Weekly Perspective – Principal Asset Management

Did You Know?

US Treasury 30 Tahun Menyentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah!

Tingkat imbal hasil 30 tahun jatuh sampai level terendah sepanjang sejarah di 1,9% sementara 10 tahun telah turun selama lima minggu berturut-turut. Tampaknya rally pada bond yang mengindikasikan fly to safety phenomena belum berhenti.

Health check: Pekan ini pasar akan dibanjiri dengan data: PMI, MBA Mortgage Application, Jobless Claims, dan NFP. Semua orang juga akan menunggu pidato Jerome Powell akhir pekan ini sebelum minggu tenang menjelang FOMC.

Things You Can’t Ignore This week

Global

  • September 1, 2019: The D-Day! Menjalankan rencananya, per 1 September 2019 AS memberlakukan tarif terhadap $300 miliar impor dari Tiongkok, di samping 25% dari $250 miliar yang saat ini sedang berlaku. Sebagai balasan, di tanggal yang sama Tiongkok efektif menerapkan 5% levy terhadap $75 miliar impor dari Negeri Paman Sam.
  • No grace period at all! Bea cukai AS setempat menyatakan bahwa tarif ini berlaku jam 12 malam dan tidak ada grace period bahkan bagi kargo yang berlayar dari Tiongkok sebelum tanggal tersebut. Sebagian barang impor tersebut adalah barang-barang yang berkaitan dengan koneksi internet.
  • The Talk Still Goes On. Meskipun saling melakukan aksi balas-membalas, AS dan Tiongkok masih akan melanjutkan perundingan perdagangan bulan in.

Domestic

  • Sky Rocketed Nickel! Harga nikel melonjak ke level tertinggi selama 5 tahun pada Jumat lalu, berakhir 8,8% lebih tinggi pada USD 17.900 per ton, kenaikan satu hari terbesar sejak 2009. Hal ini dikarenakan larangan ekspor bijih dari Indonesia efektif Desember 2019, lebih cepat dari rencana awal di tahun 2022 yang menyebabkan kekhawatiran menyusutnya pasokan. Diperkirakan sekitar 8-9% pasokan global yang berasal dari Indonesia akan terkena dampak.
  • Inflasi Agustus di Bawah Ekspektasi. Angka inflasi Agustus di level 0,12% MoM / 3,49% YoY, di bawah ekspektasi 0,31% MoM. Pada akhir 2019, inflasi diperkirakan di bawah 3,5% disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di bawah potensi, ekspektasi inflasi yang moderat, harga komoditas rendah, dan koordinasi yang cukup baik antara BI dan pemerintah.

The Next Big News Are…

  • Fed Rate Cut? Konsensus masih memperkirakan pemotongan suku bunga The Fed hingga akhir tahun masih akan dilakukan 2 kali lagi, yaitu pada pertemuan tanggal 17-18 September ini serta sekali lagi di bulan Oktober atau Desember tahun ini. Consumer sentiment di US yang baru diumumkan hari ini masih di bawah target 2% sehingga mendukung estimasi penurunan suku bunga. Saat ini pasar modal, baik saham maupun obligasi, tampaknya telah memperhitungkan penurunan suku bunga ini.
  • Komoditi Masih akan Marak Diperbincangkan. Menyusul meningkatnya harga emas dan nikel, karena diperkirakan adanya disrupsi pada inventory, diperkirakan spekulasi juga akan terjadi pada komoditas lain.
  • DPR Tolak Usulan Kenaikan Premium BPJS. What’s Next? Setelah Komisi IX dan Komisi XI menolak usulan kenaikan premi BPJS Kesehatan yang diusulkan pemerintah, maka usulan tersebut akan diteruskan kepada presiden yang akan menoalk atau menyetujui usulan tersebut. Defisit BPJS Kesehatan yang makin tahun makin besar, memerlukan solusi secepatnya.

Implication to Principal’s Strategy

  • Kami melihat pergeakan Indonesia USD Bonds masih sering dengan UST dengan risk premium stabil di 1,3%-1,5% untuk tenor 10 tahun dalam 2 bulan terakhir. Posisi relatif netral terhadap benchmark menjadi pilihan saat ini di tengah dinamisnya perkembangan faktor eksternal.
  • Partisipasi aktif BI. Likuiditas perbankan masih cukup ketat, walaupun demikian kami melihat BI cukup aktif menjaga pergerakan mata uang Rupiah di kisaran Rp 14.000- 14.500. Sementara itu inflasi terkendali di kisaran 3% – 3,5%. Dari sisi supply, pemerintah telah memenuhi 70% target penerbitan obligasinya selama tahun ini dan diperkirakan tidak akan tercipta kondisi over supply di pasar.
  • Pada portofolio saham, tema perdagangan sangat mengikuti news flow yang ada dari hari ke hari sehingga pergerakan indeks menjadi sangat volatile. Minggu ini kami perkirakan komoditi akan mendominasi pergerakan pasar menyusul harga emas dan nikel yang terlebih dahulu telah meroket. Portofolio juga melakukan selective trading untuk mencoba memaksimalkan imbal hasil.

Trading Corner

Equity Market

  • Waiting for Further Catalyst. IHSG rebound +1,16% WoW minggu lalu dimana market masih menunggu catalyst dari arahan kebijakan moneter the Fed. Kepemilikan asing turun sebesar Rp 1,5 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan signifikan termasuk Industri Dasar (+5,05%), Perdagangan & Jasa (+1,68%) dan Aneka Industri (+1,37%). Sedangkan sektor yang mengalami penurunan adalah Agrikultur (-0,61%) dan Barang Konsumsi (-0,17%).

Bonds Market

  • Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Ditutup di 7,33%. SUN 10 tahun mengalami kenaikan yield sebesar 9bps ke 7,33% sepanjang minggu lalu. Sementara itu, Yield Indo USD 9 tahun turun 17bps ke level 2,87% sejalan dengan penurunan yield US Treasury 4bps ke level 1,5%.
  • Foreign Investor: Keep Buying. Asing melanjutkan inflow sebesar Rp 4,1 triliun pada obligasi pemerintah Indonesia minggu lalu. Hal ini membawa kepemilkan asing naik ke level 38,6%. BINDO Index melemah 0,38% week on week.

 

Disusun oleh: PT Principal Asset Management

Coffee Time – Majoris Asset Management

China menetapkan tarif balasan sebesar 5 dan 10% untuk produk otomotif AS

  • Tensi perang dagang kembali memanas setelah China mengumumkan bahwa mereka akan mengenakan tarif impor barang dari Amerika Serikat (AS) senilai USD 75 miliar sebagai respon atas ancaman tambahan tarif impor atas produk Tiongkok yang disiapkan Donald Trump di bulan September 2019. Rinciannya, tarif tambahan sebesar 5% akan dikenakan untuk produk kedelai AS dan impor minyak mentah mulai bulan September 2019. Sementara bea masuk sebesar 10% akan dibebankan kepada komponen mobil dari AS yang akan dimulai pada 15 Desember 2019. Perang dagang antara AS dan China yang belum berakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global yang sudah melambat selama setahun terakhir.

Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5.50%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5.50 persen. Sebelumnya pada bulan Juli BI juga menurunkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5.75 persen. Strategi moneter BI berfokus menjaga likuiditas di pasar keuangan dan meningkatkan efisiensi pasar uang sehingga bisa memperkuat kebijakan moneter yang akomodatif. Beberapa faktor global yang mempengaruhi keputusan BI menurunkan suku bunga diantaranya pertumbuhan ekonomi AS yang melambat akibat turunnya ekspor serta melambatnya pertumbuhan ekonomi Uni Eropa, Jepang, China dan India.

Sentimen negatif trade war AS dan China mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah

  • Selama sepekan terakhir periode (19 – 23 Agustus 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.49% setelah mengalami kenaikan pada dua minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,255.59. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global diantaranya isu perang dagang dimana China mengenakan tarif balasan berupa tambahan impor untuk barang AS senilai USD 75 milyar sebagai respon terhadap AS yang sebelumnya kembali mengenakan tarif tambahan untuk produk China sebesar USD 300 milyar. Selanjutnya pasar juga wait and see terhadap rencana The Fed apakah akan kembali menurunkan Fed Fund Rate pada FOMC Meeting di bulan September 2019 mengantisipasi perlambatan ekonomi global akibat perang dagang yang masih berlanjut hingga saat ini. Pergerakan nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir juga melemah tipis di level Rp 14,270 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,240 /USD. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp -1.60 triliun dan Rp -7.20 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan diantaranya Infrastructure +0.78% diikuti oleh Miscellaneous Industry +0.53%, Basic Industry +0.40% dan Manufacturing +0.04%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Mining -1.34% diikuti oleh Agriculture              -1.18%,  Finance -1.14% dan Trade Services –0.98%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan -0.30% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh sentimen perang dagang AS dan China. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.30% menjadi 7.38%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 23 Agustus 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp +4.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +115.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,008.20 triliun.

Strategi Reksa Dana Majoris

  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 92% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio.
  • Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Weekly Perspective – Principal Asset Management

Things You Can’t Ignore This Week

Global

Tit for Tat Reaction: Getting Hotter!
Minggu lalu, China memutuskan untuk menerapkan tarif sebesar 510% terhadap USD$75 miliar impor barang konsumen dari USA secara bertahap pada tanggal 1 September 2019 dan 15 Desember 2019. China juga menerapkan 25% tarif terhadap impor kendaran dari USA. Sebagai retaliasi, USA memutuskan untuk menaikan tarif USD$250 miliar impor dari China menadi 30% dari 25% dan juga menaikan tarif USD$300 miliar yang sebelumnya 10% menjadi 15%.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell memastikan untuk menjaga ekspansi ekonomi USA tetap berjalan dan mengakui bahwa perang dagang menjadi salah satu faktor penyebab perlambatang pertumbuhan global. Powell juga menyatakan bahwa kebijakan moneter tidak bisa menjadi alat untuk perdagangan internasional. Pasar menilai pernyataan Fed ini mengindikasikan ke depan Fed tidak akan terlalu agresif untuk menurunkan suku bunga.

Domestic

Bank Indonesia Kejutkan Pasar Dengan Pangkas Suku Bunga menjadi 5,5%, diluar ekspektasi ekonom yang memprediksi unchanged. BI juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4,75% dan lending facility 6,25%. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan agar dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter yang ekspansif dan akomodatif.
Sektor perbankan catatkan total pertumbuhan pinjaman sebesar +9,9% YoY (+3.3% YTD) dimana sektor infrastruktur menjadi salah satu penopang, tumbuh sebsar +12,3% YoY. Namun, total deposito tumbuh hanya +7,4% YoY (+3% YTD). Kualitas aset masih cukup baik dengan rasio NPL turun 11bps MoM menjadi 2,5% dan ratio likuiditas (LDR) juga turun 12bps MoM menjadi 94,3%.

 

The Next Big News Are…

Rebalancing China masuk dalam perhitungan MSCI akan kita lihat minggu ini. Apakah Fund Manager telah melakukan penyesuaian jauh-jauh hari sebelumnya atau menunggu di hari H? Peristiwa ini akan menyebabkan berkurangnya porsi negara-negara lain secara proporsional hingga porsi akhir China akan mencapai 2,46% pada MSCI Emerging Market. Kita memperkirakan akan terjadi volatilitas hingga menjelang efektivitas indeks tesebut pada tanggal 27 Agustus.
Sector Hunting! Menyusul rencana akan dipindahkannya ibu kota ke daerah Kalimantan Timur, banyak pihak mulai berspekulasi mengenai sektor atau perusahaan yang akan diuntungkan oleh aktivitas yang diperkirakan bisa menelan anggaran hingga Rp500 triliun ini. Sektor konstruksi, properti,dan semen tampaknya menjadi favorit perbincangan.

 

Implication To Our Strategy

• Menjelang akhir bulan Agustus, menunggu rebalancing MSCI, posisi defensive portfolio masih dipertahankan. Pasar saham masih diperkirakan akan sideways dengan aktivitas minimal. Aset alokasi masih dipertahankan berimbang pada kas, saham, dan obligasi yang kecenderungan beberapa saat terakhir cukup berat pada obligasi.
• Menyusul dipangkasnya suku bunga oleh BI minggu lalu, mengkonfirmasi pilihan saham portfolio yang lebih memilih sektor-sektor yang sensitif terhadap penurunan suku bunga. Namun demikian hampir semua saham perbankan, beberapa saham sektor konsumsi, sektor properti, malah mengalami penurunan seiring penurunan indeks minggu lalu. Namun kami masih memiliki outlook positif terhadap sektor-sektor tersebut dalam jangka waktu pendek-menengah di depan.

 

Trading Corner

Equity Market

Waiting on further catalyst. IHSG tutup di level 6.256 turun -0,49% WoW minggu lalu dimana market menunggu catalyst dari arahan kebijakan moneter the Fed. Kepemilikan asing turun sebesar Rp1,5tr (USD109mn). Sektor yang mengalami kenaikan signifikan termasuk Aneka Industri +0,53%, Industri Dasar +0,40% dan Infra +0,78% sedangkan yang mengalami penurunan yaitu Pertambangan -1,34%, Agrikultur -1,18% dan Keuangan -1,14%.

Bonds Market

UST yield tutup di 1,54%. SUN 10 tahun mengalami penurunan yield sebesar 18bps ke 7,24% sepanjang minggu lalu. Sementara itu, Yield Indo USD 9 tahun naik 5bps ke level 3,04%, sedangkan yield US Treasury10 tahun turun sebesar 2bps ke 1,54%.
Further Foreign Ownership Hike. Asing mencatatkan inflow sebesar Rp3,2bio pada obligasi pemerintah minggu lalu, hal ini membawa kepemilikan asing naik ke level 38,5%. BINDO naik 0,78% week on week.

 

Disusun oleh: PT. Principal Asset Management

Moduit Market Flash

Kekhawatiran akan resesi meningkat dikarenakan fenomena inversi yield obligasi. Kecemasan investor dilandasi data historis yang menunjukkan bahwa inversi yield obligasi tersebut diikuti oleh resesi, termasuk the Great Recession yang terjadi pada tahun 2007 lalu.

Sumber: Bloomberg

Pada hari Rabu pagi waktu AS, yield US Treasury bertenor 10 tahun menurun sebanyak 1.9 basis poin di bawah yield obligasi bertenor 2 tahun, yang dilihat sebagai penanda akan adanya resesi ekonomi AS dalam periode 18 bulan mendatang. Ekspektasi akan terjadinya resesi tersebut, ditambah dengan memburuknya perkembangan kesepakatan dagang antara AS & Tiongkok selama beberapa minggu terakhir, diperbesar dengan lemahnya data ekonomi Jerman & China.

Terjadinya inversi tersebut memengaruhi kinerja bursa Asia dan IHSG.

Opening Price1 Day %
JCI6.192,46-0,71
NIKKEI20.324,25-1,21
HANG SENG24.945,740,28
KOSPI1.946,180,65
S&P/ASX 2006.595,90-2,28
CSI 3003.618,01-0,58
FTSE/ST3.095,85-1,21

Inversi yield obligasi menandakan resesi yang akan datang. Mitos, atau fakta?

Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang lebih berisiko ketimbang tenor pendek.
Meskipun inversi tidak melulu diikuti dengan resesi, sejarah menunjukkan bahwa inversi yield obligasi tenor 2 dan 10 tahun merupakan sinyal pertanda datangnya resesi di AS selama beberapa dekade terakhir. Kali terakhir inversi pada yield obligasi terjadi adalah pada akhir tahun 2005. Dua tahun setelahnya, AS mengalami resesi yang dipicu oleh krisis subprime mortgage.

Data yield obligasi bisa dianalogikan sebagai ekspektasi kinerja pasar dan ekonomi di masa depan. Namun, perlu diingat bahwa fenomena inversi bukan merupakan satu-satunya sinyal penanda datangnya resesi.

 

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh investor ditengah fenomena tersebut?

Ingat bahwa kepanikan tidak pernah berbuah baik. Masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan selain inversi tersebut sebelum menarik kesimpulan akan terjadinya resesi, diantaranya:

  • Data tingkat pengangguran AS berada di titik terendah secara historis
  • Indeks S&P 500 telah mengalami kenaikan sebesar 13,31% YTD
  • Keputusan the Fed yang akan datang mengenai kebijakan tingkat suku bunga
  • Faktor makroekonomi dalam negeri

Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk mengubah alokasi portofoliomu. Namun, ada baiknya memeriksa kembali kesesuaian alokasi portofoliomu untuk memenuhi tujuan finansial serta menghadapi kondisi ekonomi yang akan datang.

Prinsip dasar dari pengelolaan investasi adalah: sesuaikan alokasi investasimu dengan tujuan finansialmu. Jika kamu memiliki rencana pengeluaran di waktu dekat, alokasikan sebagian portofoliomu di produk investasi jangka pendek seperti reksa dana pasar uang. Jika pengeluaranmu baru akan dilakukan jauh di masa depan, kamu dapat mengalokasikan portofoliomu di produk investasi jangka panjang seperti reksa dana saham dan secukupnya di pasar uang sebagai pengaman jika terjadi penurunan pasar.

Investasi Reksa Dana – Moduit bersama Manulife Investment Management

Ternyata investasi itu tidak perlu mahal-mahal lho, cukup dengan Rp.10.000,- kita sudah bisa mulai berinvestasi di reksa dana.

Bersama Manulife Investment Management, kali ini Moduit akan mengulas sekilas tentang apa dan bagaimana cara investasi reksa dana. Bagi yang belum tahu dan ingin tahu apa itu reksa dana, yuk simak videonya dulu.

Moduit merupakan platform investasi reksa dana online yang mudah digunakan serta telah berizin dan diawasi oleh OJK

Bagikan

Strategi Investasi Semester 2 Tahun 2019 – Moduit bersama Manulife Investment Management

Moduit melakukan interview kepada Investment Specialist dari Manulife Investment Management untuk membahas kondisi market di semester dua ini dan strategi investasi yang digunakan.

Moduit merupakan platform investasi reksa dana online yang mudah digunakan serta telah berizin dan diawasi oleh OJK

Bagikan

Moduit Market Flash

Sejak pekan lalu pasar mulai runtuh menanggapi ancaman Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan 10% ke hampir seluruh ekspor Tiongkok ke AS.

DJIA-2,9%
NASDAQ-2,9%
S&P500-2,9%

Tiongkok dinilai belum memenuhi janjinya untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS. Tiongkok selalu tidak senang menerima ancaman di tengah proses negosiasi. Pada hari Senin, Tiongkok membalas dengan membiarkan Yuan terdepresiasi melebihi 7, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang dan harga aset.

Nilai tukar Yuan terhadap Dolar AS; Sumber: Bloomberg (6 Agustus 2019)

Hal ini akan memberi The Fed lebih banyak alasan untuk lebih memudahkan kebijakan suku bunganya pada pertemuan dan briefing mendatang. Sejak Juni, pasar telah mengantisipasi kemungkinan terburuk akan datang. Namun, hal tersebut dikaburkan oleh gencatan senjata sementara AS-Cina di Osaka G-20 dan euforia harapan pemotongan suku bunga the Fed pada Juli dan seterusnya. Uji realitas: the Fed memangkas suku bunga pada bulan Juli, namun dengan sikap ambigu mengenai pandangan suku bunga ke depannya, sehingga menciptakan ketidakpastian ditengah investor yang telah meminta pelonggaran lebih lanjut.

Skenario Dasar: Trump hanya mengancam Tiongkok untuk mengamankan kesepakatan sesegera mungkin untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi kembali di AS. Pembelian tambahan dari Tiongkok untuk produk pertanian AS akan membantu meningkatkan ekonomi AS. Sementara di sisi lain akan memaksa the Fed untuk memangkas suku bunga untuk mengimbangi pelemahan Yuan, yang berdampingan akan memudahkan likuiditas domestik AS dan mempertahankan momentum pertumbuhan hampir satu dekade di AS.

Skenario Kasus Lebih Buruk: Tiongkok benar-benar keberatan dengan ketentuan-ketentuan AS atas kesepakatan perdagangan, AS bermain keras untuk menekan ekonomi Tiongkok (sehingga langkahnya akan lebih lambat dan AS dapat mengulur waktu untuk mempertahankan posisinya sebagai negara adidaya di dunia). Perang dagang meledak dan perlambatan ekonomi global (jika bukan resesi) tidak dapat dihindari.

 

Disusun oleh Batavia Prosperindo Asset Management untuk Moduit

Coffee Time – Majoris Asset Management

The Fed beri sinyal kuat pangkas suku bunga akhir Juli 2019

  • Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell memberikan sinyal lebih kuat dalam pidato di depan kongres AS terkait kemungkinan penurunan suku bunga lebih besar pada Federal Open Meeting Commitee ( FOMC) yang berlangsung tanggal 31 Juli 2019. Powell mengatakan terjadinya perang dagang antara AS dan China yang masih berlanjut hingga saat ini mendorong terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS kedepannya. Pelaku pasar melihat ini sebagai sinyal bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan di akhir Juli 2019 sebesar 25-50 Bps dan kebijakan ini akan memberikan dampak positif pada emerging market termasuk Indonesia.

Statement Dovish dari The Fed memberikan dampak positif pada nilai tukar Rupiah

  • Selama sepekan terakhir periode (08 – 12 Juli 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup flat sebesar 0% setelah mengalami kenaikan selama satu bulan berturut-turut ditutup di level 6,373.47. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global dan domestik diantaranya ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga di FOMC Meeting Juli 2019 sebesar 25-50 bps sehingga membuat nilai tukar Rupiah kembali menguat terhadap USD dari level Rp 14,105 /USD ke level Rp 14,010 /USD. Sedangkan dari sisi domestik ekspektasi terhadap neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 akan kembali mengalami surplus seperti di bulan Mei 2019 dan meningkatnya cadangan devisa bulan Juni 2019 dibandingkan bulan sebelumnya akan menjadi katalis positif kedepannya. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 2.20 triliun dan Rp +5.50 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Miscellaneous Industry +3.95% diikuti oleh Property +1.98%, Finance +1.47% dan Trade Services +1.29%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Consumer Goods -3.14% diikuti oleh Mining -2.40%, Infrastructure -1.47% dan Manufacturing –1.32%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan +0.50% selama satu bulan berturut-turut dari akhir bulan Mei 2019 pasca upgrade rating dari lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia satu notch dari BBB- (investment grade) menjadi BBB serta adanya ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan fed fund rate sebesar 25-50 Bps pada FOMC Meeting akhir Juli 2019. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.22% menjadi 7.15%. Pergerakan pasar obligasi di bulan Juli 2019 masih didorong oleh faktor global seperti perundingan lanjutan terkait perang dagang antara Amerika dan China yang berlangsung di sepanjang bulan Juli 2019 serta monetary policy yang lebih akomodatif dari The Fed untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS. Adapun dari sisi domestik perbaikan current account deficit akan menjadi perhatian dari investor asing maupun lokal kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 11 Juli 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp +12.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +107.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1000.20 triliun.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 mengalami surplus USD +200 juta (data konsensus: surplus USD +600 juta) melanjutkan surplus yang terjadi di Mei 2019 sebesar USD +210 juta. Nilai ekspor Juni 2019 sebesar USD +11.78 milyar mengalami penurunan -8.98% sedangkan nilai impor USD +11.58 milyar mengalami kenaikan +2.80% dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Moduit, Aplikasi Investasi Reksadana Online Bagi yang Mau Duit ;)

Satu lagi nih aplikasi investasi reksadana online yang bisa manteman pake. Namanya Moduit! Pas banget kan buat yang mau duit hasil investasi buat di masa depan. 😀

~tsurhat dulu yes~ Gue dah berniat nulis tentang moduit ini dari dua minggu lalu. Apa daya, akhir bulan Maret bikin gue gelagepan gak sempat pegang blog. Eh di awal April mau nulis blognya bermasalah. Huhuhu. Jadinya baru bisa banget publish ini tulisan sekarang.

Nah, selain ketiga opsi apikasi di postingan di atas, ada satu lagi. Namanya MODUIT.

Moduit, Aplikasi Investasi Reksadana Online Bagi yang Mau Duit

Aplikasi Investasi Reksadana Online Moduit, Buat yang Mau Duit Di Masa Depan

Peluncuran Moduit

Jadi, tanggal 22 Maret 2019, aplikasi Moduit ini resmi diluncurkan di
Jakarta. Dan gue cukup beruntung buat bisa termasuk orang-orang awal yang tahu
tentang aplikasi ini.

Digawangi oleh Jefry Lomanto yang sudah berkecimpung lama di dunia investasi,
Moduit dihadirkan untuk dapat menjadi salah satu platform aplikasi investasi
reksadana online yang akhir-akhir ini sudah mulai ramai oleh pemain.

Peluncuran Moduit – platform aplikasi investasi Online ketika sesi tanya jawab antara Sophie, Jlo dan Charles

Jujur aja, awalnya gue sempet ragu dan kepikiran:

“Di antara sekian banyak aplikasi investasi reksadana online dan juga
persaingan dengan bank dan manajer investasi yang jualan langsung, bakalan bisa
sebagus apa sih Moduit?”

Dan ternyata gue dibikin lumayan kagum sama apa yang ditawarkan sama Moduit.

Registrasi Full Online

Ya karena pas diundang datang ke acaranya, gue gak butuh-butuh banget
tambahan aplikasi investasi reksadana online, gue baru install aplikasinya ya
pas datang di lokasi. Itung-itung mau sekalian nanya kalo ada masalah
pendaftaran.

Rupanya, setelah download aplikasi, Gue langsung aja daftar. Sederhana banget
dan gak ribet. Sampe sini sih masih seperti aplikasi investasi reksadana online
pada umumnya.

Setelah proses pendaftaran, gue langsung ngisi kuisioner profil risiko yang
standar.

Begitu selesai ngisi profil risiko, kita bakalan dikasih tahu apakah kita
tipe yang konservatif, moderat ato agresif.

Pengisian Data

Itu semua di atas buat proses pendaftaran di Moduitnya gengs. Sederhana
banget kan? Kalo sudah selesaikan sampe risk profilingnya, Selamat! Kalian sudah
punya akun Moduit!

Trus udah bisa langsung transaksi kah? Eits! Kagak lah!

Seperti di semua aplikasi investasi reksadana online lainnya, gue kudu isi data-data detail lengkap-kap-kap-kap dulu sebelum bisa transaksi.

Apa aja yang kudu dilengkapi? Ya seperti gambar di samping. Yang pasti, siapkan KTP dan NPWP kalian.

Kalo NPWP sih bisa langsung upload image aja. Sementara kalo KTP kalian harus ambil foto selfie. Ini merupakan salah satu sistem verifikasi kalo kalian emang bener yang punya KTPnya.

Satu yang gue catat waktu gue ngisi kelengkapan informasi di Moduit ini.

Kayak contohnya foto KTP, pan gue upload ya. Eh si aplikasinya langsung berhasil scan informasi yang ada di KTP loh dan otomatis diisin ke field-field aplikasinya. Gue ga harus ribet ngisi di aplikasinya.

Kalo kalian lihat di gambar, ada yang ijo dan ada yang kuning ya. Nah, kalian harus bikin semua titik notifikasinya ijo sebelum bisa melakukan transaksi.

Setelah semuanya ijo?

Kalian bisa melakukan transaksi! Selamat!

Pengalaman Menggunakan Moduit untuk Investasi Reksadana

Ini video pas gue pake Moduit buat mulai investasi:

Keamanan & Kenyamanan

Satu hal yang jadi pertanyaan banyak orang yang hadir adalah soal keamanan.
Dari sisi sistemnya, Charles sebagai CTO Moduit meyakinkan kalo keamanan Moduit
tidak perlu diragukan.

Terlebih Moduit tidak berperan dalam menyimpan dana nasabah dan seluruh data
transaksi sudah terhubung langsung secara online dengan sistem MI sebagai
penjual, KPEI dan KSEI sebagai lembaga pengadministrasian transaksi dan juga
bank kustodian.

JLo kemudian juga menambahkan kalo bisnis modelnya Moduit juga memberikan
jaminan keamanan untuk nasabah. Moduit sebagai aplikasi investasi reksadana
online sama sekali gak menyimpan dana nasabah.

Kalo ada nasabah mau beli reksadana lewat Moduit, nasabah akan melakukan
transfer dana langsung ke rekening bank kustodian reksadana terkait.

Jadi, kekhawatiran dana akan dilarikan oleh Moduit bisa dihapuskan. Karena
sekali lagi, Moduit sama sekali gak pegang duitnya nasabah.

Kemudahan Merencanakan Keuangan

Begitu mulai menggunakan aplikasi, ada 4 pilihan tujuan perencanaan keuangan
yang diberikan. Liburan, Pernikahan, Mobil dan Rumah Idaman.

Kalo kita mau merencanakan yang lainnya, tinggal bikin aja goal kita sendiri.
Pas gue pake, gue bikin untuk merencanakan dana pensiun.

Lewat aplikasi bisa kita tentukan investasi awalnya berapa, return yang
diharapkan dan dana hasil investasi di akhirnya berapa. Voila! Aplikasi bakalan
kasih tahu berapa sih investasi bulanan yang harus dibelikan reksadana lewat
aplikasinya.

Gosah lagi pusing mikirin rumus excelnya. Apalagi mahal-mahal bayar perencana
keuangan profesional. Semua langsung ada di aplikasi investasi reksadana online
ini.

Pilihan Reksadana Berdasarkan Kinerja

Setelah menentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai, aplikasi Moduit akan
memberikan saran pembagian portofolio investasi. Jadi, saran yang diberikan oleh
aplikasi bukanlah produk mana yang harus dibeli, tapi lebih jenis reksadana apa
yang pas dibeli buat mencapai tujuan investasi ke depannya.

Tapi manteman ga perlu kuatir. Sama seperti beberapa aplikasi investasi
reksadana online lainnya, Moduit sudah menyajikan reksadana yang tersedia untuk
dibeli berdasarkan kinerja historisnya.

Kalo gue sih langsung aja beli reksadana yang punya kinerja historis
tertinggi kan. Apa lagi coba? 😀

Monitoring (Harian) Langsung di Layar Smartphone

Salah satu kendala investasi di reksadana adalah monitoringnya. Kadang suka
bingung gimana itu kinerja investasi kita kan.

Lewat Moduit, kinerja portfolio kita bisa langsung diawasi pas kita buka
aplikasinya.

Di halaman depan aplikasinya langsung kelihatan kan grafik perkembangan
investasi kita. Mau naik, turun, atau stagnan bisa langsung diawasin sendiri.

Ini bisa jadi keuntungan tapi bisa jadi kerugian juga sih. Buat yang suka
deg-degan ngawasin kinerja investasi, ditampilkan dan dijembrengin kayak gini
bisa bikin konstan deg-degan. Tapi, bisa jadi sarana belajar yang bagus juga
buat mengasah kepekaan investasi. Ihik.

Kesimpulan: Moduit, Aplikasi Investasi Reksadana Online yang Mudah Digunakan

Jadi, pake apa gak nih Moduit?

Kalo gue sih akan gue pake. Kenapa? Karena gampang dan sederhana banget
pemakaiannya.

Satu faktor utama yang bikin gue jatuh cinta sama aplikasi ini adalah
kesederhanaan user interfacenya. Sekali lihat langsung ngerti.

Jadi, kalo aplikasi investasi reksadana online kalian masih ribet, cobain
pake Moduit deh. Investasi reksadana gak pake ribet. 😀

 

Sumber: danirachmat.com

 

Bagikan

Investasi Reksa Dana Syariah Mulai dari Rp. 10.000,- saja

Bagi Anda yang menerapkan Prinsip Syariah dalam keseharian, investasi di Reksa Dana Syariah merupakan pilihan yang tepat untuk mulai berinvestasi. Selain mendapatkan imbal hasil, Reksa Dana Syariah juga mengikuti Kaidah Syariah sehingga seluruh prosesnya memenuhi syarat halal.

Bagi yang masih bingung perbedaan antara Reksa Dana Konvensional dan Reksa Dana Syariah, berikut adalah fakta-fakta mengenai Reksa Dana Syariah:

  1. Fasilitas Cleansing
    Cleansing adalah proses pembersihan yang dilakukan secara periodik atas Reksa Dana Syariah yang secara tidak sengaja mendapatkan penghasilan dalam bentuk yang melanggar kaidah Syariah. Contoh: bunga dari dana yang mengendap di Bank Kustodian akan dikumpulkan dan disumbangkan untuk kegiatan amal.
  2. Diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS)
    Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah badan independen yang mengawasi pemenuhan prinsip Syariah pada suatu reksa dana yaitu investasi pada saham dan obligasi yang ada di dalam Daftar Efek Syariah (DES) dan proses cleansing. Daftar Efek Syariah dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) setiap 6 bulan sekali, berisi saham dan obligasi yang sesuai dengan prinsip Syariah.
  3. Risiko Relatif Lebih Kecil
    Reksa dana Syariah memiliki resiko lebih kecil karena lebih fokus pada sektor properti, infrastruktur, komoditas, manufaktur dan jasa perdagangan dengan risiko gagal bayar yang lebih kecil karena menghindari perusahaan yang rasio hutangnya besar.
  4. Potensi yang Besar
    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Reksa dana Syariah tercatat mengalami pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat dalam empat tahun terakhir. Pada Januari 2019, total dana kelolaan reksa dana Syariah telah mencapai Rp 37 Trilyun* atau naik lebih dari 200% dari tahun 2015 yang hanya Rp11 Trilyun*. Selain itu jumlah produk yang ditawarkan juga bertumbuh pesat, dari 93 produk di tahun 2015 menjadi 256 produk di tahun 2019.

Sumber: OJK – Statistik Reksa Dana Syariah 2019

Mungkin akan timbul pertanyaan, gimana sih caranya kalau mau investasi di reksa dana Syariah? Jawabannya simpel kok, cuma bikin akun lewat website atau aplikasi Moduit, Anda sudah bisa mendapatkan akses untuk melakukan investasi pada 10 pilihan Reksa Dana Syariah yang ada berikut ini:

Jenis ProdukNama Produk
Pasar UangManulife Dana Kas Syariah
Pasar UangPinnacle Sharia Money Market Fund
Pendapatan TetapMajoris Sukuk Negara Indonesia
Pendapatan TetapManulife Syariah Sukuk Indonesia
CampuranTrim Syariah Berimbang
SahamBatavia Dana Saham Syariah
SahamCipta Syariah Equity
SahamDanareksa Indeks Syariah
SahamManulife Syariah Sektoral Amanah
SahamTRIM Syariah Saham

Oh ya, Reksa Dana Syariah ini terbuka untuk semua kalangan, tidak terbatas hanya untuk umat Muslim saja. Jangan tunda lagi proses investasimu, yuk dimulai dari sekarang!

Cek Produk

 

Bagikan

Satrio Tower, 6th Floor
Jl. Prof. Dr. Satrio Blok C4 No. 5
Jakarta Selatan 12950, Indonesia

Petunjuk Arah

Jam Operasional
Hari bursa pukul 08.30 – 17.00 WIB

  • Tel.+6221 5020 2900
  • Fax.+6221 5020 2922
Chat Dengan Kami
Follow
Available at:
Tersedia di: