Coffee Time – Majoris Asset Management

China akan menaikkan tarif impor untuk barang Amerika per 1 Juni 2019

  • Setelah Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor untuk barang-barang China dari 10% menjadi 25% senilai USD 200 milyar yang berlaku pada hari Jumat 10 Mei 2019, China akan melakukan balasan secepatnya kepada AS dengan menaikkan tarif terhadap 5140 produk impor dari Amerika dari sebelumnya 5% dan 10% menjadi 20% dan 25% sebesar USD 60 milyar per tanggal 1 Juni 2019.
  • Di tengah situasi yang tidak kondusif antar kedua negara, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan kebijakan yang dapat menambah ketegangan kedua negara dengan mengeluarkan perintah eksekutif tanggal 15 Mei 2019 yang isinya melarang penggunaan Huawei oleh Perusahaan – Perusahaan Amerika dan bagi Perusahaan AS yang memasok barang kepada Huawei harus mendapatkan izin khusus dari Pemerintah.

Neraca perdagangan Indonesia bulan April 2019 defisit USD 2.50 Milyar

  • Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan bulan April 2019 mengalami defisit USD -2.50 milyar (estimasi konsensus: USD -500 juta) yang merupakan defisit tertinggi sepanjang sejarah, sebelumnya defisit tertinggi terjadi pada bulan Juli 2013 sebesar USD -2.30 milyar. Nilai ekspor di bulan April 2019 sebesar USD 12.60 milyar turun sebesar 10.80% secara Month to Month (MtM) sedangkan secara Year on Year (YoY) turun lebih dalam yaitu 13.10%. Adapun nilai impor sebesar USD 15.01 milyar turun 12.25% secara MtM dan secara YoY hanya turun 6.58%.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 16 Mei 2019 memutuskan untuk mempertahankan tingkat bunga BI-7 Day Reverse Repo Rate di level 6.00%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga ditahan masing-masing sebesar 5.25% dan 6.75%. BI akan terus mencermati bagaimana perkembangan ekonomi global kedepannya terutama terkait dengan perang dagang AS dan China yang memicu potensi perlambatan ekonomi global dan stabilitas perekonomian Indonesia kedepannya.

Sentimen Trade War memberikan dampak negatif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (13 – 17 May 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang sangat dalam -6.16% ditutup di level 5,826.86 melanjutkan penurunan selama tiga minggu berturut-turut. Penurunan IHSG masih dipengaruhi oleh sentimen negatif perang dagang AS dan China serta ditambah rilis data domestik defisit neraca perdagangan tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD -2.50 milyar sehingga membuat nilai tukar Rupiah kembali melemah dari level Rp 14,340/USD ke level Rp 14,440/USD. Penurunan IHSG diikuti oleh net sell yang dilakukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp -3.60 triliun dan Rp -8.00 triliun secara month to date yang terdiri dari saham-saham sektor Banking, Basic Industry, Infrastructure dan Miscellaneous Industry sehingga secara year to date posisi investor asing berubah dari net buy menjadi net sell sebesar Rp -2.00 triliun. Seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami penurunan terbesar yaitu Basic Industry -9.32%, Infrastructure -7.90%, Property Real Estate -7.27% dan Miscellaneous Industry -7.00%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.20% didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 8.05% menjadi 8.08%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Mei 2019 akan didorong oleh faktor global terutama yang berkaitan dengan perundingan antara Amerika dan China terkait dengan perang dagang yang terancam gagal mencapai kesepakatan, sedangkan dari sisi domestik neraca perdagangan dan perbaikan current account deficit tetap menjadi perhatian dari para pelaku pasar kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 16 Mei 2019 investor asing membukukan net sell secara month to date sebesar Rp 5.00 triliun dan year to date sebesar Rp 61.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 954.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta meningkatkan alokasi portfolio di level moderat 90 – 93% untuk memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang yang mengalami koreksi tenor 10 dan 15 tahun secara bertahap serta durasi portfolio mulai kembali ditingkatkan ke durasi 7.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Coffee Time – Majoris Asset Management

AS dan China setuju melanjutkan negosiasi di tengah perang dagang yang makin memanas

  • Amerika Serikat (AS) dan China sepakat untuk melanjutkan negosiasi perang dagang di tengah situasi yang memanas akibat keputusan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor barang dari China dari 10% menjadi 25% untuk nilai perdagangan USD 200 Milyar di tengah proses pembicaraan kedua negara. Hal ini diungkapkan Wakil Perdana Menteri China Liu Hue yang mengatakan bahwa pembicaraan antar kedua negara masih cukup baik dan akan semakin ditingkatkan di sepanjang bulan Mei 2019. Beberapa hal penting yang menjadi permintaan AS di dalam proses negosiasi seperti hak atas kekayaan intelektual, transfer teknologi, akses kepada keuangan dan manipulasi mata uang terkait kebijakan China yang mendevaluasi mata uangnya. Sedangkan China meminta kepada AS untuk menetapkan target pembelian barang dari China secara rill dan menghapus seluruh tarif ekstra impor sebesar 25% (mengembalikan pada tarif 10%) untuk semua barang China yang akan masuk ke AS.

Neraca pembayaran Indonesia surplus USD 2.40 Milyar di Q1 2019

  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di Q1 2019 mengalami surplus USD 2.40 Milyar yang dipicu oleh capital inflow masuk ke Indonesia baik di pasar saham maupun obligasi sebesar USD 10.1 Milyar. Surplus yang terjadi di Q1 2019 lebih baik dibandingkan di Q1 2018 yang mengalami defisit USD -3.80 Milyar. Dengan demikian defisit transaksi berjalan mengalami perbaikan dari USD -9.20 Milyar menjadi USD -7.00 Milyar (-2.60% dari GDP). Laporan NPI di Q1 2019 menunjukan adanya surplus perdagangan barang karena aktifitas impor yang melemah namun ada peningkatan pada defisit jasa sehingga peningkatan Current Account Deficit tidak maksimal.
  • Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa bulan April 2019 sebesar USD 124.30 Milyar turun tipis dibandingkan bulan Maret 2019 sebesar USD 124.50 Milyar. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan tujuh bulan impor lebih tinggi dibandingkan standar internasional (standar internasional: minimum tiga bulan impor). BI menilai level cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan.

