bertanya bagaimana caranya mengerti pasar saham ini tapi aku tidak mendapat jawaban, mereka tidak memberikan pencerahan padaku sedikitpun.

 

Karena merasa sudah mentok akhirnya aku mencari cara lain yaitu dengan belajar sendiri. Aku sempat mengikuti sesi seminar salah satu konglomerat saham dan mulai membaca buku yang disarankan beliau. Dari sesi itu aku cukup mendapat pencerahan rasanya seperti ada titik terang di tengah kegelapan. Aku mulai membaca satu buku yang disarankannya. Kemudian aku juga mengikuti seminar kedua di tahun 2019 dan mulai membaca buku lainnya. Sebenarnya langkahku ini ditertawakan oleh banyak orang. Namun, ya sudahlah, setiap orang punya pandangan dan persepsi, serta caranya sendiri-sendiri. Setidaknya dibanding 2 tahun lalu, aku jauh lebih mengerti tentang saham.

 

Aku mulai membuka akun saham di awal tahun 2020. Yah sebenarnya masih terlalu dini untuk berbagi, karena akupun masih pemula. Namun karena aku percaya pada seseorang yang mendorongku untuk berbagi, aku mulai menulis artikel-artikel ini. Back to the topic. Aku mulai memberanikan diri untuk membeli saham pertamaku, salah satu saham yang baru saja IPO di tahun 2020. Saat itu aku bahkan tidak tahu caranya membeli dan menjual saham. Apa itu bid dan offer aku tidak mengerti. Sehingga asal klik saja. Alhasil setelah pembelian berhasil, dan saham yang aku pilih naik banyak, aku tidak berhasil menjualnya alias terjadi cut profit (profit berkurang dari yang seharusnya dicapai). Dari yang harusnya untung 50% menjadi hanya untung 25%. Cukup baik sih untuk pemula seperti aku, tapi jelas kurang memuaskan. Kalau kata temanku ini namanya just beginner luck, tapi bagiku bukan, karena ada pertimbangan tersendiri kenapa aku memilih saham tersebut dan yakin sahamnya akan naik (meskipun, bisa saja aku ternyata keliru).

 

Setelah mendulang untung di saham pertama. Aku mulai melirik saham lainnya. Meskipun aku sudah belajar, ternyata yang aku pelajari masih minim sekali. Aku memang sudah bisa memilah mana perusahaan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan. Namun, ternyata list-nya masih cukup panjang, hampir 200 perusahaan, dimana kita tidak mungkin berinvestasi di 200 perusahaan sekaligus. Setelah kusaring tetap saja jumlahnya masih di angka 100 lebih, masih terlalu banyak. Merasa menemukan jalan buntu, aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri.

 

Sampai pada suatu titik, dimana akhirnya aku bisa memilah 200 perusahaan dengan “sangat cepat” (dibandingkan sebelumnya). Berarti kali ini aku tinggal membeli sahamnya saja. Tapi pada kenyataannya… meskipun aku pernah mengalami namanya rapot merah karena kredit macet di P2P, tetap saja warna merah pada saham membuatku sedikit kuatir dan tidak tenang. Aneh sekali pikirku, padahal awalnya aku cukup pede kalau aku siap menghadapi hal tersebut. Salah seorang mentor mengatakan bahwa itu hal yang wajar mengingat aku baru belajar. Yah seperti orang yang baru belajar menyetir mobil, mungkin awalnya tidak bisa, mungkin satu dua kali menyerempet, mungkin sedikit berdebar-debar, hal itu wajar karena aku belum terbiasa. Ada quote mengatakan “Practice makes perfect”. Yes, that’s right!

