Coffee Time – Majoris Asset Management

Statement Dovish dari The Fed Memberikan Sentimen Positif Emerging Market

 

  • Pada hari Jumat tanggal 4 Januari 2019 Gubernur The Fed Jerome Powell memberikan pernyataan bahwa The Fed akan lebih fleksibel dan tidak akan terlalu agresif (dovish) dalam menaikkan Fed Fund Rate (FFR) di sepanjang tahun 2019 mengacu pada ekspektasi perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) serta ekonomi global di tahun 2019 dan perang dagang dengan China yang belum mencapai titik temu kesepakatan. Hal ini berbeda dengan monetary policy tahun 2018 dimana The Fed menaikkan FFR hingga empat kali dari 1.50% di akhir Desember 2017 menjadi 2.50% di bulan Desember 2018. Statement dovish yang dikemukakan oleh Powell dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi di emerging market karena imbal hasil investasi yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan di AS.
  • Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan antara delegasi AS dan China tanggal 8 Januari 2019 di Beijing yang akan membahas tindak lanjut dari gencatan senjata yang dilakukan oleh kedua negara sampai dengan 31 Maret 2019. Beberapa hal penting yang akan dibahas diantaranya hak cipta (copyright), penjualan produk pertanian antara kedua negara dan manufaktur. Perang dagang antara AS dan China menjadi salah satu isu terbesar yang menyebabkan ketidakpastian di pasar global sepanjang tahun 2018.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir periode (31 Desember 2018 – 04 Januari 2019) mengalami kenaikan +1.29% ke level 6,274.54 dipengaruhi oleh dovish statement dari Jerome Powell. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing membukukan net buy sebesar Rp +800 milyar selama week to date. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Consumer Goods +2.98%, diikuti oleh Property +2.54%, Manufacturing +2.01% dan Mining +1.53%. Adapun sektor yang mengalami penurunan hanya sektor Agriculture -0.24%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami penurunan tipis -0.05% sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang bergerak di kisaran 7.90 – 8.00%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) sepanjang tahun 2018 di pasar obligasi domestik investor asing membukukan net buy sebesar Rp 57.20 triliun dari posisi akhir Desember 2017 sebesar Rp 836 triliun menjadi Rp 893.20 triliun di akhir Desember 2018. Nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir juga menguat dari level Rp 14,520 / USD di akhir Desember 2018 ke level Rp 14,270 / USD. Lelang SUN pertama tahun 2019 yang berlangsung tanggal 3 Januari 2019 total bid yang masuk sebesar Rp 53.85 triliun dan yang dimenangkan oleh Pemerintah sebesar Rp 20 triliun.

  • Data US-Non Farm Payroll di bulan Desember 2018 tumbuh sangat signifikan sebesar 312K lebih tinggi hampir 100% dibandingkan ekspektasi konsensus sebesar 160K. Namun solidnya pertumbuhan tenaga kerja di Desember 2018 ternyata berbanding terbalik dengan rilis data manufacturing index (PMI) di bulan Desember 2018 sebesar 51.10 (terendah sejak November 2016) lebih rendah dibandingkan November 2018 sebesar 62.10. Pelemahan sektor industri di AS merupakan dampak dari perang dagang dengan China dan adanya ekspektasi perlambatan ekonomi AS di tahun 2019.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan menjaga posisi netral namun tetap berfokus pada saham – saham blue chip. Reksa Dana akan berfokus pada beberapa sektor pilihan diantaranya Infrastructure, Finance (Banking), dan Consumer. Reksa Dana Obligasi menjaga durasi portfolio di kisaran 5.50 – 6.00 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 dengan tenor 10 tahun agar sejalan dengan pergerakan yield SUN. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Share