Goodbye 2019, Hello 2020!

Selamat Tahun Baru 2020 Moduers.

Tahun 2019 telah terlewati. Dinamika perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, kekhawatiran resesi, dan pemilihan Presiden Indonesia telah menjadi fokus utama sepanjang tahun 2019. Selayaknya menonton sinetron, topik utama ini terus bersambung dengan drama-drama yang memengaruhi psikologi penontonnya.

Perang dagang telah dimulai sejak Maret 2018 dengan pemberlakuan tarif impor AS dan dibalas oleh China. Pada akhirnya, $250 miliar barang dari China dan $110 miliar barang dari AS dikenakan tarif berkisar 10-25%. Pertemuan demi pertemuan telah dilakukan untuk mencari titik temu kesepakatan dan akhirnya kesepakatan awal fase 1 telah tercapai pada Desember 2019 lalu sehingga kenaikan tarif lebih lanjut dapat terhindarkan.

Selain perang dagang, kekuatiran adanya resesi mencuat pada tahun 2019 setelah beberapa negara mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif. Untuk menangani hal ini, salah satu pelonggaran kebijakan ekonomi yang dilakukan adalah penurunan suku bunga. Hal ini telah berhasil meredam penurunan ekonomi lebih dalam. AS telah melakukan 3 kali pemotongan suku bunga acuan Fed rate dari 2,50% ke 1,75%, sedangkan Bank Indonesia telah memotong suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebanyak 4 kali sebesar 100 bps dari 6,00% ke 5,00%.

Dari domestik, adanya pilpres membuat ketidakpastian meningkat seiring cukup panasnya pergerakan dinamika politik. Namun pada akhirnya situasi kembali kondusif dan berakhir happy ending.

Bagaimana kinerja pasar saham Indonesia di 2019?

Indeks saham IHSG pada tahun 2019 dibuka di level 6.197 dan ditutup di level 6.299 dengan pencatatan kenaikan sebesar +1,70% sepanjang tahun. Adapun kinerja indeks saham lainnya pada tahun 2019 LQ45 +3,23%, IDX30 +2,42%, Sri Kehati +5,78%.

Indeks sektoral yang membukukan kenaikan tertinggi adalah keuangan (+15,20%) dan industri dasar (+14,40%), sedangkan indeks sektoral yang membukukan penurunan terbesar adalah konsumer (-20,10%) dan pertambangan (-12,80%).

Salah satu penyebab penurunan pada sektor konsumer adalah kenaikan harga cukai rokok, yang mencapai 35%, dimana hal ini memberikan sentimen negatif untuk sektor konsumer. Saham terkait yaitu H.M. Sampoerna (HMSP) dan Gudang Garam (GGRM) mencatatkan kinerja negatif sebesar -43% dan -36% dan menjadi pemberat kinerja IHSG di tahun 2019 meskipun saham perbankan seperti Bank BCA (BBCA) dan Bank BRI (BBRI) mencatatkan kinerja yang baik dengan kenaikan sebesar +28,6% dan +20% di tahun tersebut.

 

Reksa Dana Saham dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
TRIM Syariah Saham+8,91%
Batavia Dana Saham Syariah+4,06%
RHB Sri-Kehati Index Fund+3,91%

 

Bagaimana kinerja pasar obligasi di 2019?

Pasar obligasi mencatatkan kinerja yang baik tahun lalu apabila dibandingkan dengan pasar saham, dengan kenaikan Indeks Obligasi BINDO sebesar 14,40%. Kinerja positif dari pasar obligasi didukung oleh kenaikan rating investasi Indonesia dari level BBB- ke BBB oleh Lembaga rating Standard & Poor (S&P). Selain itu, pemotongan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak 4 kali di tahun 2019 juga menjadi katalis positif untuk pasar obligasi Indonesia di tahun 2019. Berdasarkan teori, harga obligasi memiliki korelasi negatif terhadap suku bunga acuan. Artinya adalah, harga obligasi cenderung akan naik apabila suku bunga acuan turun dan maka dari itu keuntungan obligasi didapatkan dari kupon dan kenaikan harga.

 

Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Danareksa Melati Pendapatan Utama+16,84%
Manulife Obligasi Negara Indonesia II+13,24%
RHB Fixed Income Fund 2+12,70%

 

Reksa Dana Campuran dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Trimegah Syariah Berimbang+12,43%
Batavia Dana Dinamis+5,96%
Premier Campuran Fleksibel+5,88%

 

Bagaimana kinerja pasar uang di 2019?

Pasar uang cukup stabil. Meskipun suku bunga deposito mengalami penurunan, beberapa reksa dana pasar uang dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan deposito di bank besar.

 

Reksa Dana Pasar Uang dengan kinerja terbaik di tahun 2019 berdasarkan kinerja 1 tahun di Moduit:

Nama Reksa DanaKinerja 1 tahun berdasarkan NAB per 30 Desember 2019
Pinnacle Money Market Fund+6,74%
BNI-AM Dana Likuid+6,68%
Principal Cash Fund+6,53%

 

Bagaimana dengan tahun 2020?

Tentunya kita memasuki tahun 2020 dengan optimisme baru. Indeks Manufaktur beberapa negara besar seperti AS, China, dan Indonesia telah menunjukkan adanya kenaikan. Meskipun dinamika perkembangan perang dagang terlihat masih akan berlanjut, namun harapan tercapainya kesepakatan secara bertahap akan menjadi kunci yang akan memberikan sentimen positif ke pasar. Selain itu, dukungan kebijakan ekonomi bank sentral negara-negara besar juga akan membantu untuk menopang perlambatan ekonomi global.

Dari domestik, kami melihat upaya pembangunan infrastruktur dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) akan terus diupayakan oleh pemerintah. Di samping itu, Omnibus Law yang fokus kepada kebijakan tenaga kerja dan perpajakan yang rencananya akan ditetapkan tahun 2020 diharapkan akan membawa dampak positif ke pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan B30 untuk diesel juga diperkirakan akan membantu mengurangi impor migas dan menyerap hasil CPO yang mengalami kendala ekspor ke Eropa tahun lalu. Hal ini diharapkan akan membantu mengurangi defisit rekening berjalan (current account deficit) yang selama ini masih menjadi kekhawatiran pemerintah.

Kami melihat bahwa Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 2 kali sebanyak 50 bps di tahun 2020 apabila inflasi dapat dipertahankan dibawah 4,00% dan didukung dengan Rupiah yang stabil atau menguat. Hal ini akan menjadi katalis positif untuk pasar obligasi. Dengan imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun yang saat ini ada di level 7,07%, kami memperkirakan Reksa Dana berbasis obligasi pemerintah/korporasi jangka menengah masih dapat memberikan keuntungan 7,00-9,00% untuk tahun 2020.

Pertumbuhan laba perusahaan juga diperkirakan akan berada di kisaran 8,00-10,00% di tahun 2020, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi di 5,00-5,10%. Maka dari itu, kami memperkirakan target IHSG berada di kisaran 6.800-6.930 untuk tahun 2020. Untuk hal ini, investor dapat membagi portofolio Reksa Dana saham berbasis indeks dan konvensional/syariah.

Lakukan evaluasi portofolio secara berkala sesuai dengan profil risiko masing-masing individu dibantu oleh fitur Moduit Navigator yang selalu siap membantu mewujudkan perencanaan tujuan kamu.

Jadi tunggu apa lagi? Investasi sekarang di Moduit.

Share: