Coffee Time – Majoris Asset Management

The Fed Kemungkinan Tidak Menaikkan Fed Fund Rate di 2019
Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting yang dilaksanakan tanggal 20 Maret 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) di level 2.50%. Di dalam FOMC tersebut Chairman The Fed Jerome Powell mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan bagi pelaku pasar dimana The Fed kemungkinan besar tidak akan menaikkan FFR di tahun 2019 sekaligus merevisi target kenaikan dua kali FFR di sepanjang tahun 2019 yang disampaikan pada akhir tahun 2018. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan The Fed untuk menahan FFR diantaranya pertumbuhan data tenaga kerja yang tumbuh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya serta pertumbuhan inflasi dan indeks manufaktur yang relatif stagnan. Selain itu The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika di tahun 2019 akan berada di kisaran 2.00 -2.40% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2018 sebesar 3.00%. Dovish statement (lebih moderat dalam menaikkan suku bunga) yang dikemukakan oleh Powell dapat menjadi katalis positif bagi pasar obligasi emerging market termasuk Indonesia yang menawarkan imbal hasil investasi yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara developed market.

 

Bank Indonesia Mempertahankan BI-7DRR di level 6.00%
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung pada hari Kamis 21 Maret 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI – 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 6.00%. Selain itu suku bunga deposit facility rate tetap di level 5.25% dan lending facility rate di level 6.75%. Keputusan tersebut diambil memperhitungkan tingkat inflasi yang stabil di kisaran 2.50 – 3.00% serta kebijakan The Fed yang tetap menahan FFR di level 2.50%. Para pelaku pasar mengapresiasi terhadap keputusan BI menahan 7-DRR karena stabilitas moneter akan tetap terjaga serta mempertahankan capital inflow di pasar saham dan obligasi domestik.

 

Statement Dovish The Fed Memberikan Sentimen Positif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (18 – 22 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.99% ditutup di level 6,525.27 melanjutkan penguatan IHSG yang terjadi pada minggu sebelumnya. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar Rp +1.30 triliun sehinggga secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 9.50 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Finance +2.27%, diikuti oleh Property +2.16%, Basic Industry +1.79% dan Infrastructure +0.62%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan hanya Agriculture -1.56% dan Consumer Goods -0.73%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +1.05% sesudah The Fed merilis pernyataan kemungkinan tidak akan menaikkan FFR di tahun 2019. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.75% menjadi 7.57%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 22 Maret 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 61.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 954.20 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Maret 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN dan SBSN di sepanjang tahun 2019.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management