Coffee Time – Majoris Asset Management

Pertemuan Trump dan Xi Jinping akan berlangsung tanggal 2 Maret 2019

  • Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa tidak akan mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping hingga batas waktu negosiasi perang dagang yang berlangsung tanggal 2 Maret 2019. Pertemuan kedua pemimpin tersebut akan membahas kelanjutan perundingan tarif kedua negara yang mencakup barang-barang pertanian, manufaktur dan hak cipta atas kekayaan intelektual. Parlemen China saat ini telah membahas undang – undang Investasi asing sesuai permintaan dari Amerika yang di dalamnya berisi larangan transfer teknologi secara paksa dan meminimalisasi campur tangan negara dalam bisnis. Undang – undang tersebut akan disahkan sebelum tanggal 3 Maret 2019.

 

GDP 2018 merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa gross domestic product (GDP) Indonesia di tahun 2018 sebesar 5.17% (FY 2017: 5.07%) dan merupakan yang tertinggi sejak tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh permintaan dalam negeri diantaranya pengeluaran belanja Pemerintah dan konsumsi dalam negeri yang mencapai peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya konsumsi dalam negeri tidak dibarengi dengan peningkatan ekspor yang justru lebih rendah pertumbuhannya dibandingkan tahun 2017 dan hal ini akan menjadi perhatian Pemerintah dalam rangka menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2019.

Sumber: World Bank

  • Bank Indonesia mengumumkan posisi current account deficit (CAD) di Q4 2018 sebesar -3.57% dari GDP sehingga sepanjang tahun 2018 CAD mencapai USD 31 milyar atau setara dengan -2.98% dari GDP dan merupakan yang terendah sejak tahun 2014. Salah satu penyebab meningkatnya defisit CAD di tahun 2018 yaitu impor yang tumbuh sebesar USD 29.20 milyar lebih tinggi dibandingkan ekspor yang hanya tumbuh USD 17.64 milyar serta meningkatnya harga minyak mentah mentah dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD.

 

Capital inflow di pasar obligasi memberikan sentimen positif bagi return SUN

  • Selama sepekan terakhir periode (04 – 09 Februari 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.26% ditutup di level 6,521.66 setelah mengalami kenaikan yang signifikan dari awal bulan Januari 2019. Penurunan IHSG diikuti oleh investor asing yang membukukan net sell selama week to date sebesar -210.20 milyar namun secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp 12.50 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Infrastructure +2.35%, diikuti oleh Property +1.47% dan Trade Services +0.75. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu sektor Miscellaneous Industry -2.32%, Basic Industry -1.37%, Agriculture -1.06% dan Manufacturing -0.96%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) melanjutkan kenaikan yang terjadi di minggu sebelumnya sebesar +0.25% pasca pernyataan The Fed untuk lebih berhati-hati dalam menaikkan FFR di tahun 2019. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.90% menjadi 7.80%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 7 Februari 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 32.66 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 925.86 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi masih akan positif kedepannya didorong mulai stabilnya makroekonomi global seperti kebijakan The Fed yang lebih moderat dibandingkan tahun 2018, namun pasar juga menantikan bagaimana hasil negosiasi trade war antara Amerika dan China kedepannya. Dari sisi domestik stabilnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar dan derasnya capital inflow akan membuat posisi current account deficit membaik.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan melakukan profit taking di level IHSG saat ini dan menjaga posisi netral pada portfolio namun tetap berfokus pada saham – saham blue chip dan mid-cap dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, dan Miscellaneous Industry. Reksa Dana Obligasi akan tetap menjaga durasi di level 6.00 – 6.50 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 tenor 10 tahun agar outperformed terhadap pergerakan yield SUN. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.

 

Sumber: PT Majoris Asset Management

Share