Coffee Time – Majoris Asset Management

Boris Johnson memenangkan pemilihan putaran pertama PM Inggris

  • Pasca mundurnya Theresa May sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris pada tanggal 7 Juni 2019 karena gagalnya negosiasi Brexit dengan Uni Eropa, Inggris kembali mengadakan pemilihan PM dimana ada sebelas kandidat dari Partai Konservatif yang mengikuti proses pemilihan tersebut. Boris Johnson sebagai salah satu kandidat terkuat PM Inggris memenangkan pemilihan pertama dengan meraih 114 dari 313 suara yang diperebutkan dalam pemungutan suara Partai Konservatif yang dilakukan oleh Majelis Rendah Parlemen. Di putaran selanjutnya Johnson wajib memperoleh minimal 150 dari 313 suara untuk memenangkan pemilihan dan apabila tidak tercapai akan dilanjutkan ke putaran final untuk memperebutkan suara anggota partai konservatif sebanyak 160 ribu di seluruh negeri. Beberapa hal yang akan dihadapi oleh PM baru terkait dengan skenario Brexit kedepannya diantaranya menyepakati perjanjian Brexit, Menunda Brexit untuk kedua kalinya, keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan dan menghentikan Brexit.

Adanya upgrade rating S&P memberikan sentimen positif pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (10 – 14 Juni 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar + 0.66% ditutup di level 6250.26 melanjutkan penguatan yang siginifikan di minggu sebelumnya setelah mengalami penurunan hingga menyentuh level 5,826.86. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir masih dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sentimen positif upgrade rating yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) dari BBB- menjadi BBB, menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD setelah sempat menyentuh level Rp 14,510/USD akhirnya kembali menguat ke level Rp 14,310 / USD dan valuasi IHSG saat ini cukup atraktif bagi investor asing maupun domestik untuk akumulasi di saham-saham big-cap maupun mid-cap. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing masih membukukan net sell selama week to date sebesar Rp -150 milyar dan Rp -2.40 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Property +2.79% diikuti oleh Infrastructure +1.59%, Trade Services +1.38% dan Finance +1.20%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Mining –2.07% diikuti oleh Agriculture -1.23%, Basic Industry -0.91% dan Miscellaneous Industry -0.26%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +1.70% dari akhir bulan Mei 2019 setelah adanya upgrade rating dari lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia satu notch dari BBB- (investment grade) yang sebelumnya diberikan pada bulan Mei 2017 menjadi BBB pada tanggal 31 Mei 2019 serta menjadi lembaga rating pertama yang menaikkan rating Indonesia diantara Moody’s dan Fitch. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan secara signifikan dari level yield 7.90% menjadi 7.66%. Para pelaku pasar meyakini bahwa Kenaikan rating akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi kedepannya karena akan meningkatkan capital inflow ke Indonesia. Pergerakan pasar obligasi di bulan Juni 2019 masih akan didorong oleh faktor global seperti perundingan dagang antara Amerika dan China yang masih terus berlangsung namun belum mencapai kesepakatan dan menunggu hasil FOMC Meeting yang berlangsung 20 Juni 2019 terkait dengan monetary policy kedepannya apakah akan agresif maupun moderat. Dari sisi domestik neraca perdagangan dan perbaikan current account deficit akan menjadi perhatian dari investor asing maupun lokal kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 13 Juni 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp +3.00 triliun dan secara year to date juga membukukan net buy sebesar Rp +59.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 952.20 triliun.
  • Bank Indonesia merilis cadangan devisa bulan Mei 2019 sebesar USD 120.30 milyar lebih rendah dari posisi April 2019 sebesar USD 124.30 milyar. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan enam bulan impor (standar internasional: tiga bulan impor). Penurunan cadangan devisa disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan berkurangnya posisi valuta asing di bank Indonesia karena antisipasi pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan asing dan kebutuhan karena adanya libur panjang lebaran.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management