 

Pengalaman mendulang cuan di saham pertama, bukan berarti menandakan akan selalu cuan. Karena adanya Covid, portofolioku sempat hampir semua merah. Awalnya aku santai saja melihat portofolio kebakaran, bahkan sempat averaging down di salah satu saham, hingga akhirnya malah untung. Namun, berjalan dengan waktu aku banyak mendengar kata-kata, hati-hati jangan menangkap pisau jatuh, belum lagi keresahan dimana-mana, dan lagi bayang-bayang dari kasus The Great Depression 1929 menghantui, dimana saat itu nilai USD 1.000 yang diinvestasikan menjadi 170 USD, yah anggap saja tiap kita investasti 1 juta hasil nya 170 ribu, bukannya untung malah buntung…

 

Aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri, sayangnya ternyata aku kurang teliti, dimana aku bertanya pada orang yang “kurang tepat”, sehingga menghasilkan jawaban yang juga “kurang tepat”, hasil akhirnya juga “kurang tepat”. Yang awalnya pede, mulai ragu-ragu dengan keputusan diri sendiri karena terlalu banyak mendengarkan orang lain, sehingga aku tidak “take action”. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Philip A. Fisher melalui salah satu bukunya, bahwa “Menunda pembelian yang menarik karena ketakutan akan apa yang terjadi pada bursa saham, adalah kerugian besar”.

 

Apa yang kita pikirkan belum tentu benar terjadi, jadi berpikir positif sangatlah penting. Sayangnya aku mengalami kerugian yang cukup besar karena hal ini, yang aku tidak mau sebut jumlahnya untuk saat ini. Dan ini sempat membuat aku down serta menjauh dari bursa saham selama beberapa minggu lamanya, dan malah menyebabkan potential loss ku makin besar. Dari pengalaman ini aku mendapat pelajaran berharga untuk lebih percaya pada diri sendiri. Saat ini aku sedang mengumpulkan kepercayaan diriku untuk kembali berinvestasi dan I’ll be back very soon.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Pinjaman P2P dan Crowdfunding

Dunia investasi ternyata begitu luas. Sayang sekali kalau kita hanya mengenal kata menabung dan deposito. Dari investasi reksa dana aku mulai bertanya-tanya dan terus bertanya apa ada investasi lainnya yang bisa aku lakukan. Akhirnya aku menemukan investasi berbentuk asuransi yang sistemnya mirip dengan deposito tapi dengan bunga yang lumayan tinggi. Kekurangan investasi ini modalnya cukup besar di awal, tidak bisa kita mulai dengan hanya 10 juta, 1 juta, 100 ribu, apalagi cuma dengan 10 ribu seperti reksa dana. Masa penahanan dananya juga bervariasi dan ada yang cukup panjang hingga 1 tahun. Tapi akhirnya, setelah kupelajari, aku membulatkan tekad untuk mencoba. Kali ini aku cukup cepat mengambil keputusan, dan sudah lebih mantap, tidak bingung lagi seperti pertama kali aku berinvestasi.

 

Selama 1 tahun berinvestasi di sini hasilnya cukup bagus tapi aku tidak berhenti disitu, aku bertanya-tanya lagi barangkali ada juga jenis investasi lain yang bagus. Nah setelah mencari-cari aku menemukan yang namanya equity crowdfunding, sistem investasi dengan cara patungan bisnis, cukup menarik. Bayangkan kita bisa punya Indomaret atau mungkin kita bisa punya restoran, bisa juga punya tambak, bisa juga punya salon hanya dengan modal beberapa juta saja, wah keren banget pokoknya.

 

Aku mulai mempelajari bisnis tersebut untuk melihat apakah ini bisnis yang benar, bukan money game, apakah diawasi oleh OJK, bisnis apa yang kira-kira menguntungkan. Kalau di equity crowdfunding ini aku mesti lebih pintar memilih dan membaca laporan keuangan sederhana dan melihat proyeksi ke depan. Kekurangan investasi ini adalah karena bisnisnya belum jalan, ya selain keuntungan, kita bisa saja menderita kerugian bila ternyata bisnisnya gagal. Karena sudah cukup siap rugi, aku mulai mempelajari investasi tersebut.

 

Ada dua sektor yang cukup menarik buatku yaitu tambak dan ritel seperti minimarket. Sayangnya untuk minimarket sudah tutup dan kemungkinan tidak ada lagi untuk jangka waktu yang masih belum bisa ditentukan. Sedangkan bisnis tambak tampaknya selalu sold out dan aku selalu tidak kebagian, akhirnya aku mulai melirik bisnis lain yaitu Food and Beverages (F&B) dan wellness. Setelah mempelajari beberapa proposal akhirnya aku memutuskan untuk join crowdfunding ini, di bidang F&B. Ternyata ini belum rejekiku. Setelah aku transfer semua dana dan melengkapi data-data, tidak lama kemudian uangku dikembalikan karena ternyata aku sedikit terlambat transfernya dan sudah ada orang lain yang berinvestasi. Ya sudahlah, mungkin memang belum rezekinya. Tapi saat ini aku bersyukur, kalau saja aku diterima, mungkin aku dalam posisi merugi, karena di era Covid sektor F&B benar-benar terpukul. Ya ternyata dibalik suatu hambatan ada tetap ada hal yang bisa kita syukuri. Memang investasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan belajar juga ternyata.

 

Gagal di equity crowdfunding, tidak membuatku patah semangat. Sambil tetap menjalankan investasiku yang lama, aku mulai mencari hal-hal baru. Tidak lama kemudian aku menemukan P2P lending (peer-to-peer lending), konsep baru yang belum aku dengar sebelumnya.

 

P2P (peer-to-peer) Lending adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Kapok dengan pengalaman money game, secara otomatis sebelum mulai berinvestasi aku mengecek perijinan P2P, tidak tanggung-tanggung aku menelpon OJK. Mungkin terasa berlebihan, tapi lebih baik daripada terjerumus money game lagi. Izin oke, lampu hijau menyala, aku mulai mempelajari P2P tersebut.

 

Memang ternyata dari data OJK, ada lebih dari 100 perusahaan fintech di Indonesia yang sudah mengurus perizinan, dan pada saat itu hanya 11 yang izinnya sudah finalisasi. P2P yang aku lirik adalah salah satu yang cukup lama di bidang fintech. Di sini aku mengenal istilah baru yaitu NPL (Non-Performing Loan) atau angka gagal bayar, dan TKB90 yaitu ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara Fintech P2P Lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari sejak tanggal jatuh tempo.

 

Aku merasa prospek fintech ke depan sangat cerah, karena teknologi akan terus maju. Aku yakin ke depan fintech akan mengelola dana dalam jumlah besar, dan mungkin dalam waktu singkat bisa bersaing dengan bank-bank (meskipun dalam realitanya mereka bersinergi, bersaing disini dalam arti jumlah dana kelolaan). P2P yang aku lirik TKB90 nya saat itu di atas 98%, kadang mencapai 99%, angka yang cukup impresif. Yah ada 1-2% yang terlambat membayar lebih dari 90 hari (bukan berarti pasti gagal bayar ya…). Hitung-hitung, risiko 1-2% itu bisa aku terima, worth to try, akhirnya aku mulai memasukkan dana ke P2P tersebut.

 

Kekurangan P2P ini (yang saya pilih) kita juga harus melihat kemampuan tiap perusahaan dalam mengembalikan pinjaman kita, apakah perusahaan selalu tepat waktu, lalu bagaimana keuangan perusahaan, dan termasuk kategori rating kredit yang mana. Awalnya ya cukup membingungkan ya, ada banyak istilah yg tidak aku mengerti DER, EBIT, EBITDA, dll. Namun, meskipun begitu aku tetap mulai berinvestasi dengan pengetahuan seadanya. Dimulai dengan 1 project, dengan dana yang sangat minim, setelah aku rasa aman, aku lanjut ke project kedua, ketiga, keempat, dan tidak terasa tiba-tiba yang aku ingat, sudah mencapai hampir 80 projects.

 

Waktu itu karena kesibukan, aku tidak terlalu sempat memantau investasiku, yang awalnya baik-baik dan lancar, suatu ketika berubah, tiba-tiba NPL anjlok ke angka 95%. Memang nilainya terlihat kecil 3%. Tapi dari sekian banyak project yang aku biayai, mungkin sekitar 35 project sudah selesai, 45 masih berjalan, dan 13 diantaranya memberikan rapor merah, alias macet. Tiga belas project berarti sekitar hampir 30% mulai menunjukkan keterlambatan pembayaran. Memang betul ada 35 project yang sudah selesai, dan aku mendapat keuntungan, tapi kalau dihitung dengan project yang macet itu, sebenarnya modal investasiku akan tergerus cukup banyak alias merugi, bisa mencapai hampir 25% modal investasiku. Bukannya untung, malah buntung.

 

Karena tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun pasrah, dan hanya bisa berdoa, serta menunggu. Sambil menunggu, aku bukannya berhenti berinvestasi, tapi tetap rajin berinvestasi. Akhirnya dengan kesabaran, ternyata floating loss yang aku alami tidak menjadi real loss, dan aku masih membukukan keuntungan. Memang dunia investasi tidak dapat ditebak, penuh dengan kejutan, dan butuh banyak kesabaran.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Tips Mengatur Keuangan

 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Baik itu dalam hal karir dalam hal bisnis ataupun dalam hal berinvestasi.  Aku pun memulai investasi dalam jumlah yang sangat kecil, awalnya tidak bisa dan tidak biasa, juga tidak serta merta mendapatkan hasil investasi yang cukup besar, bahkan diawali dengan kerugian 100%.

 

Semua perlu waktu. Hasil tersebut tampak semenjak aku mulai konsisten dan disiplin dalam berinvestasi, gulung gulung gulung terus menggulung investasi tersebut hingga mulai tampak hasilnya, atau ini sering dikenal dengan compounding interest. Setiap 1 juta yang kita investasikan kalau kita rutin setiap bulan terus menginvestasikan 1 juta tersebut dalam 30 tahun dengan bunga 10% akan menjadi 1,97 Milyar. Bandingkan dengan bila kita hanya menabung 1 juta perbulan hasilnya hanya menjadi sekitar 360 juta saja. Perbedaan ini bagaikan bumi dan langit, padahal baru dengan modal 1 juta, bayangkan kalau 2 juta, 3 juta, dan seterusnya, pasti hasilnya akan lebih fantastis. Namun hasil ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang sabar dan disiplin, walau tidak mudah, pasti bisa dilakukan dengan komitmen.

 

Selain komitmen, sepertinya keberhasilan kali ini juga didukung adanya money management yang tepat. Money management paling simpel adalah sisihkan dulu baru sisanya dihabiskan. Kebanyakan dari kita, nanti dulu nabungnya kalau sudah ada sisa, yang ujung-ujungnya uang kita selalu habis duluan sebelum akhir bulan. Berikut ini money management sederhana yang bisa kita ikuti:

 

 

10% investasi

10% belajar (menimba ilmu)

10% amal

10% dana darurat

10% berlibur

50% dihabiskan (untuk keperluan sehari-hari)

 

Dengan cara sederhana seperti di atas ternyata bisa membuahkan hasil yang bagus bila kita disiplin. Ada istilah pay yourself first, aku sendiri baru dengar istilah ini, yang artinya kita harus menyisihkan untuk diri kita dahulu alias berinvestasi, dan itu sangat betul. Kalau dulu aku asal menyisihkan dan tidak berinvestasi, atau berinvestasi tapi tidak konsisten, akibatnya hasil tidak ada atau sangat minim. And now, I pay myself first.

 

Untuk awal aku memang menggunakan diagram sederhana di atas, namun dengan persentase yang aku modifikasi sesuai kemampuanku, diawali dengen persentase investasi 15% dan sekarang persentasenya jauh lebih besar dibandingkan persentase di awal. Investasi yang dulunya susah, sekarang sudah menjadi habit, malah aneh rasanya kalau tidak berinvestasi. Target berikutnya semoga dalam waktu dekat bisa hidup hanya dari 10% income. Cukup ambisius memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin bila kita berdoa dan berusaha. Bermimpilah setinggi langit, kalaupun engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang. Cita-citaku di masa depan adalah menjadi full time investor, semoga segera tercapai, amiin.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Satrio Tower, 6th Floor
Jl. Prof. Dr. Satrio Blok C4 No. 5
Jakarta Selatan 12950, Indonesia

Petunjuk Arah

Jam Operasional
Hari bursa pukul 08.30 – 17.00 WIB

  • Tel.+6221 5020 2900
  • Fax.+6221 5020 2922
Chat Dengan Kami
Follow