Sentimen Trade War memberikan dampak negatif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (06 – 11 May 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan -1.75% ditutup di level 6,209.11 melanjutkan penurunan di dua minggu sebelumnya. Penurunan IHSG dipengaruhi oleh sentimen negatif perang dagang AS dan China sehingga membuat nilai tukar Rupiah melemah dari level Rp 14,280/USD ke level Rp 14,340/USD. Penurunan IHSG diikuti oleh net sell yang dilakukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp 2.00 triliun yang terdiri dari saham-saham sektor Banking, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industry. Adapun secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 10.80 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami kenaikan hanya sektor Consumer +1.55%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Mining -4.39%, Agriculture -2.87%, Finance -2.86% dan Basic Industry -2.79%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.95% didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.90% menjadi 8.05%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Mei 2019 akan didorong oleh faktor global terutama yang berkaitan dengan perundingan antara Amerika dan China terkait dengan perang dagang yang terancam gagal mencapai kesepakatan, sedangkan dari sisi domestik data inflasi, neraca perdagangan dan perbaikan current account deficit tetap menjadi perhatian dari para pelaku pasar kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 8 Mei 2019 investor asing membukukan net sell secara month to date sebesar Rp 8.00 triliun dan year to date sebesar Rp 66.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 959.20 triliun.

 

Sumber: PT. Majoris Asset Management

Coffee Time – Majoris Asset Management

AS dan China akan kembali mengadakan pertemuan tanggal 30 April 2019

  • Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali berlanjut setelah kedua belah pihak sepakat mengadakan pertemuan di Beijing tanggal 30 April 2019. Pihak AS akan diwakili oleh Menteri Keuangan AS Steve Munchin beserta perwakilan dagang AS Robert Lightizer dan perwakilan dari Pemerintah China yaitu Wakil Perdana Mentri China Lie He. Selanjutnya setelah diadakan pertemuan di Beijing, akan digelar pertemuan lanjutan tanggal 8 Mei 2019 di Washington. Topik diskusi dalam pertemuan ini masih membahas tentang empat hal pokok diantaranya hak atas kekayaan intelektual (intellectual rights), transfer teknologi, hambatan non-tarif terutama untuk barang-barang sektor pertanian, manufaktur, jasa dan penghapusan subsidi oleh Pemerintah China kepada beberapa barang. Pihak AS meyakini bahwa kesepatan dagang antar kedua negara akan tercapai di akhir 1H 2019 dan tercapainya kesepakatan antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi di emerging market.

Japan Credit Rating Agency menaikkan outlook Indonesia dari Stable menjadi Positive

  • Lembaga Pemeringkat asal Jepang yaitu Japan Credit Rating Agency (JCR) menaikkan peringkat utang Indonesia dari Stable menjadi Positive serta mengukuhkan rating Indonesia BBB sebagai Investment Grade pada hari Jumat 26 April 2019. Beberapa faktor yang mendorong peningkatan outlook diantaranya pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, pembatasan subsidi BBM serta pengembangan sumber daya manusia. Kenaikan outlook dari JCR menggambarkan solidnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didorong oleh konsumsi dalam negeri, defisit anggaran yang terjaga dan cadangan devisa yang terus mengalami peningkatan.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 24-25 April 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Day Reverse Repo Rate di 6.00% sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas perekonomian. Kebijakan ekonomi BI berfokus pada mempertahankan laju inflasi di kisaran 2.50 – 3.50%, perbaikan Current Account Deficit (CAD) dibawah -2.50% terhadap GDP dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan sentimen negatif di pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (22 – 26 April 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan -1.63% ditutup di level 6,401.08 dampak negatif dari pelemahan nilai tukar Rupiah ke level Rp 14,150/USD dari posisi sebelumnya Rp 14,005/USD. Meskipun IHSG mengalami penurunan, investor asing tetap membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 700 milyar yang masuk ke dalam saham-saham sektor perbankan, infrastruktur dan consumer. Secara year to date investor asing juga masih membukukan net buy sebesar Rp 13.80 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami kenaikan hanya sektor Infrastructure +0.90%, diikuti oleh Trade Services +0.57%, dan Mining +0.35%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Basic Industry -4.44%, Agriculture -4.21%, Manufacturing -3.62% dan Consumer Goods -3.58%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -1.18% didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.57% menjadi 7.77%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Mei 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN, negosiasi trade war antara AS dan China yang positif serta stabilnya data makroekonomi. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 25 April 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 21.00 triliun dan year to date sebesar Rp 70.20 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 963.40 triliun.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Coffee Time – Majoris Asset Management

Domestic Consumption menjadi penopang pertumbuhan ekonomi China di Q1 2019

  • Pertumbuhan ekonomi China yang merupakan perekonomian terbesar kedua di dunia di Q1 2019 tumbuh 6,40%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus sebesar 6.20%. Kontribusi pertumbuhan ekonomi bersumber dari domestic consumption yang mengalami peningkatan karena adanya stimulus yang diberikan oleh Pemerintah sehingga membaiknya daya beli masyarakat memberikan dampak positif terhadap industri retail di bulan Maret 2019 yang mengalami pertumbuhan sebesar 8.50% dibandingkan bulan sebelumnya. Kontribusi pertumbuhan ekonomi lainnya berasal dari peningkatan produksi yang tercermin dalam data China Manufacturing Index bulan Maret 2019 yang mengalami kenaikan dari 49.20 ke posisi 50.80 dampak positif penghapusan beberapa tarif bea masuk untuk barang manufaktur dari China oleh Amerika. Kami melihat kedepannya China akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di kisaran 6.30 – 6.50% sepanjang tahun 2019 didorong oleh stimulus ekonomi yang diberikan oleh Pemerintah dan positifnya pembicaraan dengan Amerika terkait isu perang dagang yang sudah berlangsung dari tahun 2018.

Pemilihan Legislatif dan Presiden telah sukses dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019

  • Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) secara serentak yang terdiri dari Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang diadakan pada hari Rabu 17 April 2019. Pileg memilih 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) propinsi tingkat I dan II periode 2019 – 2024. Sedangkan untuk Pilpres terdiri dari dua pasang calon Presiden yaitu Joko Widodo – Maruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Pemilu serentak kali ini merupakan yang pertama kali diadakan di Indonesia karena pada pemilu sebelumnya tahun 2004, 2009 dan 2014 Pileg dilaksanakan terlebih dahulu, selanjutnya baru Pilpres tiga bulan setelah pelaksanaan Pileg. KPU akan mengumumkan hasil Pemilu baik Pileg maupun Pilpres pada tanggal 22 Mei 2019.

