Cerita Moduers – Mengenal Pasar Saham

Sejak empat tahun yang lalu saya sudah mulai tertarik dengan yang namanya pasar saham. Sebenarnya tahu kata saham pertama kali sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Namun sayangnya yang aku dengar antara lain seperti ini saham itu judi, saham itu bisa bikin bangkrut, saham itu berbahaya, kalau investasi saham harus siap untuk rugi. Biasanya yang berinvestasi saham itu harus terjaga sepanjang malam dan harus selalu di depan layar komputer. Sayangnya itu sama sekali tidak benar ternyata. Tergantung bagaimana cara pandang, dari sudut perspektif mana kita melihat dan juga tergantung dari cara kita untuk berinvestasi. Bila kita berinvestasi secara asal-asalan, ya kita harus siap untuk rugi. Bila kita berinvestasi di pasar modal asing ya kemungkinan kita harus mengecek market di malam hari karena perbedaan waktu. Jadi ternyata tidak semua yang aku dengar itu betul.

 

Katanya harus ada modal paling tidak ratusan juta untuk berinvestasi. Sayang itu juga lagi-lagi tidak betul, ternyata dengan modal minim mulai dari 10 juta atau bahkan kurang saat ini kita sudah bisa berinvestasi di pasar modal. Nah sejak empat tahun lalu aku mengenal beberapa teman yang menjadi investor. Aku mulai tertarik dengan yang namanya pasar modal. Sayangnya aku belum menemukan mentor dan belum menemukan panduan yang tepat untuk belajar. Mungkin aku yang kurang usaha.

 

Di tahun 2018 aku makin penasaran dengan yang namanya pasar modal karena aku melihat teman-temanku yang berinvestasi itu hasilnya cukup baik selain itu mereka juga punya waktu lebih. Awalnya aku tidak paham apa yang mereka bicarakan bahkan kode-kode saham (BB*I, BB*A, dll), seperti kode morse di telingaku. Akhirnya aku mulai bertanya ke kanan dan ke kiri. Menanyakan bagaimana cara berinvestasi di pasar modal. Ya sayangnya sih 9 dari 10 menjawab “Hey jangan, itu judi, itu merugikan, itu berbahaya, uangmu bisa hilang”. Semua jawaban mengecewakan. Ya sebenarnya tidak heran karena mereka sempat mengalami kerugian di pasar saham. Tapi setelah kutelusuri, penyebabnya karena mereka asal mencoba berinvestasi tidak belajar sebelumnya.

 

Akhirnya aku mencoba bertanya kepada yang lain, siapa tahu mungkin aku salah bertanya. Meskipun aku bertanya kepada yang sudah pernah berinvestasi mereka cuma berkata “Buat apa kamu berinvestasi di pasar saham, hati-hati lho nanti uangmu hilang”, padahal mereka berinvestasi. Aku jadi semakin tidak mengerti. Aku datang kepada mereka yang cukup sukses berinvestasi dan bertanya bagaimana caranya mengerti pasar saham ini tapi aku tidak mendapat jawaban, mereka tidak memberikan pencerahan padaku sedikitpun.

 

Karena merasa sudah mentok akhirnya aku mencari cara lain yaitu dengan belajar sendiri. Aku sempat mengikuti sesi seminar salah satu konglomerat saham dan mulai membaca buku yang disarankan beliau. Dari sesi itu aku cukup mendapat pencerahan rasanya seperti ada titik terang di tengah kegelapan. Aku mulai membaca satu buku yang disarankannya. Kemudian aku juga mengikuti seminar kedua di tahun 2019 dan mulai membaca buku lainnya. Sebenarnya langkahku ini ditertawakan oleh banyak orang. Namun, ya sudahlah, setiap orang punya pandangan dan persepsi, serta caranya sendiri-sendiri. Setidaknya dibanding 2 tahun lalu, aku jauh lebih mengerti tentang saham.

 

Aku mulai membuka akun saham di awal tahun 2020. Yah sebenarnya masih terlalu dini untuk berbagi, karena akupun masih pemula. Namun karena aku percaya pada seseorang yang mendorongku untuk berbagi, aku mulai menulis artikel-artikel ini. Back to the topic. Aku mulai memberanikan diri untuk membeli saham pertamaku, salah satu saham yang baru saja IPO di tahun 2020. Saat itu aku bahkan tidak tahu caranya membeli dan menjual saham. Apa itu bid dan offer aku tidak mengerti. Sehingga asal klik saja. Alhasil setelah pembelian berhasil, dan saham yang aku pilih naik banyak, aku tidak berhasil menjualnya alias terjadi cut profit (profit berkurang dari yang seharusnya dicapai). Dari yang harusnya untung 50% menjadi hanya untung 25%. Cukup baik sih untuk pemula seperti aku, tapi jelas kurang memuaskan. Kalau kata temanku ini namanya just beginner luck, tapi bagiku bukan, karena ada pertimbangan tersendiri kenapa aku memilih saham tersebut dan yakin sahamnya akan naik (meskipun, bisa saja aku ternyata keliru).

 

Setelah mendulang untung di saham pertama. Aku mulai melirik saham lainnya. Meskipun aku sudah belajar, ternyata yang aku pelajari masih minim sekali. Aku memang sudah bisa memilah mana perusahaan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan. Namun, ternyata list-nya masih cukup panjang, hampir 200 perusahaan, dimana kita tidak mungkin berinvestasi di 200 perusahaan sekaligus. Setelah kusaring tetap saja jumlahnya masih di angka 100 lebih, masih terlalu banyak. Merasa menemukan jalan buntu, aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri.

 

Sampai pada suatu titik, dimana akhirnya aku bisa memilah 200 perusahaan dengan “sangat cepat” (dibandingkan sebelumnya). Berarti kali ini aku tinggal membeli sahamnya saja. Tapi pada kenyataannya… meskipun aku pernah mengalami namanya rapot merah karena kredit macet di P2P, tetap saja warna merah pada saham membuatku sedikit kuatir dan tidak tenang. Aneh sekali pikirku, padahal awalnya aku cukup pede kalau aku siap menghadapi hal tersebut. Salah seorang mentor mengatakan bahwa itu hal yang wajar mengingat aku baru belajar. Yah seperti orang yang baru belajar menyetir mobil, mungkin awalnya tidak bisa, mungkin satu dua kali menyerempet, mungkin sedikit berdebar-debar, hal itu wajar karena aku belum terbiasa. Ada quote mengatakan “Practice makes perfect”. Yes, that’s right!

 

Pengalaman mendulang cuan di saham pertama, bukan berarti menandakan akan selalu cuan. Karena adanya Covid, portofolioku sempat hampir semua merah. Awalnya aku santai saja melihat portofolio kebakaran, bahkan sempat averaging down di salah satu saham, hingga akhirnya malah untung. Namun, berjalan dengan waktu aku banyak mendengar kata-kata, hati-hati jangan menangkap pisau jatuh, belum lagi keresahan dimana-mana, dan lagi bayang-bayang dari kasus The Great Depression 1929 menghantui, dimana saat itu nilai USD 1.000 yang diinvestasikan menjadi 170 USD, yah anggap saja tiap kita investasti 1 juta hasil nya 170 ribu, bukannya untung malah buntung…

 

Aku kembali bertanya ke kanan dan ke kiri, sayangnya ternyata aku kurang teliti, dimana aku bertanya pada orang yang “kurang tepat”, sehingga menghasilkan jawaban yang juga “kurang tepat”, hasil akhirnya juga “kurang tepat”. Yang awalnya pede, mulai ragu-ragu dengan keputusan diri sendiri karena terlalu banyak mendengarkan orang lain, sehingga aku tidak “take action”. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Philip A. Fisher melalui salah satu bukunya, bahwa “Menunda pembelian yang menarik karena ketakutan akan apa yang terjadi pada bursa saham, adalah kerugian besar”.

 

Apa yang kita pikirkan belum tentu benar terjadi, jadi berpikir positif sangatlah penting. Sayangnya aku mengalami kerugian yang cukup besar karena hal ini, yang aku tidak mau sebut jumlahnya untuk saat ini. Dan ini sempat membuat aku down serta menjauh dari bursa saham selama beberapa minggu lamanya, dan malah menyebabkan potential loss ku makin besar. Dari pengalaman ini aku mendapat pelajaran berharga untuk lebih percaya pada diri sendiri. Saat ini aku sedang mengumpulkan kepercayaan diriku untuk kembali berinvestasi dan I’ll be back very soon.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Pinjaman P2P dan Crowdfunding

Dunia investasi ternyata begitu luas. Sayang sekali kalau kita hanya mengenal kata menabung dan deposito. Dari investasi reksa dana aku mulai bertanya-tanya dan terus bertanya apa ada investasi lainnya yang bisa aku lakukan. Akhirnya aku menemukan investasi berbentuk asuransi yang sistemnya mirip dengan deposito tapi dengan bunga yang lumayan tinggi. Kekurangan investasi ini modalnya cukup besar di awal, tidak bisa kita mulai dengan hanya 10 juta, 1 juta, 100 ribu, apalagi cuma dengan 10 ribu seperti reksa dana. Masa penahanan dananya juga bervariasi dan ada yang cukup panjang hingga 1 tahun. Tapi akhirnya, setelah kupelajari, aku membulatkan tekad untuk mencoba. Kali ini aku cukup cepat mengambil keputusan, dan sudah lebih mantap, tidak bingung lagi seperti pertama kali aku berinvestasi.

 

Selama 1 tahun berinvestasi di sini hasilnya cukup bagus tapi aku tidak berhenti disitu, aku bertanya-tanya lagi barangkali ada juga jenis investasi lain yang bagus. Nah setelah mencari-cari aku menemukan yang namanya equity crowdfunding, sistem investasi dengan cara patungan bisnis, cukup menarik. Bayangkan kita bisa punya Indomaret atau mungkin kita bisa punya restoran, bisa juga punya tambak, bisa juga punya salon hanya dengan modal beberapa juta saja, wah keren banget pokoknya.

 

Aku mulai mempelajari bisnis tersebut untuk melihat apakah ini bisnis yang benar, bukan money game, apakah diawasi oleh OJK, bisnis apa yang kira-kira menguntungkan. Kalau di equity crowdfunding ini aku mesti lebih pintar memilih dan membaca laporan keuangan sederhana dan melihat proyeksi ke depan. Kekurangan investasi ini adalah karena bisnisnya belum jalan, ya selain keuntungan, kita bisa saja menderita kerugian bila ternyata bisnisnya gagal. Karena sudah cukup siap rugi, aku mulai mempelajari investasi tersebut.

 

Ada dua sektor yang cukup menarik buatku yaitu tambak dan ritel seperti minimarket. Sayangnya untuk minimarket sudah tutup dan kemungkinan tidak ada lagi untuk jangka waktu yang masih belum bisa ditentukan. Sedangkan bisnis tambak tampaknya selalu sold out dan aku selalu tidak kebagian, akhirnya aku mulai melirik bisnis lain yaitu Food and Beverages (F&B) dan wellness. Setelah mempelajari beberapa proposal akhirnya aku memutuskan untuk join crowdfunding ini, di bidang F&B. Ternyata ini belum rejekiku. Setelah aku transfer semua dana dan melengkapi data-data, tidak lama kemudian uangku dikembalikan karena ternyata aku sedikit terlambat transfernya dan sudah ada orang lain yang berinvestasi. Ya sudahlah, mungkin memang belum rezekinya. Tapi saat ini aku bersyukur, kalau saja aku diterima, mungkin aku dalam posisi merugi, karena di era Covid sektor F&B benar-benar terpukul. Ya ternyata dibalik suatu hambatan ada tetap ada hal yang bisa kita syukuri. Memang investasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan belajar juga ternyata.

 

Gagal di equity crowdfunding, tidak membuatku patah semangat. Sambil tetap menjalankan investasiku yang lama, aku mulai mencari hal-hal baru. Tidak lama kemudian aku menemukan P2P lending (peer-to-peer lending), konsep baru yang belum aku dengar sebelumnya.

 

P2P (peer-to-peer) Lending adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Kapok dengan pengalaman money game, secara otomatis sebelum mulai berinvestasi aku mengecek perijinan P2P, tidak tanggung-tanggung aku menelpon OJK. Mungkin terasa berlebihan, tapi lebih baik daripada terjerumus money game lagi. Izin oke, lampu hijau menyala, aku mulai mempelajari P2P tersebut.

 

Memang ternyata dari data OJK, ada lebih dari 100 perusahaan fintech di Indonesia yang sudah mengurus perizinan, dan pada saat itu hanya 11 yang izinnya sudah finalisasi. P2P yang aku lirik adalah salah satu yang cukup lama di bidang fintech. Di sini aku mengenal istilah baru yaitu NPL (Non-Performing Loan) atau angka gagal bayar, dan TKB90 yaitu ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara Fintech P2P Lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari sejak tanggal jatuh tempo.

 

Aku merasa prospek fintech ke depan sangat cerah, karena teknologi akan terus maju. Aku yakin ke depan fintech akan mengelola dana dalam jumlah besar, dan mungkin dalam waktu singkat bisa bersaing dengan bank-bank (meskipun dalam realitanya mereka bersinergi, bersaing disini dalam arti jumlah dana kelolaan). P2P yang aku lirik TKB90 nya saat itu di atas 98%, kadang mencapai 99%, angka yang cukup impresif. Yah ada 1-2% yang terlambat membayar lebih dari 90 hari (bukan berarti pasti gagal bayar ya…). Hitung-hitung, risiko 1-2% itu bisa aku terima, worth to try, akhirnya aku mulai memasukkan dana ke P2P tersebut.

 

Kekurangan P2P ini (yang saya pilih) kita juga harus melihat kemampuan tiap perusahaan dalam mengembalikan pinjaman kita, apakah perusahaan selalu tepat waktu, lalu bagaimana keuangan perusahaan, dan termasuk kategori rating kredit yang mana. Awalnya ya cukup membingungkan ya, ada banyak istilah yg tidak aku mengerti DER, EBIT, EBITDA, dll. Namun, meskipun begitu aku tetap mulai berinvestasi dengan pengetahuan seadanya. Dimulai dengan 1 project, dengan dana yang sangat minim, setelah aku rasa aman, aku lanjut ke project kedua, ketiga, keempat, dan tidak terasa tiba-tiba yang aku ingat, sudah mencapai hampir 80 projects.

 

Waktu itu karena kesibukan, aku tidak terlalu sempat memantau investasiku, yang awalnya baik-baik dan lancar, suatu ketika berubah, tiba-tiba NPL anjlok ke angka 95%. Memang nilainya terlihat kecil 3%. Tapi dari sekian banyak project yang aku biayai, mungkin sekitar 35 project sudah selesai, 45 masih berjalan, dan 13 diantaranya memberikan rapor merah, alias macet. Tiga belas project berarti sekitar hampir 30% mulai menunjukkan keterlambatan pembayaran. Memang betul ada 35 project yang sudah selesai, dan aku mendapat keuntungan, tapi kalau dihitung dengan project yang macet itu, sebenarnya modal investasiku akan tergerus cukup banyak alias merugi, bisa mencapai hampir 25% modal investasiku. Bukannya untung, malah buntung.

 

Karena tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun pasrah, dan hanya bisa berdoa, serta menunggu. Sambil menunggu, aku bukannya berhenti berinvestasi, tapi tetap rajin berinvestasi. Akhirnya dengan kesabaran, ternyata floating loss yang aku alami tidak menjadi real loss, dan aku masih membukukan keuntungan. Memang dunia investasi tidak dapat ditebak, penuh dengan kejutan, dan butuh banyak kesabaran.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Tips Mengatur Keuangan

 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Baik itu dalam hal karir dalam hal bisnis ataupun dalam hal berinvestasi.  Aku pun memulai investasi dalam jumlah yang sangat kecil, awalnya tidak bisa dan tidak biasa, juga tidak serta merta mendapatkan hasil investasi yang cukup besar, bahkan diawali dengan kerugian 100%.

 

Semua perlu waktu. Hasil tersebut tampak semenjak aku mulai konsisten dan disiplin dalam berinvestasi, gulung gulung gulung terus menggulung investasi tersebut hingga mulai tampak hasilnya, atau ini sering dikenal dengan compounding interest. Setiap 1 juta yang kita investasikan kalau kita rutin setiap bulan terus menginvestasikan 1 juta tersebut dalam 30 tahun dengan bunga 10% akan menjadi 1,97 Milyar. Bandingkan dengan bila kita hanya menabung 1 juta perbulan hasilnya hanya menjadi sekitar 360 juta saja. Perbedaan ini bagaikan bumi dan langit, padahal baru dengan modal 1 juta, bayangkan kalau 2 juta, 3 juta, dan seterusnya, pasti hasilnya akan lebih fantastis. Namun hasil ini hanya bisa diperoleh oleh orang yang sabar dan disiplin, walau tidak mudah, pasti bisa dilakukan dengan komitmen.

 

Selain komitmen, sepertinya keberhasilan kali ini juga didukung adanya money management yang tepat. Money management paling simpel adalah sisihkan dulu baru sisanya dihabiskan. Kebanyakan dari kita, nanti dulu nabungnya kalau sudah ada sisa, yang ujung-ujungnya uang kita selalu habis duluan sebelum akhir bulan. Berikut ini money management sederhana yang bisa kita ikuti:

 

 

10% investasi

10% belajar (menimba ilmu)

10% amal

10% dana darurat

10% berlibur

50% dihabiskan (untuk keperluan sehari-hari)

 

Dengan cara sederhana seperti di atas ternyata bisa membuahkan hasil yang bagus bila kita disiplin. Ada istilah pay yourself first, aku sendiri baru dengar istilah ini, yang artinya kita harus menyisihkan untuk diri kita dahulu alias berinvestasi, dan itu sangat betul. Kalau dulu aku asal menyisihkan dan tidak berinvestasi, atau berinvestasi tapi tidak konsisten, akibatnya hasil tidak ada atau sangat minim. And now, I pay myself first.

 

Untuk awal aku memang menggunakan diagram sederhana di atas, namun dengan persentase yang aku modifikasi sesuai kemampuanku, diawali dengen persentase investasi 15% dan sekarang persentasenya jauh lebih besar dibandingkan persentase di awal. Investasi yang dulunya susah, sekarang sudah menjadi habit, malah aneh rasanya kalau tidak berinvestasi. Target berikutnya semoga dalam waktu dekat bisa hidup hanya dari 10% income. Cukup ambisius memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin bila kita berdoa dan berusaha. Bermimpilah setinggi langit, kalaupun engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang. Cita-citaku di masa depan adalah menjadi full time investor, semoga segera tercapai, amiin.

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Hari Bursa

Apa itu hari bursa?

Semua transaksi reksa dana, baik pembelian; penjualan kembali; maupun pengalihan, diproses setiap hari bursa. Hari bursa adalah hari diselenggarakannya perdagangan efek di bursa yaitu hari Senin sampai dengan Jumat, kecuali hari tersebut merupakan hari libur nasional atau dinyatakan sebagai hari libur Bursa oleh Bursa Efek Indonesia. Tahun 2020 ini terdapat 240 hari bursa yang berarti terdapat 126 hari libur bursa. Detil selengkapnya dapat dilihat di tabel di bawah ini.

Dampak libur bursa pada transaksi

Pada saat libur bursa, transaksi Anda akan tertunda untuk diproses pada hari bursa selanjutnya. Misalnya Anda memasukkan instruksi penjualan di hari Sabtu, maka pesanan penjualan tersebut akan diproses pada hari bursa berikutnya, yaitu hari Senin.

Sebagai ilustrasi, berikut penyesuaian atas transaksi tersebut:

Waktu Konfirmasi Transaksi
Tanggal NAB/Unit (T)
Pengkinian Unit di Portofolio
20 Mei 2020
(sampai pk 12.00 )
20 Mei 2020
26 Mei 2020
20 Mei 2020
(setelah pk 12.00 WIB)
21-25 Mei 2020
(libur bursa)
26 Mei 2020
(sampai pk 12.00 WIB)
26 Mei 2020
27 Mei 2020
Jadwal Pembayaran Dana Penjualan Kembali
T+1
T+2
T+3
T+4
T+5
T+6
T+7
27 Mei
28 Mei
29 Mei
2 Juni
3 Juni
4 Juni
5 Juni
28 Mei
29 Mei
2 Juni
3 Juni
4 Juni
5 Juni
8 Juni

Cerita Moduers – Money Game

Awal mula berinvestasi di reksa dana bukan karena bertanya ke bank ataupun mbah Google, namun karena terjerumus ke dalam money game. Yes betul, money game! Sebenarnya tidak sengaja karena aku pun tidak tahu apa itu money game pada awalnya. Aku hanya membantu seseorang (kita sebut saja si A) yang juga adalah hanya sebagai member di investasi itu. Dia menunjukkan bukti-bukti kalau barang dari perusahaan tersebut itu terkirim, ada surat-suratnya, dan juga ada kantornya, jadi ya aku percaya saja secara waktu itu aku masih belum banyak pengetahuan tentang investasi.

 

Aku merasa perusahaan tersebut cukup oke dan keuntungannya menggiurkan, jadi tidak ada salahnya aku membantu, toh tidak rugi apa-apa. Nah, mulailah aku membantu mempromosikan perusahaan tersebut meskipun aku sebenarnya juga tidak untung apa-apa, jadi sekedar hanya ingin bantu. Nah disinilah saat aku mulai membantu promosi tentang perusahaan tersebut kepada teman-teman.

 

Beberapa waktu berselang ada seseorang yang menerima promoku yang memperingatkan tentang money game. Awalnya aku juga bingung apa itu money game. Beliau menjelaskan tentang money game dan kemudian beliau yang secara tidak langsung akhirnya menjadi mentorku di kala itu. Beliau menyarankan aku untuk berhenti dari money game tersebut.

 

Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang compounding interest, yang baru pertama kali kudengar. Dengan kalkulatornya, beliau tunjukkan bagaimana cara menghitung compounding interest via excel dan hasilnya sangat menakjubkan serasa kayaknya kok nggak mungkin ya masa sih duit 1 juta yang kita taruh bisa berubah jadi puluhan juta bahkan jadi ratusan juta dengan time frame tertentu (jangka waktunya lumayan panjang alias butuh kesabaran). Jadi berbeda dengan money game yang hasilnya memang banyak dan instan, compounding interest awalnya kelihatan sedikit tapi lama-kelamaan menjadi seperti salju yang terus-menerus bergulung atau snowball effect, dan akhirnya menjadi sangat besar.

 

Dari situ beliau menyarankan aku untuk berinvestasi di paper asset yaitu reksa dana. Singkat cerita, setelah mendapat peringatan tersebut, aku yang awalnya PD menjadi mulai gelisah dan tidak tenang. Aku melakukan riset sederhana hingga sampai pada suatu titik dimana aku berencana berhenti, dan memperingatkan si A juga. Namun si A tidak menghiraukan peringatanku, dan tetap pada pendiriannya di perusahaan tersebut. Aku yang karena ingin tahu sempat memasukkan uang juga ke dalam perusahaan lain yang sejenis, meskipun aku tahu risikonya aku kehilangan 100% uangku, hanya untuk testing dan mencari tahu kebenaran info yang aku baca atau aku dengar. Dan ternyata, dengan perjalanan waktu terbukti bahwa perusahaan tersebut hanya money game dan pada akhirnya uangku hilang lenyap ditelan bumi. Aku akhirnya membulatkan tekad untuk berhenti. Perasaan lega karena mengambil keputusan yang benar datang, sekaligus rasa tidak enak dan kasihan kepada teman-teman yang menderita kerugian (aku tidak sengaja telah menyeret seorang temanku yang kepincut promo tentang perusahaan tersebut dan menjadi rugi pada akhirnya).

 

Mungkin untuk Moduers yang tidak tahu apa itu money game, bisa cari di Google, dan usahakan jangan pernah menyentuh hal tersebut agar tidak melakukan kesalahan yang sama denganku. Berikut ini ciri-ciri money game yang aku tahu, dan mungkin bisa dijadikan referensi agar teman-teman bisa terhindar:

 

  1. Menjanjikan imbal hasil tinggi dalam waktu relatif singkat atau bahkan instan, seringkali mencapai puluhan persen per bulan, atau ratusan persen per tahun.
  2. Tidak menyebutkan risiko yang mungkin terjadi.
  3. Seringkali disertai menggembor-gemborkan ijin usaha yang ternyata bodong.
  4. Kadang juga mengatasnamakan orang-orang terkenal.
  5. Sistemnya seringkali dibalut dengan MLM/ multi-level marketing, dimana sebenarnya imbal hasil tinggi tsb diperoleh karena uang member baru (tidak berarti bahwa MLM pasti buruk ya, MLM banyak sekali yang bagus hanya kita harus pintar-pintar menyaring apakah perusahaan tersebut money game atau real business).
  6. Seringkali komisi besar yang diberikan bukan dari penjualan produknya tapi dari merekrut member baru.

 

Sejak saat itu hingga sekarang aku tidak pernah menyentuh money game lagi. Yang dulu awalnya excited bagiku, sekarang membuatku apatis dan skeptis bila ditawari proyek semacam itu, dan tentunya lari secepat kilat dari ajakan tersebut 😊. Please be careful, Moduers!

 

Disclaimer:

Cerita Moduers adalah kolom tulisan dari pengguna Moduit. Setiap artikel merupakan pengalaman pribadi dan menjadi pertanggungjawaban penulis.

 

Ingin mulai berinvestasi? Download aplikasi Moduit disini.

 

Share:

Cerita Moduers – Investasi Online vs di Bank

Aku mulai investasi di reksa dana sudah lebih dari 5 tahun yang lalu. Awalnya sih cuma tahu kalau ada beberapa macam reksa dana, yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. Setelah membaca beberapa artikel jadi mengerti kalau reksa dana pasar saham menjanjikan keuntungan paling besar, sedangkan reksa dana pasar uang adalah yang kecil.

 

Kemudian aku mulai dengan memetakan profil risikoku. Dengan berbekal pengetahuan yang minim itu, aku dengan percaya diri berangkat ke bank untuk membuka rekening reksa dana. Ternyata sampai di bank, tiap-tiap reksa dana itu masih ada pilihannya juga, masing-masing bisa antara 10 sampai 30 macam. Alhasil karena keterbatasan pengetahuan, aku asal tunjuk saja akhirnya ke perusahaan mana saja yang kira-kira bisa menghasilkan. Bagiku yang penting sebagian masuk ke saham, sebagian lagi masuk ke pasar uang karena aku mengharapkan hasilnya lebih banyak, tapi sekaligus juga mengharapkan perlindungan di sisi lain.

 

Prosesnya cukup panjang dan memakan banyak waktu saat itu, aku harus pergi ke bank, antri CS, saat di CS isi begitu banyak formulir, dan saat pulang membawa beberapa berkas, memakan waktu berjam-jam. Waktu itu sih masih cukup ribet ya untuk Investasi reksa dana ataupun untuk memilih-milih reksadananya, tidak sepraktis zaman sekarang yang tinggal klik. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di “zaman now”.

 

Pertama kali membuka rekening aku langsung berinvestasi secara lump sum (di depan) dan menabung rutin setelahnya.  Sayangnya hasil investasi reksa danaku meskipun berkembang, tapi masih sangat jauh dari yang aku harapkan karena aku tidak berinvestasi secara rutin. Hanya beberapa bulan awal dan setelah itu lupa. Padahal kalau saja aku tetap rajin berinvestasi saat itu, mungkin hasil yang aku dapat saat ini jauh lebih banyak ya. Yah nasi sudah menjadi bubur, apa daya.

 

Akhirnya aku mencoba lagi berinvestasi, kali ini dengan lebih rutin, lebih konsisten, setiap bulan aku menyisihkan. Kali ini yang aku sisihkan bukan hanya untuk ditabung saja, tapi benar-benar untuk diinvestasikan, thanks God, kali ini karena kemajuan teknologi semua bisa dilakukan dari rumah, dengan hanya hitungan menit, kita sudah resmi sebagai investor. Sangat amat nyaman sekali dibandingkan zaman dulu. Kini sudah beberapa tahun aku berinvestasi dan aku mulai merasakan hasilnya. Kalau dulu hasil investasiku sama sekali tidak tampak menghasilkan atau bisa dibilang seperti tidak ada hasilnya, sekarang 40% monthly income adalah dari hasil berinvestasi. Wow, kalau dipikir-pikir, cukup bagus ya, karena dulunya hasilnya bahkan tidak mencapai 1% dari monthly income. Target jangka pendekku adalah hasil investasiku minimal sama dengan atau lebih besar hasil dari aku bekerja secara aktif. Sedangkan target jangka panjangku, aku bisa hidup dari passive income, dimana aku sudah tidak bekerja lagi karena sebuah keharusan, tapi hanya untuk giving back to the society. I believe in the power of compound interest.

 

(more…)

Share:

Sertifikasi dan Lisensi Praktisi Keuangan: Harus Percaya Siapa?

Hi Moduers, 

 

Mungkin banyak Moduers yang bertanya-tanya mengenai sertifikasi dan lisensi yang harus dimiliki oleh para praktisi di bidang keuangan, apalagi beberapa hari ini lagi ramai pemberitaaan yang terkait dengan hal ini. Supaya bisa lebih punya gambaran, yuk kita baca artikel di bawah ini!

 

Bila kita berbicara tentang industri keuangan, khususnya dunia Wealth Management, secara garis besar ada 3 peran yang dilakukan oleh para praktisi keuangan, yaitu:

 

  • Peran sebagai EDUKATOR
  • Peran ADVISORY
  • Peran mengeksekusi TRANSAKSI

 

Peran-peran tersebut masing-masing mempunyai fungsi dan persyaratan yang berbeda-beda, mari kita coba telaah satu persatu:

 

  1. EDUKATOR

    Peran ini sangatlah penting dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Seperti kita ketahui, berdasarkan data dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada akhir tahun 2019, dari 270 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 1% nya yang merupakan investor pasar modal.Dengan adanya perkembangan teknologi, terutama perkembangan media sosial yang sangat pesat, literasi keuanganpun dapat berkembang lebih pesat dibanding sebelumnya. Banyak influencer bermunculan dan melakukan literasi keuangan dengan menggunakan media sosial.  Masyarakat pun, terutama Generasi Milenial dan Generasi Z, menjadi lebih melek atas pentingnya berinvestasi sejak dini, dan juga melek mengenai produk-produk keuangan.Seiring dengan perkembangan ini, penting bagi Moduers untuk memilah-milah informasi yang diberikan, pastikan Moduers mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang mempunyai kompetensi di dalam bidang ini. Latar belakang pendidikan dan jam terbang pengalaman influencer bisa menjadi faktor yang menjadi tolak ukur apakah pihak tersebut mempunyai kompetensi atau tidak.

    Sertifikasi yang dimiliki oleh pelaku literasi keuangan juga bisa menjadi faktor untuk melihat kompetensi seseorang.  Sertifikasi yang umumnya dimiliki oleh orang yang beraktifitas di bidang ini antara lain: CFP (Certified Financial Planner), RFP (Registered Financial Planner), RFC (Registered Financial Consultant), CWM (Certified Wealth Manager), CWMA (Certified Wealth Manager’s Association) yang pada umumnya merupakan sertifikasi internasional.

    Untuk mendapatkan suatu gelar sertifikasi, yang bersangkutan pasti sudah melalui suatu proses pembelajaran dan telah berhasil melewati suatu ujian dengan standar tertentu. Setelah lulus, para pemegang sertifikasi, juga harus tunduk terhadap Kode Etik dan Standar Praktik yang telah diatur.  Misalnya pada CFP (Certified Financial Planner) dan RFP (Registered Financial Planner) terdapat 8 Kode Etik yang harus diikuti oleh para pemegang sertifikasi.

    Sebagai Wealth Management Platform yang mempunyai misi sebagai gateway to wealth  dengan menyediakan akses terhadap produk-produk keuangan dengan nominal yang dapat terjangkau, tentunya Moduit juga melakukan kegiatan memberikan Literasi Keuangan. Dalam melakukan literasi keuangan, Moduit melakukannya melalui cara online dan offline. Cara online dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, Youtube dan juga seminar-seminar online. Sedangkan cara offline dilakukan dengan mengunjungi kampus-kampus, komunitas-komunitas maupun kantor-kantor (Tentunya ini sebelum pandemi ya, Moduers). Literasi keuangan ini dilakukan oleh Tim Moduit yang secara rata-rata sudah mempunyai pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia Wealth Management dan juga telah mempunyai sertifikasi, dalam hal ini CFP.

 

  1. ADVISORY

    Peran ini dilakukan untuk memberikan nasihat kepada para nasabah, tentunya berdasarkan kondisi dan profil nasabah, antara lain profil risiko dan tujuan keuangan nasabah. Pada peran ini diperlukan suatu lisensi dari regulator, dalam hal ini OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Lisensi tersebut adalah lisensi sebagai Penasihat Investasi.Di Indonesia, saat ini ada sekitar 30 perusahaan maupun individu yang memegang lisensi Penasihat Investasi. Daftar pemegang lisensi ini bisa dilihat di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada saat ini Moduit sudah memiliki lisensi sebagai Penasihat Investasi dengan surat keputusan KEP-30/D.04/2019, lisensi ini yang menjadi pedoman Moduit dalam memberikan rekomendasi produk bagi Moduers pada fitur Moduit Navigator di aplikasi Moduit. Hal ini tentunya bermanfaat bagi Moduers dalam menentukan portofolio yang sesuai dengan Profil Moduers.

 

  1. TRANSAKSI

    Supaya bisa mengeksekusi transaksi, seseorang praktisi keuangan wajib mempunyai LISENSI dari OJK yang terkait dengan produk yang dipasarkan. Bagi seseorang Tenaga Pemasar Asuransi Jiwa, diperlukan lisensi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia). Bagi Tenaga Pemasar Reksa Dana, wajib mempunyai Lisensi WAPERD (Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana). Bagi para pemasar produk-produk efek, diperlukan lisensi WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek).Untuk produk Reksa Dana, para tenaga pemasar bersertifikasi WAPERD, harus bernaung pada suatu institusi yang memiliki lisensi APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana). Moduit dalam melakukan kegiatan pemasaran reksa dana, sudah memiliki lisensi APERD dengan surat keputusan KEP-16/PM.21/2018. Untuk para Tenaga Pemasar yang bergabung sebagai Moduit Advisor, juga diwajibkan untuk memiliki dan mendaftarkan lisensi WAPERD-nya secara eksklusif di Moduit.

 

Di luar 3 peran diatas, masih ada satu peran lagi yang terkait, yaitu peran menghimpun dan mengelola dana-dana masyarakat. Peran ini dimiliki oleh para Manajer Investasi penyedia produk-produk Reksa Dana, dimana saat ini terdapat 16 Manajer Investasi dengan kurang lebih 70 produk Reksa Dana yang Moduers dapat pilih pada aplikasi Moduit.

 

Untuk mendirikan perusahaan Manajer Investasi diperlukan ijin dan lisensi dari OJK, sedangkan untuk orang yang mengelola Reksa Dana juga wajib memiliki lisensi perorangan yaitu Wakil Manajer Investasi (WMI). Untuk mengetahui apakah suatu Manajer Investasi telah memiliki lisensi atau belum, Moduers dapat menemukannya di prospektus pada produk reksadana yang Moduers pilih. Namun tenang aja Moduers, Moduit sudah melakukan proses Kurasi Produk, untuk memastikan bahwa Manajer Investasi dan Produk-Produk Reksa Dana yang tersedia pada aplikasi Moduit telah berlisensi dan merupakan pilihan yang terbaik untuk Moduers.

 

Cukup banyak ya ternyata sertifikasi dan lisensi yang wajib dimiliki oleh pelaku industri keuangan! Walaupun begitu, ada baiknya Moduers memahami hal-hal ini, terutama untuk screening awal ketik memilih rekan keuangan terpercaya, sehingga tujuan Moduers berinvestasi bisa tercapai dengan baik, tidak terjebak pada Investasi yang tidak resmi.

 

Bagaimana tanggapan Moduers setelah membaca artikel di atas, lebih yakin dong berinvestasi reksadana di Moduit? Kami selalu berusaha untuk membuat Moduers memiliki rasa aman dan nyaman dalam berinvestasi. Untuk Moduers yang ingin meningkatkan pengetahuan tentang investasi khususnya reksa dana, yuk mengakses link ini :

 

 

#SalamModuit

Share:

Jumlah Penderita Covid-19 Dan Pengangguran Naik, Kok IHSG Juga Naik?

“Jaka Sembung, makin kembung,

Data tak nyambung, bikin bingung”

 

Hi Moduers,

 

Kondisi pasar saham biasanya mencerminkan kondisi ekonomi suatu negara, yang ditampilkan dalam bentuk data-data ekonomi seperti data pendapatan domestik bruto, inflasi, suku bunga, jumlah uang beredar, dan tingkat pengangguran. Namun ada yang tidak biasa di 2020 ini, Moduers!

 

Pada 13 Juli 2020 indeks saham Amerika Serikat, yaitu S&P 500, telah kembali ke titik awal tahun 2020. Bentuk grafik sahamnya seperti huruf V (grafik dibawah), yang dikenal dengan istilah V-shape recovery.

 

Indeks Saham US S&P500

 

Padahal jika kita melihat situasi di Amerika Serikat, kasus harian Covid-19 malah meningkat secara eksponensial dan tingkat pengangguran juga masih tinggi, jauh dibandingkan masa sebelum pandemi.

 

Kasus Harian di Amerika SerikatAngka Pengangguran di Amerika Serikat

 

Jadi apa penyebab kenaikan bursa saham di Amerika Serikat?

 

Pembukaan kembali ekonomi (new normal) setelah lock down menciptakan euforia di pasar. Selain itu, faktor yang lebih berpengaruh adalah stimulus besar-besaran yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (the Fed). Hingga saat ini the Fed telah menggelontorkan dana sekitar US$ 3 Triliun ke pasar sehingga uang beredar di Amerika Serikat meningkat tajam. Dengan kondisi suku bunga deposito AS berkisar antara 0-0.25% dan imbal hasil obligasi 10 tahun di Amerika Serikat hanya di kisaran 0.6% tentunya investor akan lebih memilih berinvestasi di pasar saham dengan harapan akan pemulihan ekonomi ke depan.

 

Bagaimana dengan Indonesia?

 

Jumlah penderita positif Covid-19 di Indonesia masih mengalami kenaikan. Selain itu, beberapa perusahaan sudah melakukan PHK kepada karyawannya. Pemerintah berusaha mengendalikan situasi dengan memberikan berbagai stimulus, salah satunya adalah kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan jumlah Giro Wajib Minimum sebesar 200bps pada bulan April 2020. BI juga telah menurunkan suku bunga acuan ke level menjadi 4,25%. Hal-hal ini menjadi faktor yang menambah likuiditas pasar.

 

Walaupun IHSG belum kembali ke awal 2020 seperti indeks S&P500 di Amerika Serikat, pelonggaran PSBB juga menimbulkan euforia di pasar modal yang menyebabkan IHSG telah naik ke 5.072 pada 14 Juli 2020.

 

Index Saham Indonesia IHSG

 

Apa yang harus dilakukan Moduers sebagai investor reksa dana, terutama atas reksa dana saham? Mempertimbangkan valuasi IHSG dan membandingkan dengan level IHSG di awal tahun 2020, level saat ini adalah level yang sangat menarik untuk berinvestasi pada reksa dana saham karena adanya potensi kenaikan dalam jangka panjang. Namun sebelum melangkah, ingatlah hal-hal basic ini: miliki perencanaan yang baik untuk Investasi yaitu tentukan dulu tujuan dan jangka waktu investasi Moduers. Profil Risiko juga jadi panduan seberapa besar porsi kita sebaiknya berinvestasi di reksa dana saham. Jangan ikut-ikutan membeli reksa dana saham hanya karena FOMO (Fear of Missing Out).

 

Kalau Moduers ingin meningkatkan pengetahuan tentang investasi khususnya reksa dana, Moduers bisa mengakses Link ini :

 

 

#SalamModuit.

Share:

Manajer Investasi Jadi Tersangka, Bagaimana Nasib Reksa Dana?

Hi Moduers, 

 

Pemberitaan mengenai 13 Manajer Investasi yang menjadi tersangka dalam kasus Jiwasraya tentunya menarik perhatian kita sebagai Investor Reksa Dana. Mungkin ada diantara Moduers yang bertanya, “Bagaimana nasib investasi reksa dana ke depannya?” apalagi jika Moduers saat ini memiliki produk dari Manajer Investasi yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut.

 

Jangan panik dulu Moduers! Kita perlu melihat fakta-fakta sebelum bisa mengambil sikap. Yuk simak bahasan berikut ini:

 

  1. 13 vs 2,211 reksa dana dengan nominal dana kelolaan Rp. 12.16 T vs Rp. 474 T

 

Total investasi reksa dana Jiwasraya yang diklaim sebagai potensi kerugian negara menurut BPK, mencakup 13 reksa dana dengan total nominal Rp. 12.16 triliun. Bandingkan jumlah ini dengan total dana kelolaan seluruh reksa dana di Indonesia yang adalah Rp 487 triliun atas 2.211 reksa dana menurut catatan APRDI (Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia) per 24 Juni 2020. Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa 13 reksa dana tersebut kurang dari 1% dan total dana kelolaan Jiwasraya kurang dari 3% total dana kelolaan reksa dana yang ada di Indonesia.

 

 

  1. Reksa Dana Investor Tunggal vs Reksa Dana Publik

 

Semua reksa dana yang terkait dengan kasus ini adalah reksadana Investor Tunggal, artinya reksa dana ini bukanlah reksa dana yang dijual untuk masyarakat umum.

 

  1. Klarifikasi dari Otoritas dan Pihak Terkait

 

Beberapa Manajer Investasi yang terkait telah memberikan klarifikasi atas masalah ini. Kasus ini tidak mempengaruhi operasional perusahaan secara keseluruhan, sehingga produk-produk reksa dana lain yang tidak terkait, tetap dapat beroperasi secara normal. Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) dan juga Kejaksaan Agung menyatakan bahwa pengelolaan reksa dana yang terkait dengan kasus ini dikelola terpisah sehingga tidak serta merta mempengaruhi reksa dana yang lain.

 

Lalu, bagaimana Moduit menyikapi pemberitaan yang berkembang ini?

 

Terlepas dari situasi di atas, Moduit selalu mengedepankan strategi dan proses Manajemen Risiko yang baik. Salah satunya adalah dengan melakukan proses kurasi produk atas produk-produk yang ada di platform Moduit. Moduit berkomitmen untuk memastikan bahwa Mitra Manajer Investasi dan produk-produk yang tersedia di platform adalah yang terbaik untuk Moduers, sehingga dapat memberikan perasaan aman dan nyaman dalam berinvestasi.

 

Arti Kurasi sendiri biasanya berhubungan erat dengan kegiatan yang terkait dengan pengelolaan benda-benda ekshibisi di museum atau galeri. Proses kurasi produk reksa dana di platform Moduit dilakukan pada saat pemilihan awal terhadap rekanan Manajer Investasi dan produk-produknya dan secara berkala, yaitu pemantauan terhadap produk-produk yang tersedia di platform Moduit, dan juga terhadap rekanan Manajer Investasi yang ada.

 

Bagaimana cara Moduit melakukan kurasi?

 

Proses Kurasi ini dilakukan berdasarkan pengalaman Tim Moduit di bidang Produk Investasi Pasar Modal selama lebih dari 15 tahun. Dari pengalaman tersebut tercipta suatu parameter untuk melakukan kurasi ini, yang dikenal dengan Model PRIME (Wah, kayak Transformer ya!). Dalam kondisi pasar akhir-akhir ini, Moduit juga sudah melakukan langkah-langkah kurasi terhadap 73 produk reksa dana dari 16 Manajer Investasi yang ada di platform Moduit, termasuk salah satunya PT Pinnacle Persada Investama (Pinnacle) yang terkait dengan pemberitaan di atas.

 

Moduit sudah berkoordinasi secara intensif dengan Pihak Manajemen Pinnacle dan mendapatkan klarifikasi bahwa reksa dana yang dibahas dengan pemberitaan akhir-akhir ini adalah reksa dana Investor Tunggal, yang dikelola secara terpisah dengan reksa dana yang dijual kepada masyarakat umum, sehingga hal ini tidak mempengaruhi operasional 4 Produk Reksa Dana Pinnacle yang ada di platform Moduit. Selain itu, Moduit terus memantau perkembangan kasus ini serta aktif berkoordinasi dengan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) dan pihak-pihak terkait.

 

Siapa yang melakukan kurasi di Moduit?

 

Proses kurasi di Moduit dilakukan oleh tim ahli yang dinamakan tim Komite Investasi. Tim Komite Investasi Moduit sudah pernah melalui beberapa krisis keuangan, diantaranya pada Krisis Keuangan Global tahun 2008. Pengalaman berharga ini membuat Moduit sangat berhati-hati dalam melakukan kegiatan operasionalnya, termasuk juga ketika melakukan pemilihan Mitra Manajer Investasi dan juga produk-produk yang ada di platform Moduit.

 

Mari berkenalan dengan anggota Tim Komite Investasi Moduit:

 

Jeffry Lomanto - CEO/Founder Moduit

Jeffry di event Plug and Play Asia Pacific, Singapura

 

Jeffry Lomanto (CEO/Founder)

Sebelum mendirikan Moduit, Jeffry sudah lebih dari 15 tahun berkecimpung di Industri Wealth Management, baik di Perbankan, Asuransi, Asset Management dan Sekuritas.

 

Stefanus Adi Utomo - CMO Moduit

Stefanus Adi Utomo (CMO)

Memulai karir sebagai Auditor, Stefanus menpunyai pengalaman berkarir di bidang Wealth Management selama lebih dari 15 tahun. Stefanus juga bersertifikasi CFP (Certified Financial Planner) dan CPC (Certified Professional Coach).

 

Manuel Adhy Purwanto - Investment Connoisseur Moduit

 

Manuel Adhy Purwanto (Investment Connoisseur)

Sebelum bergabung di Moduit, 12 tahun karir Manuel dijalani pada Industri Wealth Management, terutama sebagai Investment Expert. Manuel juga bersertifikasi CFP (Certified Financial Planner).

 

Bagaimana tanggapan Moduers setelah membaca artikel di atas, lebih yakin dong berinvestasi reksa dana di Moduit. Kami selalu berusaha untuk membuat Moduers memiliki rasa aman dan nyaman dalam berinvestasi. Untuk Moduers yang ingin meningkatkan pengetahuan tentang investasi khususnya reksa dana, yuk mengakses Link ini :

 

 

#SalamModuit

Share:

Bangkrut?

Hi Moduers,

 

Belakangan kita sering mendengar istilah Bangkrut, misalnya dari luar negeri ada perusahaan penyewaan mobil di Amerika Serikat yang menyatakan dirinya bangkrut, sementara dari dalam negeri ada seorang selebritis yang ingin melamar menjadi supir dari selebritis lain, karena yang bersangkutan menyatakan dirinya bangkrut.

 

Apa sih bangkrut itu?

 

Menurut Investopedia, kebangkrutan adalah proses hukum yang melibatkan seseorang atau sebuah bisnis yang tidak dapat membayar utang mereka. Proses kebangkrutan dimulai dengan petisi yang diajukan oleh debitur aka peminjam utang (yang paling umum), atau atas nama kreditor aka pemberi pinjaman (yang kurang umum). Semua aset debitur diukur dan dievaluasi, dan aset tersebut dapat digunakan untuk membayar sebagian hutang yang belum dibayar.

Balik ke berita sang Selebritis yang tadi menyatakan bangkrut. Menurut Selebritis tersebut, hartanya tidak tersisa banyak, hanya deposito sebanyak Rp 3 miliar, tiga mobil (Alphard, BMW, Honda Civic) dan sebuah rumah. Bagaimana reaksi Moduers membaca berita tersebut? Apakah ini bisa dikatakan bangkrut? Ada yang berkomentar, “Hah, kondisi seperti itu klaim bangkrut?!“. Ada juga yang berkomentar, “Wah, pansos nih”. Ada juga yang bilang kondisinya gak nyambung alias disconnected. Ngomong-ngomong soal gak nyambung, dalam artikel berikut kita akan membahas tentang hal gak nyambung, seperti kenaikan harga saham pada minggu pertama Juni yang gak sesuai dengan kondisi ekonomi yang terjadi.

 

Terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut, apabila benar ada hal-hal yang dapat kita pelajari dari kasus tersebut, bisa jadi gaya hidup selebritis tersebut cukup memakan biaya tinggi. Untuk mengantisipasinya, kita perlu untuk melakukan perencanaan keuangan yang tepat, hal ini juga sering disebut dengan istilah money management.

 

Untuk melakukan perencanaan keuangan kita harus memastikan jangan sampai besar pasak daripada tiang. Arus kas masuk (penghasilan) harus lebih besar dari arus kas keluar (pengeluaran). Pengalokasian ini sangatlah penting, terutama agar kita bisa mencapai tujuan keuangan kita.  Nah, pasti ini juga menjadi tantangan Moduers. Bagaimana menahan gempuran hawa nafsu kita untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak kita butuhkan. (Kalo masih bingung bedain mana kebutuhan, mana keinginan baca lagi artikel ini ya)

 

Dalam melakukan alokasi penghasilan, banyak formula yang sudah diberikan oleh perencana keuangan terkemuka. Ada yang memberi rumus 40-30-20-10, dimana 40% untuk pengeluaran bulanan, 30% untuk cicilan/angsuran, 20% untuk tabungan/investasi, 10% untuk zakat/perpuluhan/amal. Ada juga yang mengajarkan formula 50-20-30, 60-20-20, dan yang lainnya. Yang pasti gak ada formasi 4-4-2 atau formasi 4-3-3 ya Moduers, soalnya itu formasi sepakbola.

 

Hal penting yang juga bisa membantu kita untuk memastikan pendapatan kita teralokasikan dengan tepat adalah dengan mengubah pola pikir kita. Kalau selama ini kita membelanjakan terlebih dahulu penghasilan kita kemudian sisanya baru ditabung/diinvestasikan, alias menyisakan untuk ditabung, maka marilah kita ubah menjadi menyisihkan terlebih dahulu, penghasilan kita untuk ditabung/diinvestasikan baru dibelanjakan. Tampaknya mudah ya Moduers, namun sebenarnya tidak semudah seperti mengatakannya. Itu semua akan tergantung pada kedisiplinan kita.

 

Salah satu yang dapat membantu kita berdisiplin adalah dengan melakukan investasi secara rutin atau yang kita kenal dengan dollar cost averaging.

 

Pertanyaan berikutnya, investasi ke produk apa? Moduit mempunyai fitur Moduit Navigator yang dapat  membantu memberikan arahan produk apa saja yang sesuai dengan profil Moduers, fitur ini juga membantu mengingatkan Moduers untuk disiplin berinvestasi dan membantu mengingatkan apabila sudah waktunya untuk review portfolio Moduers.

 

Ingat ya Moduers, kebangkrutan itu sesuatu yang sangat bisa kita hindari, tergantung kita mau atau tidak, dan bagaimana mengatur kedisiplinan kita.

 

Kalau Moduers ingin meningkatkan pengetahuan tentang investasi khususnya reksa dana, Moduers bisa mengakses Link ini :

 

#SalamModuit

Satrio Tower, 6th Floor
Jl. Prof. Dr. Satrio Blok C4 No. 5
Jakarta Selatan 12950, Indonesia

Petunjuk Arah

Jam Operasional
Hari bursa pukul 08.30 – 17.00 WIB

  • Tel.+6221 5020 2900
  • Fax.+6221 5020 2922
Chat Dengan Kami
Follow
Available at:
Tersedia di: