Coffee Time – Majoris Asset Management

Kondisi Makroekonomi Global

Pemungutan suara yang dilakukan oleh anggota parlemen Inggris tanggal 16 Januari 2019 berkaitan dengan rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) menghasilkan kekalahan yang signifikan bagi Pemerintah dimana 432 anggota parlemen menolak rancangan yang diajukan oleh Perdana Menteri Theresa May dan hanya 202 anggota parlemen yang menyatakan dukungannya menjelang batas akhir perundingan Brexit tanggal 29 Maret 2019. Rancangan yang diajukan oleh Pemerintah (withdrawal agreement) yang disepakati bersama Uni Eropa (UE) mendapatkan penolakan karena beberapa faktor diantaranya mengurangi posisi tawar Inggris dalam UE meskipun Inggris masih terikat beberapa perjanjian dengan UE, menurunkan kemudahan Inggris dalam perdagangan internasional dan memberikan hambatan baru bagi global talent yang ingin bekerja di Inggris. Kekalahan yang diterima Pemerintah dalam voting tersebut menciptakan ketidakpastian karena akan ada beberapa pilihan baru kedepannya pasca kekalahan voting Pemerintah diantaranya keluar Brexit tanpa kesepakatan, penundaan pelaksanaan Brexit, mengadakan referendum Brexit yang kedua atau mengadakan pemilihan umum dan memilih Perdana Menteri dari partai oposisi.

 

Kondisi Makroekonomi Domestik

Neraca Perdagangan Indonesia bulan Desember 2018 kembali mengalami defisit USD – 1.10 milyar (November 2018: USD -2.20 milyar). Adapun untuk nilai ekspor di bulan Desember 2018 mencapai angka USD 14.20 milyar (-4.25% secara MtM), sedangkan untuk nilai impor sebesar USD 15.68 milyar (-9.60% secara MtM). Dengan demikian sepanjang tahun 2018 dari bulan Januari – Desember neraca perdagangan mengalami defisit sebesar USD 8.60 milyar yang dipengaruhi oleh tingginya impor pada minyak dan gas.

Pergerakan Pasar Saham dan Obligasi Domestik

  • Di tengah sentimen ketidakpastian isu Brexit, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir periode (14 Januari – 18 Januari 2019) kembali mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +1.36% ke level 6,448.15 melanjutkan kenaikan yang terjadi dari awal Januari 2019. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sebesar Rp 6.40 triliun selama week to date disertai nilai tukar Rupiah yang stabil di kisaran Rp 14,040 – 14,100 / USD. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Infrastructure +3.13%, diikuti oleh Mining +2.94%, Finance +2.49% dan Miscellaneous Industries +2.37%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu sektor Agriculture -0.90%, Consumer Goods -0.81% dan Property -0.18%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami penurunan -0.15% sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang bergerak sideways di kisaran 8.00 – 8.10%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 18 Januari 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 11 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 904.20 triliun. Lelang SUN yang berlangsung tanggal 15 Januari 2019 mencatatkan total bid yang masuk Rp 55.67 triliun dan yang dimenangkan oleh Pemerintah Rp 27.75 triliun. Seri yang menjadi benchmark SUN di tahun 2019 diantaranya FR 77 ( tenor 5 tahun), FR 78 (tenor 10 tahun), FR 68 (tenor 15 tahun) dan FR 79 (tenor 20 tahun).

 

Portfolio Reksa Dana Saham akan menjaga posisi netral namun tetap berfokus pada saham-saham blue chip dan mid-cap dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Mining, Consumer dan Miscellaneous Industry

Reksa Dana Obligasi menjaga durasi portfolio di kisaran 5.50 – 6.00 dengan melakukan overweight dan akumulasi pada SUN seri benchmark FR78 dan FR79 dengan tenor 10 dan 20 tahun agar sejalan dengan pergerakan yield SUN. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.

 

Sumber: PT. Majoris Asset Management

Share