Pemilihan Presiden yang berlangsung damai memberikan sentimen positif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (15 – 19 April 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang cukup signifikan +1.58% ditutup di level 6,507.22 dampak positif dari penyelenggaraan Pemilihan Legislatif dan Presiden tanggal 17 April 2019 yang berlangsung dalam kondisi yang stabil dan terkendali sehingga memberikan kepercayaan bagi para investor terhadap pasar saham Indonesia. Kenaikan IHSG sejalan dengan net buy yang dibukukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp 500 milyar yang masuk ke dalam saham-saham sektor perbankan, infrastruktur dan consumer. Secara year to date investor asing juga masih membukukan net buy sebesar Rp 13.10 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Property +4.52%, diikuti oleh Miscellaneous Industry +4.26%, Finance +2.34% dan Infrastructure +2.16%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan yaitu Mining -0.82% dan Trade Services -0.08%. Kami memperkirakan pasar saham kedepannya masih cukup positif ditopang oleh fundamental perekonomian Indonesia yang masih cukup baik dan stabilitas politik yang terjaga.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +1.18% didorong oleh pelaksanaan pemilu 2019 yang berjalan dengan stabil dan positifnya neraca perdagangan Indonesia selama dua bulan berturut-turut di bulan Februari dan Maret 2019 sehingga mendorong penguatan nilai tukar Rupiah ke level Rp 13,950 / USD. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.68% menjadi 7.57%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan April 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN, stabilnya data makroekonomi serta capital inflow dari investor asing yang berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 16 April 2019 membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 2.00 triliun dan year to date sebesar Rp 69.20 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 962.40 triliun.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Coffee Time – Majoris Asset Management

Theresa May Meminta Penundaan Brexit kepada Uni Eropa hingga 30 Juni 2019

  • Perdana Menteri Inggris Theresa May meminta kepada Uni Eropa untuk memundurkan jadwal proses Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) dari 12 April 2019 menjadi 30 Juni 2019. Tujuan dilakukan penundaan ini agar Inggris dapat keluar dari Uni Eropa dengan cara yang lebih moderat sehingga tidak menggangu aktifitas perekonomian Inggris kedepannya. May mengatakan saat ini terdapat dua opsi terkait Brexit yaitu keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan atau tetap menjadi bagian dari Uni Eropa. Uni Eropa akan mengadakan pertemuan dengan negara-negara anggotanya dan akan memberikan jawaban kepada Inggris paling lambat tanggal 11 April 2019.
  • Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data US-Non Farm Payroll (US-NFP) bulan Maret 2019 yang tumbuh sebesar 196K (ekspektasi consensus: 177K) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2019 sebesar 33K. Membaiknya data tenaga kerja sedikit meredakan kekhawatiran terhadap datangnya resesi ekonomi AS lebih awal. Meskipun data tenaga kerja mengalami pertumbuhan, namun The Fed kemungkinan besar tetap akan menunda kenaikan Fed Fund Rate (dovish) di tahun 2019 karena kenaikan upah pekerja yang masih moderat di kisaran 0.25 – 0.50% dan pertumbuhan inflasi yang di bawah eskpektasi.

Cadangan Devisa Mengalami Kenaikan USD 1.27 Milyar di Bulan Maret 2019

  • Cadangan devisa Indonesia di bulan Maret 2019 mengalami kenaikan USD 1.27 milyar dari posisi USD 123.27 milyar di bulan Februari 2019 menjadi USD 124.54 milyar yang merupakan level cadangan devisa tertinggi selama 11 bulan terakhir. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan tujuh bulan impor dan melebihi standar internasional yaitu tiga bulan impor. Peningkatan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaaan devisa migas dan masuknya dana investasi baik di pasar saham maupun pasar obligasi.

Inflasi yang Terjaga Memberikan Sentimen Positif pada IHSG dan Yield SUN

  • Selama sepekan terakhir periode (01 – 05 April 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.08% ditutup di level 6,474.01 pasca rilis data inflasi bulan Maret 2019 yang tetap terjaga dan sesuai ekspektasi para pelaku pasar. Kenaikan IHSG sejalan dengan net buy yang dilakukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp 1.10 triliun sehingga secara year to date investor asing membukukan net buy sebesar Rp 11.50 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Agriculture +3.77%, diikuti oleh Property +3.50%, Miscellaneous Industry +2.84% dan Finance +0.96%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar terdiri dari Mining -2.26%, Basic Industry -1.44%, Consumer Goods – 1.11% dan Infrastructure -0.69%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.20% didorong oleh positifnya data makroekonomi domestik sehingga memberikan sentimen positif penguatan nilai tukar Rupiah. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.67% menjadi 7.57%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan April 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN serta capital inflow dari investor asing yang berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 03 April 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 2.00 triliun dan year to date sebesar Rp 70.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi Rp 963.20 triliun.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Investasi?! Buat apa coba?

Investasi?! Buat apa coba? – Pertanyaan ini sempat melintas di benak saya dulu banget, ketika saya belum tau investasi itu apaan sih. Lalu lama-kelamaan, saya mulai mengenal beberapa produk investasi, termasuk beberapa produk yang memang dijual di bank tempat saya bekerja dulu.

Kemudian pengetahuan saya tentang investasi pun bertambah semenjak mendenganr sebuah acara radio financial talks yang dipandu oleh seorang financial planner panutan saya. Doi dalam membuat sebuah financial planning seseorang, selalu dimulai dengan pertanyaan tentang tujuan dia berinvestasi itu apa aja, baru kemudian di-breakdown satu-satu.

Bener juga sih, ya, karena tujuan saya berinvestasi dengan tujuan si A yang sudah punya dua anak berbeda. Kalau yang sudah punya anak, tentunya salah satu goal-nya adalah untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Dana pendidikan anak itu ga hanya sekali lho, karena dimulai dari pre-school, Sekolah Dasar, sekolah menengah, kemudian ya lanjut kuliah. Nah, kalau anaknya dua, berarti siapin dana pendidikannya juga dua kali. Belum lagi ketika anaknya bertambah, mungkin aja ada keinginan untuk punya rumah yang lebih besar atau punya mobil keluarga yang lebih besar.

rencana liburan ke taiwan - kadungcampur
Siapin dana liburan buat ke Taiwan (pic from pixabay)

Cari tau tujuan investasi dulu

Sebenarnya mencari apa tujuan investasi kita, itu sama aja kayak kita mencari tau tujuan hidup kita. Kalau tujuan kita ingin berlibur ke Taiwan, selanjutnya kita baru bisa cari tau apa aja persiapan liburan ke Taiwan. Mulai dari mencari tiket pesawat, penginapan di Taiwan, bahkan hingga itinerary.

Lalu bagaimana kalau kita ga tau tujuan kita ke mana?

Sama aja kayak kita berkendara melalui jalan tol tanpa arah, yang ada malah menghabiskan waktu, uang, dan bensin, kecuali kalau memang tujuanmu untuk refresh pikiran dengan berkendara tanpa arah, ya haha.

Lain tujuan, lain treatment

Ternyata cari tau tujuan investasi itu penting banget untuk diketahui, sebelum kita mengambil tindakan selanjutnya. Mempersiapkan dana liburan pada akhir tahun, tentunya akan mempunyai treatment yang berbeda dengan mempersiapkan pensiun yang masih berpuluh-puluh tahun ke depan.

Memangnya beda treatment tuh seperti apa?

Kalau misalnya tujuannya jangka pendek sekitar satu tahun, seperti persiapan dana liburan, biasanya saya akan memilih produk yang risikonya kecil. Lain cerita kalau persiapan dana pensiun yang masih lamaaaaa kali itu, saya mah langsung aja jebret ambil produk investasi yang high risk, karena biasanya akan memberikan return yang high juga.

Salah treatment, risiko tujuan tidak tercapai

Nah, apa yang terjadi kalau kita salah treatment alias salah strategi dalam mengelola investasi kita? Risikonya ada macam-macam. Misalnya salah satu tujuan investasi kita adalah untuk mempersiapkan dana pensiun, trus kita salah pilih produk investasi, misalnya pilih produk yang memberikan return kecil, wah, bisa-bisa pas saat pensiun, ternyata dana pensiun yang kita targetin masih jauhhhh dari harapan.

Risiko apa lagi nih yang bakal terjadi kalau kita salah treatment?

Saya ambil contoh aja persiapan dana liburan saya untuk ke Taiwan. Misalnya aja saya hanya butuh waktu beberapa bulan hingga satu tahun untuk persiapan. Karena saya sok pede aja gitu, lalu saya nekat ambil produk reksa dana saham yang high-risk, karena saya mau banget dapat high-return. Eh eh eh, ternyata satu minggu sebelum keberangkatan dan saya mau ambil dananya, nilai reksa dana saham saya lagi anjlok tengkurep dan jauh dari target dana liburan yang sudah saya harapkan. Jadinya rugi deh, saya harus nombok banyak saat liburan. Amit-amit! *knock on wood*

Tujuan sudah ditentuin, persiapan dananya bagaimana?

Persiapan dana alias berapa banyak yang harus kita kumpulin atau cicil tiap bulannya untuk mencapai target yang sudah kita tentuin. Semakin dekat jarak yang kita punya, otomatis dana yang harus disiapkan setiap bulannya juga akan besar. Sedangkan kalau semakin jauh jaraknya antara sekarang dan tujuan investasi kita, maka dana yang harus disiapkan setiap bulannya bisa lebih kecil. Makanya, persiapan dana pensiun harus dimulai sedari awal sih, ya, jadinya yang kamu sisihkan setiap bulannya ga gede-gede amat.

Saya pun iseng-iseng menggunakan kalkulator investasi online, berapa sih yang harus saya sisihkan setiap untuk mendapatkan uang senilai Rp. 1 Milyar. Anggaplah jangka waktu yang saya siapkan adalah 10 tahun, dan tentunya 10 tahun ini bukanlah waktu yang singkat yes? Tau berapa dana yang harus sisihkan setiap bulannya mulai saat ini? Sekitar Rp. 3.5 juta per bulan! Wuiiih mantabh, yaaa.

Lalu bagaimana kalau saya merasa menyisihkan uang Rp. 3.5 juta per bulan itu agak berat? Berarti selain menyisihkan bulanan, kamu bisa saja menambahkan setoran yang cukup besar di awal atau saat di tengah-tengah pengumpulan dana ini. Anggap aja kalau kamu dapat bonus tahunan, langsung aja setor ke sini. Jadinya nanti dana yang disisihkan akan semakin kecil.

Persiapan dana buat beli rumah

Beberapa waktu lalu, pas saya diundang di acara Moduit, sempat di share juga saat ini mengenai persiapan untuk membeli properti. Untuk gampangnya diambil nilai Rp 1 Milyar. Lalu untuk bunga KPR diambil contoh 9%. Nah untuk jangka waktu 15 tahun, kira-kira berapa banyak duit yang harus disisihkan untuk cicilan kredit properti ini?

hitung perencanaan keuangan bersama moduit - kadungcampur
Hitung-hitungan untuk cicilan properti

Udah siap denger jawabannya?

Ternyata per bulan, kita harus siap dana sekitar Rp. 9 juta per bulan.

Nah lho, berarti harus punya gaji berapa ya, biar dengan nyaman menyisihkan 9 juta per bulan?

Well, kalau kamu belum bisa menyisihkan Rp 9 juta per bulan, berarti mulai sekarang harus giat rajin bekerja, biar nanti karirnya melesat, sehingga gajinya lebih tinggi dan tinggi. Atau kalau kamu pengusaha, ya berarti harus giat cari pemasukan dong, ya?

Daripada mikir yang angkanya milyar, gimana kalau kita ngumpulin uang untuk bayar Down Payment-nya terlebih dahulu – yang angkanya lebih kecil tentunya? Anggaplah DP yang diperlukan sekitar 10%, yaitu berarti Rp. 100 juta. Tentunya DP ini bisa lebih dijangkau ya kalau kita cicil bulanan, sembari kita menunggu gaji kita mencapai angka yang cukup untuk mulai menyicil properti Rp. 1 M.

Seperti yang saya omongkan di atas, semakin lama waktu yang diperlukan untuk mencapai target investasi kita, berarti dana yang dicicil bisa semakin lebih ringan. Kita bisa juga memilih produk yang memberikan tingkat return yang lebih tinggi – patut diingat juga berarti produk ini memiliki risiko yang lebih tinggi juga.

Investasi ‘nyicil’ dengan mudah

Kalau dari tadi saya udah ngomong soal ‘nyicil’ ketika berinvetasi untuk capai tujuan atau target kita, memangnya itu nyicilnya kek apa sih? Sebenarnya prinsipnya sama sih ya dengan cicilan saat kita mengambil kredit perbankan. Kita mencicil atau menyisihkan uang kita dalam jumlah yang sama setiap bulannya sampai mencapai target investasi kita. Dan salah satu produk yang cukup mudah kita temui untuk membantu kita melakukan investasi nyicil ini adalah reksa dana.

Nyicil investasi seperti ini udah lama saya lakuin sih, karena dengan menyicil bisa lebih terukur. Berapa nominal yang harus kita sisihkan, bisa kita hitung-hitung menggunakan kalkulator investasi yang sudah tersedia banyak secara online.

Lalu di manakah kita bisa mulai menyicil investasi kita? Sekarang jaman sudah mudah, udah ga perlu repot-repot ke bank. Semua bisa dimulai dari genggaman kita, alias dengan hanya menggunakan smartphone saja, kita udah bisa mulai berinvestasi kok. Salah satunya bisa melalui Moduit.

Kenalan dulu sama Moduit

Moduit – kedengarannya seperti ‘mau duit’ yes – merupakan perusahaan finansial berbasis teknologi (fintek) yang didirikan sejak awal tahun 2018. Sebagai salah satu perusahaan fintek di Indonesia, Moduit udah terdaftar di OJK dan Kominfo kok.

Produk investasi saat ini di Moduit baru berupa produk reksa dana, dan jumlahnya pun sudah lumayan banyak, ada 42 produk reksa dana regular, dan 9 produk reksa dana Syariah. Ini semua merupakan produk dari (saat ini) sembilan Manajer Investasi, yang beberapa di antaranya pernah saya jajal juga, seperti : Batavia, Manulife, Danareksa, dan lainnya.

charles jap jeffry lomanto moduit - kadungcampur
Charles Jap (CTO) dan Jeffry Lomanto (CEO) dari Moduit

Tampilan Moduit app saya suka banget lah ini, simpel, cakep, dan mudah dimengerti alurnya. Misalnya kita mulai dari memilih jenis reksa dananya, dimulai dari yang low-return & low-risk adalah pasar uang, kemudian pendapatan tetap, campuran, dan terakhir saham. Tentunya setiap jenis reksa dana ada banyak macam produknya lagi, dari beragam Manajer Investasi.

Nih, kalau mau install dulu, ya :

install moduit apple - kadungcampur install moduit android - kadungcampur

Untuk melakukan pembayaran / pembelian produk reksa dana di Moduit, kita bisa langsung transfer uang kita ke rekening khusus untuk pembelian reksa dana tersebut. Memang nih agak berbeda dengan beberapa yang pernah saya coba. Biasanya di tempat yang lain, saya diminta untuk mentransfer uang saya ke rekening investasi saya, baru kemudian kita bisa ‘belanja’ reksa dana. Same-same but different lah ya, tergantung preferensi masing-masing hehe.

tampilan moduit app investasi reksa dana online 1 - kadungcampur
Investasi tanpa ribet pakai Moduit app (1)
tampilan moduit app investasi reksa dana online 2 - kadungcampur
Investasi tanpa ribet pakai Moduit app (2)

Selain itu, di Moduit juga ada fitur kalkulator investasinya lho. Tujuanmu mau apa, tinggal pilih aja, dan masukkan jumlah uang yang ingin kamu investasikan. Nanti Moduit akan memberikan saran, baiknya dari uang tersebut, berapa persen kamu taruh di jenis reksa dana A, berapa persen di jenis B, dan seterusnya. Tahap selanjutnya, kamu tinggal pilih produk reksa dana yang cocok aja deh. Enaknya sih nanti juga ada kalkulator untuk cicilan investasi juga ya untuk mencapai tujuan investasi kita.

perhitungan target investasi via moduit app - kadungcampur
Tujuan investasimu apa nih?

#ModuitLebih?

Siapa yang mau duit lebihhhh?

Saya pasti unjuk tangan langsung kalau ada pertanyaan seperti itu haha. Nah, mulai lah dari sekarang, jangan menunda, untuk mulai investasi, baik investasi menggunakan produk reksa dana, maupun produk yang lain, yang cocok dengan profilmu, ya. Sebaiknya setelah terima gaji, langsung disisihin untuk investasi sekian persen dari gajimu. Biar semangat ngumpulin uangnya, jangan lupa, jangan lupa untuk tentuin tujuan investasimu dulu, ya 😉

perhitungan investasi - kadungcampur
Hmm, nanti mau beli rumah di mana, ya?

Sumber: kadungcampur.com

Cara Berinvestasi dengan Moduit

Sesudah sadar ingin memulai investasi, kebanyakan Moduers tanya: “Gimana cara investasi di Moduit?” Kami sangat senang menerima pertanyaan ini karena “malu bertanya sesat di jalan”. Untuk itu kami sajikan 3 pilihan jawaban yang bisa dipilih sesuai dengan konteks Moduers masing-masing.

1. Beli Reksa Dana Jenis Pasar Uang

Jenis Reksa Dana Pasar Uang mengandung risiko paling rendah dibandingkan dengan jenis Reksa Dana lainnya. Reksa Dana ini terdiri dari instrumen pasar uang dalam negeri dan/atau efek bersifat utang dengan jangka waktu maksimal 1 tahun.

Kinerja Reksa Dana Pasar Uang yang tersedia di Moduit selama 1 tahun ke belakang berkisar antara* 4,95% hingga 6,18%. Apakah terkesan lebih rendah daripada bunga deposito? Jangan lupa, bunga deposito masih akan dikenakan pajak sebesar 20% sedangkan imbal hasil Reksa Dana sudah final. Selain itu, jika deposito mengunci dana dalam periode tertentu, dana di Reksa Dana Pasar Uang dapat dicairkan sewaktu-waktu.

Opsi ini cocok untuk:

  • Moduers yang belum pernah investasi Reksa Dana sebelumnya.
  • Moduers yang ingin mencoba berinvestasi Reksa Dana dengan modal minimal (Di Moduit bisa mulai dari Rp. 10.000,- sesuai ketentuan produk).
  • Moduers dengan periode investasi kurang dari 1 tahun.

*) Data per 1 April 2019

2. Gunakan Fitur Rencana Keuangan

Menggunakan kendaraan investasi yang sesuai dengan profil risiko investor akan membantu proses pencapaian tujuan keuangan dengan lebih efektif. Biasanya, investor perlu berkonsultasi dengan Penasihat Investasi atau Perencana Keuangan untuk bisa membuat komposisi portofolio investasi. Kabar baiknya, di Moduit ada fitur yang bisa membantumu membuat portofolio investasi secara mandiri. Lebih baik lagi, fitur ini tidak hanya membantu di awal proses namun juga akan membantu mengingatkan tiap bulan dan secara berkala membantu Moduers melakukan rebalancing portofolio.

Cocok untuk:

  • Moduers yang ingin mencapai tujuan keuangan tertentu.
  • Moduers dengan modal minimal Rp 1.000.000,- untuk berinvestasi minimal 1 tahun.
  • Moduers yang ingin berinvestasi secara disiplin setiap bulannya.

3. Pilih Produk Reksa Dana

Dalam memilih produk Reksa Dana, ada beberapa kriteria yang biasa digunakan:
a. Jenis Reksa Dana: Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, Saham.

  • Pasar Uang: mengandung instrumen pasar uang dalam negeri dan efek bersifat hutang maksimal 1 tahun.
  • Pendapatan Tetap: mengandung minimal 80% obligasi (surat hutang).
  • Campuran: mengandung maksimal 79% saham, obligasi atau pasar uang.
  • Saham: mengandung minimal 80% saham.

b. Kategori Reksa Dana: Konvensional atau Syariah.
c. Imbal Hasil, dalam periode: 1 bulan, 1 tahun, 3 tahun, year-to-date.
d. Risiko: standar deviasi, beta, sharpe.

  • Standar deviasi: Seberapa jauh perbedaan imbal hasil suatu produk dibandingkan dengan imbal hasil yang diharapkan, berdasarkan kinerja historis.
  • Beta: Nilai 1 berarti pergerakan Reksa Dana tersebut selaras dengan pergerakan pasar. Beta lebih kecil dari 1 berarti pergerakan Reksa Dana tersebut lebih stabil dibandingkan pasar, sebaliknya Beta lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa Reksa Dana tersebut lebih bergejolak daripada pasar.
  • Sharpe: perbandingan antara imbal hasil yang diperoleh dibandingkan dengan risiko yang diambil oleh Manajer Investasi ybs.

Dengan menggunakan kriteria tertentu, Moduers bisa menyaring dan mengurutkan produk Reksa Dana yang ada di Moduit.
Cocok untuk:

  • Moduers yang sudah berpengalaman investasi Reksa Dana.
  • Moduers yang ingin membentuk portofolio investasi secara mandiri.

Coffee Time – Majoris Asset Management

Parlemen Inggris Kembali Menolak Proposal Brexit untuk Ketiga Kalinya

  • Parlemen Inggris untuk ketiga kalinya kembali menolak usulan skema terkait Brexit (Inggris keluar dari Uni eropa) yang diajukan oleh Perdana Menteri Theresa May menjelang berakhirnya proses Brexit tanggal 12 April 2019. Dalam pemungutan suara yang berlangsung tanggal 29 Maret 2019 usulannya hanya didukung oleh 286 anggota Parlemen dan ditolak oleh 344 anggota Parlemen. Dengan ditolaknya usulan skema Brexit yang diajukan oleh Theresa May, maka besar kemungkinan Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun dimana ekspektasi pelaku pasar apabila ini terjadi akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris di kisaran 0.50 – 1.00% serta akan membuat nilai mata uang poundsterling melemah dibandingkan mata uang lain dan memberikan ketidakpastian bagi dunia usaha terutama perusahaan-perusahaan yang berasal dari Uni Eropa apakah akan tetap mempertahankan Homebase di London atau akan meninggalkan Inggris. Pada tanggal 10 April 2019 (H-2) menjelang berakhirnya proses Brexit, May akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Donald Tusk untuk membahas langkah selanjutnya yang akan menguntungkan kedua belah pihak.
  • Data China Manufacturing Index (PMI) di bulan Maret 2019 mengakhiri tren perlambatan yang terjadi selama empat bulan berturut-turut dimana di bulan Maret PMI tumbuh sebesar 50.20 setelah sebelumnya sempat menyentuh 49.20 (PMI>50 artinya aktifitas manufaktur mengalami Peningkatan). Pertumbuhan PMI China mengalami Peningkatan didorong oleh meningkatnya aktifitas pabrik terutama yang berhubungan dengan batu bara dan industri baja. Hal ini dapat menjadi angin segar bagi perekonomian China setelah di minggu kedua Maret 2019 mengumumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan dari 6.60% menjadi 6.10% di tahun 2019.

Pertumbuhan Inflasi bulan Maret 2019 Tetap Terkendali

  • Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi di bulan Maret 2019 sebesar 0.11% dan secara Year on Year sebesar 2.48% masih tetap terkendali sesuai dengan ekspektasi yang dikemukakan oleh Pemerintah yang akan menjaga level inflasi di level 2.50 – 3.00% di tahun 2019. Kontribusi terbesar untuk inflasi bulan Maret berasal dari harga tiket pesawat yang mengalami kenaikan di beberapa wilayah serta harga bawang merah yang juga mengalami Peningkatan, sedangkan untuk harga bahan pangan lainnya relatif stabil.

Pelemahan Rupiah Memberikan Sentimen Negatif pada IHSG dan Yield SUN

  • Selama sepekan terakhir periode (25 – 29 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.87% ditutup di level 6,468.75 dampak dari melemahnya nilai tukar Rupiah setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut. Meskipun IHSG mengalami penurunan, investor asing membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 900 milyar sehinggga secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 10.40 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan dimana hanya tiga sektor yang tetap mengalami kenaikan yaitu Finance +0.51%, diikuti oleh Infrastructure +0.44% dan Miscellaneous Industry +0.35%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar terdiri dari Basic Industry -4.21%, Manufacturing -2.48%, Consumer Goods – 2.37% dan Mining -2.02%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.10% didorong oleh revisi pertumbuhan ekonomi zona eropa yang dibawah ekspektasi serta ketidakpastian dari isu Brexit menjelang batas akhir referendum di bulan April 2019. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.57% menjadi 7.67%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan April 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN serta capital inflow dari investor asing yang berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 28 Maret 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 19 triliun dan year to date sebesar Rp 68.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 961.20 triliun.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Cara mudah investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

Investasi Reksa Dana bagi ibu rumah tangga bisa dibilang perkara baru yang mungkin untuk sebagian dari mereka ragu memulainya. Seperti percakapan saya bersama para Mom Blogger di group whatsapp soal investasi. Kebanyakan dari mereka sudah mulai berinvestasi namun dalam bentuk barang yang terlihat seperti logam mulia, dinar dan properti berupa kontrakan atau ladang perkebunan. Sementara saat saya bertanya soal Reksa Dana, mereka masih bingung seperti apa cara kerjanya dan bagaimana memulainya.

Terus terang, meski informasi soal Reksa Dana ini banyak sekali tersedia di internet dan bisa dibaca kapan saja, namun tidak semua orang benar-benar bisa menyerap informasi tersebut dengan baik. Entah itu karena istilah yang digunakan terlalu asing atau karena hal lain. Memang benar, learning by doing, kalau tidak dicoba kita tidak akan pernah tau bagaimana cara kerjanya. Meski begitu, tetap harus tau Do’s and Don’t’s nya. Ini soal uang loh, jangan sampai salah menitipkan. Alih-alih ingin berinvestasi malah uang kita raib entah kemana.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

.

Kenapa sih Ibu Rumah Tangga harus Berinvestasi ???

Jelas, sebagai menteri keuangan rumah tangga, kita harus melek literasi keuangan. Soal menabung, spending money termasuk investasi. Siapa sih yang gak mau hidup serba nyaman? Punya rumah, kendaraan pribadi, bisa menyekolahkan anak di sekolah berkualitas, bisa trip kemana pun, ibadah umroh, masa tua terjamin, pokoknya tercapai banget deh financial goals nya? Pasti mau dong!

Semuanya bisa tercapai jika kita bisa mengatur keuangan dengan bijak dan disiplin. Menambah penghasilan sebanyak mungkin, mengurangi pengeluaran sekecil mungkin serta berinvestasi semuda mungkin.

Simpelnya, berinvestasi yaitu menyiapkan dana untuk digunakan dikemudian hari. Saat kita membutuhkan sejumlah uang untuk membeli rumah atau kendaraan, tinggal digunakan saja tanpa harus menunggu lama apalagi mencicil dengan bunga tinggi. Jika sudah ada uangnya, tinggal beli aja kan?

Baca juga : Kenali Pinjaman Online Berizin OJK

Mommies gak mau dong 10 tahun yang akan datang, saat anak minta uang untuk ujian masuk universitas, pusing karena belum gajian atau harus pinjam sana sini karena gak punya uang simpanan? Disinilah investasi dapat diandalkan sebagaimana fungsinya. Bisa menjadi penghasilan tambahan untuk ditabung atau bahkan asset yang bisa diputar kembali dan dipakai saat kondisi darurat.

So, sudah sepakat ya kalo ibu rumah tangga juga harus berinvestasi. Sejak awal tahun 2019, saya mulai tertarik berinvestasi Reksa Dana. Kalau ditanya soal resiko, gak ada investasi yang gak ada resikonya. Bahkan beli emas aja tetap ada resikonya ya Moms.

.

Mengenal Investasi Reksa Dana

Reksa Dana merupakan salah satu pilihan investasi bagi masyarakat yang memiliki modal kecil seperti saya, juga tidak memiliki banyak keahlian untuk menghitung risiko atas investasi tersebut.

Dengan adanya Reksa Dana, uang kita akan dihimpun bersama dengan yang lainnya sebagai modal yang akan dikelola oleh Manajer Investasi.

Bayangkan deh kalau ada teman atau sodara mengajak kita join bikin usaha, gak bakalan deh bisa ngasih sejuta untuk bisa dibilang investor. Jaman sekarang uang sejuta cukup buat apa, jangankan mulai bisnis, belanja bulanan aja gak cukup. Apalagi kalau cuma investasi Rp 100 ribu kan? Berbeda dengan Reksa Dana, kita bisa memulainya bahkan dengan Rp 100 ribu saja. Bisa beli bahkan dijual kapan saja kita mau. Jadi memang, Reksa Dana termasuk jenis investasi yang juga dianjurkan bagi ibu rumah tangga.

Dulu, mereka yang mau berinvestasi Reksa Dana harus repot datang ke Bank. Sementara saat ini, pekerjaan kita dimudahkan sekali berkat kemajuan teknologi finansial. Termasuk berinvestasi Reksa Dana, kini dapat dilakukan dengan sangat mudah melalui Moduit Apps.

.

Apa itu Moduit dan hubungannya dengan Reksa Dana ???

Moduit Apps yaitu sebuah platform berbasis aplikasi dan website yang menyajikan layanan jual beli produk investasi Reksa Dana secara online. Moduit Apps dapat diunduh secara gratis di Playstore dan Appstore.

Moduit hadir sebagai inovasi dan solusi bagi masyarakat yang bingung saat akan memulai investasi Reksa Dana. Sebab dengan menggunakan Moduit, Mommies akan dipandu dan diarahkan pada jenis Reksa Dana yang sesuai dengan profil masing-masing, seperti Reksa Dana campuran, pendapatan tetap, pasar uang dan saham.

Kita samakan persepsi ya. Moduit tidak menjual produk Reksa Dana, Moduit hanya menyajikan berbagai macam jenis Reksa Dana yang sudah mengantongi izin OJK sehingga aman dan legal diperjual belikan.

Dengan adanya Moduit, kini membeli Reksa Dana semudah berbelanja online lho Moms. Buka aplikasinya, pilih barangnya, beli, transfer dan konfirmasi. Selesai deh. Tinggal kita serahkan kepada Manajer Investasi untuk mengelola asset kita.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

Saat ini ada 9 rekanan Manajer Investasi yang sudah bekerja sama dengan Moduit. Sementara produknya sendiri sudah lengkap dan banyak pilihan, yaitu terdapat 42 produk Reksa Dana termasuk 9 produk syariah didalamnya. Semua produk Reksa Dana sudah terverifikasi aman dan resmi oleh OJK. Masih belum puas? Baik, mari kita jelajahi Investasi Reksa Dana melalui Moduit:

.

Cara Memulai Investasi Reksa Dana Menggunakan Moduit

1. Setelah Instal Moduit, saya lanjutkan registrasi terlebih dulu. Pastikan nama, email dan no handphone yang dicantumkan benar untuk proses verifikasi akun Moduit kita nantinya.

2. Sebelum memulai bertransaksi, ada 6 pertanyaan yang harus dijawab tentang tujuan investasi, pendapatan, jangka waktu investasi dan lainnya. Semua jawaban tersebut akan menentukan jenis profil risiko kita, apakah konservatif, moderat dan agresif. Saya termasuk jenis Moderat artinya saya tipikal imvestor yang mentolerir risiko menengah. Dengan mengetahui jenis profil risiko saya, Moduit sudah mengantongi sejumlah Reksa Dana yang cocok untuk saya beli.

3. Seperti yang disarankan oleh para pakar keuangan. Sebelum memilih jenis investasi Reksa Dana, buatlah perencanaan keuangan terlebih dahulu supaya kita mengetahui target dan jangka waktu yang dibutuhkan.

Beruntungnya Moduit memahami ilmu keuangan dengan baik, jadi kalau kita lupa, Moduit siap mengarahkan dengan sangat baik. Sebelum membeli Reksa Dana, saya diajak untuk membuat tujuan perencanaan keuangan seperti liburan impian, membeli mobil, pendidikan, membeli rumah dan lainnya. Cita-cita finansial saya dalam waktu dekat yaitu pergi ibadah umroh.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

4. Kita mulai melakukan perjalanan finansial untuk mengetahui berapa jumlah uang yang bisa kita peroleh dari jenis investasi Reksa Dana yang kita beli. Berbeda dari Reksa Dana sebelumnya, melalui moduit kita harus memiliki jumlah investasi awal terlebih dahulu dan minimum Rp 1 juta. Tentukan imbal hasil per tahun yang diharapkan, misalnya 10%. Tak lupa, tentukan jangka waktunya. Setelah diisi semua, Moduit akan mengkalkulasi perkiraan nilaiinvestasi sesuai dengan jangka waktu yang diisi.

5. Pada halaman berikutnya, Moduit menyajikan perbandingan komposisi portfolio yang cocok dengan profil kita secara optimal sehingga tujuan finansial kita tercapai. Dari dana yang kita alokasikan diawal Rp 1 juta, dibagi kedalam 4 jenis Reksa Dana dengan pembagian yang berbeda. Misal untuk profil saya dianjurkan membeli Reksa Dana Saham Rp 300 ribu, Campuran Rp 250 ribu, Pendapatan Tetap Rp 250 ribu dan Pasar Uang Rp 200 ribu. Namun, kita tetap bisa menyesuaikan mana yang mau dibeli dan tidak dengan menghilangkan centang didalam kotak.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

6. Saatnya kita memilih produk Reksa Dana dari masing-masing kategori. Sekali lagi, jenis Reksa Dana yang muncul sesuai dengan profil risiko dan tujuan finansial yang kita buat. Setelah memilih produk, Moduit akan menampilkan informasi detail dariproduk tersebut seperti Prospektus dan Fund Fact Sheet sehingga kita bisa menelaah apakah produk tersebut aman untuk dibeli atau tidak. Setelah yakin, tinggal lakukan transaksi dengan mengikuti petunjuk yang muncul di layar handphone.

7. Sebelum check out, keuntungan yang kita dapatkan membeli Reksa Dana melalui Moduit yaitu tidak dikenakan biaya pembelian dan biaya penjualan. Klik check out dan kode transaksi akan dikirm kan melalui whatsapp melalui nomor yang kita daftarkan.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga

8. Silahkan transfer sesuai dengan jumlah yang tertera melalui nomor rekening tujuan. Jangan lupa untuk melakukan konfirmasi melalui link yang dikirimkan melalui Wahtsapp. Waktu transfer hanya 1×24 jam. Jika melebihin waktu yang ditentukan, maka akan hangus.

Baca juga : Tips Belanja Online Aman Menggunakan Debit card

Terus terang, based on my experience, saya pribadi senang sekali dengan adanya aplikasi Moduit. Friendly User, aplikatif dan mudah sekali digunakan bahkan untuk pemula.

Terlebih, Moduit menjawab kebutuhan para pemula seperti saya, yang bingung dan takut memulai Reksa Dana. Moduit hadir untuk membantu mengarahkan mulai dari membuat perencanaan hingga pencapaian financial goal. Gak cuma mendorong orang untuk membeli produk. Tapi lebih dari itu, Moduit menjaga agar para investor bisa mencapai tujuan dengan waktu dan produk yang tepat.

cara mudah reksa dana, apa itu reksa dana, reksda dana yang aman untuk pemula, investasi reksa dana bagi ibu rumah tangga
Ka-Ki- Jeffry Lomanto (Founder Moduit Apps) & Charles Jap (Co Founder)

Aplikasinya juga gak lemot dan keamanannya sangat terjaga sebab kode verifikasi setiap transaksi langsung dikirimkan by whatsapp kepada investor. Menariknya proses log in nya pun bisa menggunakan pin dan finger taps detection.

Interfacenya simpel dan mudah dipelajari. Menampilkan report angka dengan jelas bahkan melalui layar smartphone. Sekarang kita bisa mengecek asset kita dan jenis Reksa Dana apa yang sedang bagus nilainya kapan pun dan dimana pun. Cukup dengan menggunakan smartphone saja tanpa harus datang ke Bank.

So, Mommies mari kita membiasakan diri untuk belajar berinvestasi. Dengan Moduit, gak ada alasan untuk menunda berinvestasi. Semuanya menjadi sangat mudah, karena hidup hemat saja tidak cukup, kita harus mulai menghasilkan. Semoga bermanfaat.

Sumber: cicidesri.com

Coffee Time – Majoris Asset Management

The Fed Kemungkinan Tidak Menaikkan Fed Fund Rate di 2019
Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting yang dilaksanakan tanggal 20 Maret 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) di level 2.50%. Di dalam FOMC tersebut Chairman The Fed Jerome Powell mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan bagi pelaku pasar dimana The Fed kemungkinan besar tidak akan menaikkan FFR di tahun 2019 sekaligus merevisi target kenaikan dua kali FFR di sepanjang tahun 2019 yang disampaikan pada akhir tahun 2018. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan The Fed untuk menahan FFR diantaranya pertumbuhan data tenaga kerja yang tumbuh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya serta pertumbuhan inflasi dan indeks manufaktur yang relatif stagnan. Selain itu The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika di tahun 2019 akan berada di kisaran 2.00 -2.40% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2018 sebesar 3.00%. Dovish statement (lebih moderat dalam menaikkan suku bunga) yang dikemukakan oleh Powell dapat menjadi katalis positif bagi pasar obligasi emerging market termasuk Indonesia yang menawarkan imbal hasil investasi yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara developed market.

 

Bank Indonesia Mempertahankan BI-7DRR di level 6.00%
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung pada hari Kamis 21 Maret 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI – 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 6.00%. Selain itu suku bunga deposit facility rate tetap di level 5.25% dan lending facility rate di level 6.75%. Keputusan tersebut diambil memperhitungkan tingkat inflasi yang stabil di kisaran 2.50 – 3.00% serta kebijakan The Fed yang tetap menahan FFR di level 2.50%. Para pelaku pasar mengapresiasi terhadap keputusan BI menahan 7-DRR karena stabilitas moneter akan tetap terjaga serta mempertahankan capital inflow di pasar saham dan obligasi domestik.

 

Statement Dovish The Fed Memberikan Sentimen Positif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (18 – 22 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.99% ditutup di level 6,525.27 melanjutkan penguatan IHSG yang terjadi pada minggu sebelumnya. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar Rp +1.30 triliun sehinggga secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 9.50 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Finance +2.27%, diikuti oleh Property +2.16%, Basic Industry +1.79% dan Infrastructure +0.62%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan hanya Agriculture -1.56% dan Consumer Goods -0.73%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +1.05% sesudah The Fed merilis pernyataan kemungkinan tidak akan menaikkan FFR di tahun 2019. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.75% menjadi 7.57%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 22 Maret 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 61.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 954.20 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Maret 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN dan SBSN di sepanjang tahun 2019.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Satrio Tower, 6th Floor
Jl. Prof. Dr. Satrio Blok C4 No. 5
Jakarta Selatan 12950, Indonesia

Petunjuk Arah

Jam Operasional
Hari bursa pukul 08.30 – 17.00 WIB

  • Tel.+6221 5020 2900
  • Fax.+6221 5020 2922
Chat Dengan Kami
Follow
Available at:
Tersedia di: