Coffee Time – Majoris Asset Management

AS dan China akan kembali mengadakan pertemuan tanggal 30 April 2019

  • Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali berlanjut setelah kedua belah pihak sepakat mengadakan pertemuan di Beijing tanggal 30 April 2019. Pihak AS akan diwakili oleh Menteri Keuangan AS Steve Munchin beserta perwakilan dagang AS Robert Lightizer dan perwakilan dari Pemerintah China yaitu Wakil Perdana Mentri China Lie He. Selanjutnya setelah diadakan pertemuan di Beijing, akan digelar pertemuan lanjutan tanggal 8 Mei 2019 di Washington. Topik diskusi dalam pertemuan ini masih membahas tentang empat hal pokok diantaranya hak atas kekayaan intelektual (intellectual rights), transfer teknologi, hambatan non-tarif terutama untuk barang-barang sektor pertanian, manufaktur, jasa dan penghapusan subsidi oleh Pemerintah China kepada beberapa barang. Pihak AS meyakini bahwa kesepatan dagang antar kedua negara akan tercapai di akhir 1H 2019 dan tercapainya kesepakatan antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi di emerging market.

Japan Credit Rating Agency menaikkan outlook Indonesia dari Stable menjadi Positive

  • Lembaga Pemeringkat asal Jepang yaitu Japan Credit Rating Agency (JCR) menaikkan peringkat utang Indonesia dari Stable menjadi Positive serta mengukuhkan rating Indonesia BBB sebagai Investment Grade pada hari Jumat 26 April 2019. Beberapa faktor yang mendorong peningkatan outlook diantaranya pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, pembatasan subsidi BBM serta pengembangan sumber daya manusia. Kenaikan outlook dari JCR menggambarkan solidnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didorong oleh konsumsi dalam negeri, defisit anggaran yang terjaga dan cadangan devisa yang terus mengalami peningkatan.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 24-25 April 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Day Reverse Repo Rate di 6.00% sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas perekonomian. Kebijakan ekonomi BI berfokus pada mempertahankan laju inflasi di kisaran 2.50 – 3.50%, perbaikan Current Account Deficit (CAD) dibawah -2.50% terhadap GDP dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan sentimen negatif di pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (22 – 26 April 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan -1.63% ditutup di level 6,401.08 dampak negatif dari pelemahan nilai tukar Rupiah ke level Rp 14,150/USD dari posisi sebelumnya Rp 14,005/USD. Meskipun IHSG mengalami penurunan, investor asing tetap membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 700 milyar yang masuk ke dalam saham-saham sektor perbankan, infrastruktur dan consumer. Secara year to date investor asing juga masih membukukan net buy sebesar Rp 13.80 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami kenaikan hanya sektor Infrastructure +0.90%, diikuti oleh Trade Services +0.57%, dan Mining +0.35%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Basic Industry -4.44%, Agriculture -4.21%, Manufacturing -3.62% dan Consumer Goods -3.58%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -1.18% didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.57% menjadi 7.77%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Mei 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN, negosiasi trade war antara AS dan China yang positif serta stabilnya data makroekonomi. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 25 April 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 21.00 triliun dan year to date sebesar Rp 70.20 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 963.40 triliun.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management